Dalam novel ini ada tokoh antagonis, seorang misionaris Amerika bernama Waller yang keras kepala, menganggap bangsa Asia bodoh, dan bertekad menyebarkan agama Kristen dengan cara apa pun. Karakter Waller ini mewakili gambaran orang kulit putih yang congkak dan merasa superior.
Dikisahkan, Charlie yang saat itu sedang berada di Mesir bertemu dengan Sayyid Omar dan Waller. Tujuan mereka kebetulan sama yakni menuju Asia Timur. Karl May bersama Sayyid Omar bertualang ke Asia Timur untuk mengetahui wilayah-wilayah Asia.
Sedangkan, Waller berambisi menundukkan seluruh bangsa Asia yang dianggapnya bodoh, kafir, dan penyembah berhala. Ia tak segan menyerang siapa pun yang tidak menganut agamanya. Waller juga berniat membakar seluruh tempat ibadah di wilayah Asia.
Ambisi Waller didukung oleh semangat kolonialisme yang berkembang pesat pada 1900. Bangsa Eropa tak hanya ingin mengeksploitasi kekayaan Asia, tapi juga ingin menyebarkan agama Kristen sebagai bentuk kedigdayaan peradaban Eropa.
Dalam perjalanannya Waller bertemu Fu seorang penganut konfusianisme. Fu berusaha menjelaskan persamaan antara ajaran Kristen, Konfusius, dan seluruh agama kepercayaan yang ada di seluruh bumi. Inti kesamaan ajaran tersebut, menurut Fu, “Takutilah Tuhan, sayangi sesama, dan hormati semua orang”.
Bukan hanya Waller yang menganggap bahwa bangsa Timur kafir dan bodoh dalam segala hal, melainkan hampir seluruh bangsa Eropa beranggapan demikan. Ini tentu membuat Karl May gusar. Karl May pun membongkar sisi jahat kolonialisme yang paling berbahaya yaitu menyebarkan prasangka untuk mengamankan kepentingannya.
Bagi Karl May prasangka adalah penyakit yang mematikan, karena dapat menghancurkan persatuan umat manusia. Jika prasangka dapat dimusnahkan, maka akan tercipta kedamaian di bumi. Itulah misi utama May.
Nilai-nilai perdamaian yang dibawa May lebih banyak bertumpu pada nilai Kristen. Meski demikian, ia berusaha menampilkan nilai-nilai yang universal. Ia menjadikan ceritanya sebagai alat untuk menyebarluaskan nilai-nilai perdamaian, persahabatan, pengampunan, dan toleransi.
Karl May mengakui potensi agama lain seperti konfusianisme dan Islam. Melalui tokoh Sayyid Omar, Karl May mengungkap nilai-nilai Islam yang egaliter dan demokratis. Melalui tokoh Sayyid Omar terungkap potensi Islam sebagai kekuatan besar yang masih tidur.
Karl May bercerita dengan sangat detail mengenai negara-negara di Timur. Kecekatannya dalam bercerita dan menggambarkan detail sangat mengagumkan, meskipun Karl May tidak pernah benar-benar melakukan petualangan di negara-negara itu. Ia mengumpulkan bahan-bahan dari ensiklopedia, kamus, buku-buku tentang geografi, etnologi, kamus ilmiah, peta, serta laporan dari para pengelana.
Petualangan Karl May memberi pelajaran penting bagi umat manusia, tidak terkecuali bagi manusia Indonesia. Penyakit prasangka masih belum hilang dari dunia. Ada kesombongan, kecongkakan, sikap sok kuasa, meremehkan orang lain, dan ingin menghabisi orang lain.
Itu adalah sikap-sikap jahat warisan kolonial yang masih tetap hidup sampai sekarang. Kekuatan politik yang sedang berkuasa menjalankan pemerintahan dengan sikap sok kuasa dan ingin menihilkan mereka yang dianggap tidak sejalan.
Karl May berusaha menghidupkan sikap toleran dan lapang dada dalam perbedaan, baik budaya, agama, maupun warna kulit. Novel ini tidak hanya menghibur tapi juga memberi semangat baru untuk menghadapi kehidupan, yang hingga kini masih diliputi rasa prasangka dan curiga.
“Bawalah warta gembira ke seantero dunia
Tetapi tanpa mengangkat pedang tombak,
Dan jika engkau bertemu rumah-ibadah,
Jadikanlah ia perlambang damai antarumat.
Berilah yang engkau bawa, tetapi bawalah hanya cinta,
Segala lainnya tinggalkan di rumah.
Justru karena ia pernah berkorban nyawa,
Dalam dirimu kini ia hidup selamanya.” (*)
Editor: Reza Maulana Hikam

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi