Semakin lama bumi semakin tidak kondusif untuk ditinggali. Bumi sekarang sudah masuk dalam kategori ‘’The Uninhabitable Earth’’ tempat yang sudah tidak layak huni. Itulah yang diingatkan oleh David Wallace-Wells, wartawan senior dan pemerhati lingkungan.
Dalam ‘’The Uninhabitable Earth’’ (2020) Wallace-Wells menelusuri sejarah penghidupan umat manusia, dan menyimpulkan bahwa ‘’kiamat sudah dekat’’ dan hal itu akan terjadi lebih cepat dari yang kita perkirakan.
Musk percaya bumi akan hancur disedot oleh kekuatan matahari. Hal itu bisa terjadi di masa mendatang dalam kurun waktu panjang, bisa miliaran tahun. Tetapi, Wallace-Wells mengatakan kehancuran bisa terjadi jauh lebih cepat.
Berawal dari era pertanian, menetap, beternak yang berlanjut dengan adanya revolusi industri hingga era globalisasi saat ini, manusia secara sadar dan tidak–seringnya tidak–telah menghasilkan emisi karbon yang memanaskan bumi dari tahun ke tahun.
Prediksinya adalah jika suhu bumi naik lima derajat Celsius dari saat ini, maka bumi ini tidak bisa ditinggali lagi oleh manusia. Bumi akan menciptakan fenomena ‘’Panas Maut’’. Panasnya udara membuat manusia butuh pendingin dan hidrasi tubuh, karena ginjal kita bisa rusak ketika dehidrasi. Maka kita menggunakan pendingin udara atau AC. Pendingin udara saat ini sudah memakan 10 persen dari penggunaan listrik dunia, yang emisi karbonnya berkontribusi terhadap bertambah panasnya udara. Seperti sebuah siklus yang tidak bisa kita hindari.
Kelaparan akan menjadi ancaman yang serius. Saat ini suhu udara rata-rata di bumi sudah optimal bagi kehidupan jenis tanaman padi-padian, gandum, dan jagung. Penambahan suhu di atasnya akan mempengaruhi pertumbuhan, mengurangi kandungan gizi, dan menurunkan angka panennya. Di sisi lain, jumlah manusia terus meningkat tiap tahunnya.
Permukaan air akan naik dari tahun ke tahun karena pemanasan global. Kota-kota yang berada di tepi pantai akan terancam tenggelam. Sebuah prediksi menyebutkan bahwa Jakarta akan tenggelam dalam 10 tahun ke depan.
Kebakaran hutan adalah ancaman serius. Bila pohon mati, baik karena alasan alami, karena api, atau ditebang manusia, maka pohon akan melepaskan karbon ke atmosfer. Kebakaran hutan merupakan umpan balik iklim yang paling ditakuti, karena ketika harusnya hutan berfungsi menyerap karbon ketika kebakaran malahan menjadi sumber karbon yang telah diserapnya. Indonesia yang lahannya mayoritas gambut disebut memiliki risiko lebih besar untuk kebakaran.
Bencana Tak Lagi Alami. Dalam dunia yang empat derajat lebih panas, ekosistem bumi akan dipenuhi banyak sekali bencana alam. Kemampuan adaptasi manusia termasuk yang paling hebat dibanding spesies lain di bumi sehingga kita mulai terbiasa dengan bencana, kita bahkan menyebutnya dengan istilah ‘’new normal’’. Berbagai bencana yang setiap hari terjadi di Indonesia harus diterima sebagai sebuah new normal.
Air akan semakin berkurang. Jumlah manusia yang terus bertambah menyebabkan kita mulai berlomba-lomba mengambil cadangan air dalam tanah atau akuifer. Laut akan sekarat karena hancurnya biota laut dan terumbu karang akibat limbah manusia.
Haji Romli sering menasihati Fandy bahwa kerusakan di muka bumi ini terjadi karena tangan manusia. H. Romli lalu menyebut sebuah ayat dalam Alquran. Elon Musk, Wallace-Wells, dan Haji Romli, dengan cara yang berbeda, mengingatkan kita bahwa kiamat memang sudah dekat. (*)
Editor: Reza Maulana Hikam

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi