MUMBAI-KEMPALAN: Debut timnas putri Indonesia dalam ajang AFC Women’s Asian Cup di Mumbai, Jumat (22/1) berakhir dengan tragis.
Menghadapi Australia yang merupakan finalis di turnamen ini pada edisi 2018 yang lalu, timnas putri Indonesia dibantai dengan 18 gol tanpa balas.
Kalah dengan kebobolan 18 gol itu jadi rekor kekalahan terbesar Garuda Pertiwi (sebutan untuk timnas putri Indonesia) sepanjang sejarah. Skor tenis yang melebihi skor kekalahan Indonesia di dalam ajang-ajang resmi sebelumnya.
Kali terakhir, skor tenis tersebut terjadi pada Piala AFF 2011 ketika Indonesia berhadapan dengan Vietnam di Vientiane, Laos. Ketika itu, Indonesia menelan kekalahan telak dengan skor 14-0.
Dalam ajang SEA Games, Indonesia pernah mencatatkan kekalahan terbesar juga.
Tepatnya saat lagi-lagi Vietnam yang menjadi kunci kekalahan terbesar bagi Indonesia. Di dalam multi event sekelas SEA Games 2005 yang berlangsung di Marikina, Filipina, delapan gol yang berhasil diciptakan Vietnam ke gawang Indonesia.
Dalam jumpa pers virtual, nahkoda timnas putri Indonesia Rudy Eka Priyambada memilih untuk mengambil sisi positif dari kekalahan memalukan Ade Mustikiana dkk tersebut.
’’Dari kekalahan ini kami bisa mengetahui kelemahan tim ini dan itu akan kami perbaiki untuk laga selanjutnya,’’ ungkap Rudy.
Banyak hal yang jadi fokus Rudy sebelum menyiapkan timnya untuk laga selanjutnya melawan Thailand, Senin (24/1). ’’Saya melihat kami sering panik ketika menguasai bola,’’ sebut Rudy. Pelatih Tira Persikabo itu menyebut bahwa bukan prestasi semata yang dia cari dalam turnamen ini.
Karena masih debut, Rudy lebih suka menganggap turnamen ini sebagai bahan pemainnya untuk menambah pengalaman dan jam terbang dalam ajang internasional.
’’Dalam turnamen ini, paling banyak saya inginkan adalah pemain kami mendapatkan pelajaran dari Piala Asia Putri kali ini,’’ harap Rudy.
Selain itu, mental pemain mudah runtuh setelah lawan menciptakan gol cepat. Australian sudah mencetak satu gol ketika laga baru berjalan sembilan menit.
Setelah gol cepat itulah konsentrasi pemain-pemain Indonesia jadi buyar. ’’Pemain susah mengontrol bola, mereka pun jadi gampang kehilangan ketenangan,’’ keluh Rudy. (Yunita Mega Pratiwi)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi