Publik mempertanyakan bagaimana seorang pejabat tinggi Partai Komunis Vietnam menikmati makanan mahal seperti itu, padahal Vietnam sekarang tengah gencar melakukan kampanye anti-korupsi dan menghukum pelaku korupsi dengan hukuman berat.
Rakyat Vietnam bereaksi dengan caranya yang khas. Ada seorang penjual mi daging sapi yang kemudian membuat parodi dengan gaya tabur garam ala Salt Bae. Penjual mi itu, Bui Tuan Lam, mengunggah video itu ke akun medsosnya dan langsung menjadi viral nasional. Dalam video itu Lam menunjukkan gayanya mengiris daging sapi rebus dan menaburkan daun bawang ke dalam semangkuk sup mi dengan gaya Salt Bae.
Warung mi daging sapi milik Lam langsung ramai dikunjungi orang karena tertarik dan penasaran oleh gaya Lam. Marketing gimmick ala Lam ini disukai puluhan ribu orang karena dianggap cerdas dan lucu. tapi, bagi penguasa komunis Vietnam gaya Lam ini dianggap sindiran terhadap kasus Menteri To Lam di resto Salt Bae.
Aparat keamanan Vietnam langsung menciduk Lam dan menginterograsinya. Lam mengelak tuduhan dirinya menyindir sosok tertentu dengan gaya parodi itu. Menurutnya, dia melakukan itu sekadar untuk bersenang-senang untuk mengisi konten media sosialnya.
Di negara komunis seperti Vietnam protes terhadap gaya hidup mewah di tengah ketimpangan sosial tidak bisa dilakukan secara terbuka. Tetapi di Thailand, protes terhadap gaya hidup hedonistis yang serba extravaganza yang dijalani oleh keluarga kerajaan telah memicu demonstrasi besar selama berbulan-bulan.
Raja Thailand Maha Vajiralongkorn dikenal dengan gaya hidup mewah yang berlebihan. Gaya hidupnya sangat berbeda dengan ayahnya, Raja Bhumibol Adulyadej yang sederhana dan merakyat. Raja Bhumibol sangat dicintai rakyatnya karena keserderhanaannya. Raja Vajiralongkorn sekarang dibenci rakyat karena gaya hidupnya yang kelewat mewah.
Sang raja dikabarkan pelesir ke Jerman Senin (15/11) dengan rombongan 250 orang dan juga 30 ekor anjing pudel dan telah memesan seluruh lantai Hotel Hilton bandara Munich selama 11 hari. Sebelumnya, Raja Vajiralongkorn juga sempat berdiam lama di Bavaria. Ia tinggal di sebuah vila di Danau Starnberg pada puncak protes anti-pemerintah Thailand tahun lalu.
Ribuan pengunjuk rasa mengepung istana raja di Bangkok menuntut reformasi sistem monarki yang dianggap bobrok. Para pengunjuk rasa berbaris membawa poster bertuliskan “Tidak Ada Monarki Absolut”.
Mereka tidak menuntut pembubaran sistem monarki tapi menghendaki reformasi supaya tidak berakhir menarik Thailand menjauh dari demokrasi dan kembali ke monarki absolut. Begitu penegasan para demonstran.
Protes semacam ini di Thailand sebenarnya hal yang tabu. Negeri itu memiliki undang-undang ‘’Lese Majeste’’ yang bisa menerapkan hukuman hingga 15 tahun bagi mereka yang mengritik monarki. Tapi, gaya hidup arogan dan extravaganz yang dipamerkan oleh elite politik dan kroninya membuat rakyat nekat turun ke jalan dan menuntut perubahan.
Di Vietnam masih banyak rakyat yang miskin, di Thailand juga demikian. Di Indonesia rakyat kebanyakan hanya bisa makan roti goreng odading kelas Mang Soleh. Tapi, sebagian lainnya hidup bermewah-mewah dengan memborong makanan di Salt Bae.
Rakyat Thailand yang gerah akhirnya turun ke jalan menuntut perubahan. Gerakan seperti ini bisa terjadi di Vietnam, dan di mana pun, termasuk di Indonesia. (*)
Editor: Reza Maulana Hikam

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi