KEMPALAN: Anies Baswedan, Gubernur DKI Jakarta, membawa pasir sebagaimana diminta oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi), bersama dengan kepala daerah lainnya, saat berkemah di ibu kota negara (IKN), yang diberi nama Nusantara. IKN rencana akan dibangun di Penajam Paser, Kalimantan Timur. Tanah dari 33 provinsi akan diletakkan dalam kendi besar dari tembaga, yang disimbolkan sebagai lambang persatuan. Jokowi sedang bermain simbol, yang tentu filosofinya bisa digatuk-gatuk sesukanya.
Maka, setiap kepala daerah memilihkan tanah terbaik di wilayahnya. Bahkan pilihan pada tanah yang “dikeramatkan”, yang bisa jadi berbau mistis. Sebagaimana Ganjar Pranowo, Gubernur Jawa Tengah, yang memilihkan tanah terbaik versinya. Ganjar merahasiakan dari mana tanah dan air itu ia ambil. Tapi ia membocorkan juga, bahwa dua benda itu ia ambil dari sejumlah gunung di Jawa Tengah yang diyakininya sebagai puser bumi, atau pusatnya dunia. Itu setelah ia berkonsultasi dengan para sesepuh Jawa.
Apa benar puser bumi ada di Jawa Tengah, tentu perlu penelitian ilmiah. Bukan karena ada di Jawa bagian Tengah lalu disimpulkan sebagai pusatnya dunia. Meski yang bicara itu para sesepuh atau orang pintar, tentu tidak serta merta bisa dibenarkan klaimnya itu. Ganjar bicara sarat pada mistis Jawa, yang itu irrasional.
Tapi biarlah suka-sukanya pada pilihannya. Seseorang tidak terlepas dari pilihan yang diyakininya, meski tetap dituntut rasional. Tapi irrasional pun pada kalangan tertentu “dipaksa” dianggap rasional, meski nalar kebanyakan sulit bisa memahami.
Sedang Anies Baswedan, Gubernur DKI Jakarta, membawa tanah dari Kampung Akuarium di wilayah Jakarta Utara. Memilih mengambil tanah dari tempat itu, bukan asal-asalan. Tentu ada peristiwa yang melatarbelakangi. Bukan mistis, tidak pula dimistis-mistiskan. Kampung Akuarium baru “merdeka”. Penduduknya baru bernafas lega, setelah sebelumnya mereka tergusur dari daerahnya. Digusur oleh kesewenang-wenangan penguasa, bukan kompeni pada zaman Belanda.
Adalah Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), Gubernur sebelum Anies, yang menggusur warga di sana. Dan Anies kebagian membangunkan rumah susun Kampung Akuarium, yang representatif sebagai hunian sehat bagi warga yang tergusur itu. Berbahagialah mereka yang tergusur mendapatkan hunian yang layak. Seakan mereka merasakan suasana merdeka sebenarnya.
Dipilihnya tanah dari Kampung Akuarium oleh Anies, tentu sarat makna. Dan itu simbol keberpihakan pada wong cilik. Diharapkan tanah dari Kampung Akuarium bisa mencipta kebahagiaan dan kemajuan bagi seluruh warga penghuni ibu kota baru nantinya. Tidak berharap warga kelas tertentu saja sebagai penghuninya.
Seolah itu simbol dipilihnya tanah dari Kampung Akuarium. Hadirnya keadilan bagi semua. Anies tampak bermain simbol, dan itu tetap rasional. Sebuah pengharapan manusiawi untuk kesejateraan semua pihak. Tidak terbatas pada golongan tertentu. Itulah simbol yang dihadirkannya.
Simbol yang dihadirkan Anies punya nilai filosofis, yang tidak bisa dimaknai politis. Tapi jika tampak ekstrem dan ditarik pada politik, itu sah-sah saja. Bukankah Anies selalu dimaknai dengan tidak semestinya. Tapi memang jelas pesan yang dibawa Anies itu. Perlawanan atas kesewenang-wenangan pada semua aspek. Pembangunan mesti bertumpu pada keadilan. Dengan demikian kesejahteraan bagi semua pihak akan bertumbuh. Itulah pengharapannya. Cakep.
Miniatur Keadilan
Dari Kampung Akuarium itu miniatur keadilan ingin ditularkan Anies. Sebuah pengharapan yang lebih luas bagi Indonesia sejahtera. Mustahil bicara keadilan yang lebih luas, jika tidak dimulai menghadirkan keadilan dalam skup kecil, yang terlihat di depan mata. Kampung Akuarium bisa jadi role model hadirkan keadilan sesungguhnya.
Sebagaimana ungkapan Anies dalam akun Facebook-nya, Minggu (13/3), bisa menjelaskan pilihannya atas tanah Kampung Akuarium.
“Tanah Kampung Akuarium menghadirkan harapan bahwa pembangunan kota baru yang akan dijadikan ibu kota ini hendaknya tidak memarjinalkan rakyat kecil dan justru nyata-nyata akan memberikan kemajuan dan kebahagiaan bagi semua, khususnya rakyat kebanyakan.”
Nafas kehidupan dan kebahagiaan masyarakat di Kampung Akuarium, itu simbol bahwa negara hadir. Itulah sebenarnya cita-cita pendiri bangsa: menghadirkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
Tanah dari Kampung Akuarium tidak sekadar simbol gagah-gagahan yang tak bermakna, atau bahkan irrasional yang dipaksakan. Tapi lebih pada “suara lantang” keberpihakan menghadirkan keadilan sosial sesungguhnya. Anies mengajarkan dan sekaligus menghadirkan keadilan sosial bagi warganya. Itulah hakekat keadilan sesungguhnya. Anies memang keren. (*)
Editor: Muhammad Tanreha

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi