KEMPALAN: Banyak dari para pembaca pasti mengenal nama Soe Hok Gie, terutama para aktivis yang membaca buku hariannya yang diterbitkan LP3ES dengan judul Catatan Seorang Demonstran. Jika ingat dengan Soe Hok Gie, pastinya ingat pula dengan kakaknya, Soe Hok Djin, atau kerap dikenal sebagai Arief Budiman.
Nama Arief Budiman mulai naik daun ketika ia turut menandatangani Manifes Kebudayaan (Manikebu) yang head-to-head dengan Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra). Ia juga merupakan salah satu aktivis angkatan 66 dan pencetus Golongan Putih (Golput) sebagai gerakan melawan kekuasaan Suharto bersama Golongan Karya (Golkar).
Arief adalah aktivis sosial lulusan Universitas Harvard yang memiliki ketertarikan pada isu-isu sosial dan berpandangan sosialis. Ia meraih gelar doktor dengan mengkaji keadaan Cile di bawah Presiden Salvador Allende yang berhaluan Marxis/Sosialis. Dalam bukunya itu, Arief mengulas masa kepemimpinan Allende mulai dari prakondisi hingga akhir dari Allende di tangan militer. Sang presiden mati tahun 1973 ketika ada kudeta militer di bawah Augusto Pinochet.
Sebagai seorang intelektual, Arief juga aktif menulis di jurnal Prisma serta menorehkan beberapa buku seperti Kebebasan, Negara, dan Pembangunan; Negara dan Pembangunan: Studi tentang Indonesia dan Korea Selatan; Pembagian Kerja Secara Seksual; Teori Pembangunan Dunia Ketiga; Teori Negara: Negara, Kekuasaan, dan Ideologi; Chairil Anwar: Sebuah Pertemuan; dan Jalan Demokratis ke Sosialisme yang diangkat dari disertasinya.
Selain karya-karya di atas, ia juga pernah membidani lahirnya buku Aktor Demokrasi yang ia tulis bersama akademisi asal Norwegia, Olle Tornquist. Dalam buku tersebut, keduanya mengulas tentang gerakan sosial di Indonesia dari tahun ke tahun.
Sebagai akademisi, alumni Sosiologi Universitas Harvard ini pernah mengampu di sejumlah perguruan tinggi seperti Universitas Kristen Satya Wacana dan Universitas Melbourne. Ia juga aktif menjadi redaktur dan dewan pembina majalah Horison serta anggota Dewan Kesenian Jakarta. Arief bahkan pernah berkarir di Badan Sensor Film.
Soe Hok Djin mendapatkan Bakrie Award bidang penelitian sosial. Penghargaan ini disponsori oleh Bakrie dan Freedom Institute. Arief terpilih “karena perannya dalam menghidupkan perdebatan tentang pilihan model pembangunan Indonesia di sepanjang tahun 1980an, yang jejak-jejaknya masih terasa hingga hari ini.”
Intelektual cum aktivis ini lahir di Jakarta, 3 Januari 1941, tepat hari ini pada 81 tahun yang lalu. (Reza Hikam)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi