Publik di media sosial mengira kehadiran mereka akan show of force di event mode sekelas PFW ini. Tidak menunggu lama, teknologi informasi memang telah menunjukkan kelas kemauannya. Khalayak-pun akhirnya ngeh dan muncul klarifikasi bahwa memang bukan di event PFW, tapi fashion show during PFW.
Dalam tinjauan konsep dasar ekonomi dan pemasaran, keberangkatan brand-brand lokal ke Paris ini dapat dipahami sebagai salah satu variabel dalam strategi pemasaran, baik 4P ataupun 7P dalam marketing mix; product, price, place, promotions, people, process, physical evidence. Dalam bahasa yang lebih populer, bauran pemasaran dapat dilakukan melalui 4 atau 7 hal tersebut.
Mendekatkan dan memperkenalkan diri ke publik dapat dilakukan melalui identifikasi dan kualitas produknya, harganya, lokasi usahanya, keragaman promosinya, juga sumber daya manusia yang berkelas pengelola usaha tersebut, proses pelayanan terhadap pelanggan, serta tampilan fisik tempat usahanya.
Mencermati pemahaman singkat dan sederhana ini, keberangkatan keseluruhan brand lokal tanah air ke Paris boleh dipandang sebagai bentuk promosi. Upaya memperkenalkan diri dan eksistensi product. Tentu menjadi lebih berdaya guna dan berhasil guna apabila dilakukan dengan melekatkan diri ke ajang PFW ini. Apapun yang terjadi dan istilahnya, sekarang nama-nama brand lokal tersebut menjadi lebih sering disebut publik di media sosial dan lebih dikenal.
Begitulah PFW yang mungkin tidak menyadari bahwa event-nya cukup meriah dengan berbagai komentar di media sosial tanah air. Seandainya PFW terjadi di masa Siti Nurbaya tentu tidak akan se-heboh ini karena teknologi masih begitu kuno. Sayangnya, PFW terjadi di masa Siti Badriah di era Siti Nurhaliza disaat teknologi informasi sudah jauh terbang tinggi, tentu semuanya menjadi gampang diketahui dan dipahami.
Seru berbagai adu argumen dengan pembenarannya sendiri-sendiri. Pertanyaannya sekarang adalah, dari 7P dalam marketing mix ini, manakah yang paling dominan mempengaruhi dan mengganggu pikiran masyarakat atas sebuah produk? Salam. (Bambang Budiarto – Dosen Ubaya, Pengamat Ekonomi ISEI Surabaya, Redaktur Tamu Kempalan.com)
Editor: Freddy Mutiara

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi