Di Eropa, gerakan politik sayap kanan yang konservatif semakin menguat menentang pengekangan yang berkepanjangan. Para aktivis gerakan kiri juga menentang pengekangan. Pertemuan dua arus kuat ini bisa menimbulkan persoalan politik yang serius di Eropa.
Di Indonesia, kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah juga mengalami erosi, karena munculnya kasus bisnis PCR yang dianggap telah menggarong puluhan triliun uang rakyat. Pemerintah dianggap terlibat dalam bisnis itu, atau setidaknya tidak tegas dalam menangani kasus itu.
Dugaan keterlibatan Luhut Panjaitan dan Erick Thohir–yang nota bene adalah dua orang kepercayaan Jokowi—membuat kredibilitas pemerintah tergerus di mata rakyat. Desakan dari beberapa kalangan agar pemerintah mengusut kasus itu tidak mendapatkan respons yang memuaskan.
Kalangan menengah–yang menjadi tulang punggung civil society–tidak mendapatkan penyaluran aspirasi yang memuaskan. Sementara penyaluran lewat oposisi resmi menemui jalan buntu. Oposisi formal praktis mati suri. Suara kritis dari parlemen nyaris tak terdengar. Kalau pun ada suara protes atau interupsi akan diabaikan atau mike dimatikan.
Suara arus bawah yang diwakili oleh aktivis buruh masih terdengar meskipun agak lamat-lamat. Beberapa demonstrasi yang dilakukan aktivis buruh tidak secara langsung menyasar ke kebijakan penanganan pandemi, karena gerakan buruh lebih sekarang lebih fokus pada tuntutan kenaikan upah minimum daerah.
Beberapa waktu terakhir gerakan buruh muncul serentak di berbagai daerah. Gerakan ini bisa menjadi luas karena respons pemerintah dianggap tidak terlalu memuaskan. Said Iqbal–salah satu pemimpin buruh yang sekarang menjadi ketua umum Partai Buruh Indonesia—menyatakan akan melakukan demo yang lebih besar supaya aspirasi buruh didengar.
Gerakan mahasiswa juga masih terjadi sporadis dan belum terkoordinasi secara masal. Pembatasan aturan selama pandemi membuat gerakan mahasiswa mudah dipatahkan. Gerakan protes digital yang dilakukan beberapa mahasiswa di beberapa perguruan tinggi terkemuka juga bisa dihentikan dengan relatif mudah.
Semua pintu protes sudah diportal dengan ketat. Arus atas yang diwakili oposisi formal di parlemen sudah diamankan. Arus tengah yang diwakili civil society dan gerakan mahasiswa sudah dijaga dengan ketat. Arus bawah yang diwakili gerakan buruh sesekali masih menemukan momentum untuk bergerak.
Serbuan gelombang ketiga pandemi memunculkan gerakan demonstrasi luas di Eropa. Gerakan ini sangat mungkin akan memengaruhi gerakan yang sama di banyak negara. Sampai sekarang di Indonesia belum ada indikasi munculnya protes seperti di Eropa.
Indonesia sudah bersiap-siap menerapkan PPKM level tiga pada libur Natal dan tahun baru ini. Seluruh Indonesia akan diterapkan pembatasan level yang sama. Sejauh ini tidak ada tanda-tanda munculnya protes atau penolakan. Tetapi, Presiden Joko Widodo mengatakan bahwa ada indikasi akan ada penolakan terhadap penerapan PPKM nasional kali ini.
Kalangan buruh sudah merencanakan akan mengadakan demontrasi besar-besaran secara nasional akhir November ini. Kenaikan upah minimum yang hanya 1,09 persen membuat buruh kecewa. Said Iqbal mengatakan bahwa kali ini enam konfederasi buruh besar di seluruh Indonesia siap bergabung dalam demonstrasi.
Gerakan ini akan fokus pada tuntutan kenaikan upah minimum. Tetapi, tidak tertutup kemungkinan agenda gerakan akan meluas pada penolakan rencana PPKM nasional. Gerakan arus bawah buruh ini juga sangat mungkin diikuti oleh gerakan arus tengah sehingga memunculkan gabungan arus yang lebih besar. (*)
Editor: Reza Maulana Hikam

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi