Sabtu, 11 Juli 2026, pukul : 11:28 WIB
Surabaya
--°C

Bupati Ngapak

Orang Banyumas dikenal dengan budaya ‘’cablaka’’ atau ‘’thok melong’’ yang dalam bahasa Jawa disebut ‘’blakasuta’’. Cablaka memiliki arti kepribadian yang selalu mengedepankan keterusterangan atau kejujuran, baik dalam berbicara maupun bertindak. Cablaka dan thok melong berarti orang Banyumas selalu berkata apa adanya dan tidak suka menyembunyikan sesuatu.

Budaya Cablaka ini mempunyai kesamaan dengan budaya Samin yang berkembang di wilayah Blora dan Tuban di Jawa Timur. Pada masa perjuangan kemerdekaan, seorang pengamal kejawen Samin Suryosentiko mengajarkan ajaran kejujuran dan keterusterangan kepada murid-muridnya.

Gerakan Samin awalnya hanya terbatas pada lingkungan kecil, tapi kemudian berkembang luas di banyak daerah, dan bahkan kemudian menyebar sampai ke wilayah Purwokerto dan Banyumas. Gerakan moral ini menjadi gerakan perlawanan terhadap penjajah Belanda, karena para pengikut Samin melawan dengan menolak membayar pajak.

Karena gerakan ini makin meluas, penjajah Belanda kemudian membuang Samin Suryosentiko ke luar Jawa dan ajarannya dilarang. Murid-murid Samin Suryosentiko tetap melanjutkan ajaran ini secara diam-diam dan mendapat penganut yang makin luas.

Bupati Achmad Husein boleh saja jadi bahan lelucon karena keluguan dan kepolosannya. Tetapi, Bupati Husein tidak sedang bersandiwara. Itulah ciri khas cablaka dan thong melong Banyumas. Dia berterus terang bahwa dia takut kena OTT meskipun dia sudah bersungguh-sungguh jujur dalam mengelola keuangan daerah.

BACA JUGA  Mengapa Penderita NPD Tidak Betah di Hubungan yang Nyaman

Di balik keluguan itu tersirat Husein menyindir KPK juga. Mungkin banyak OTT yang bocor dan diberitahukan dulu kepada calon korban, sehingga bisa meloloskan diri. Husein mungkin mendengar ada orang-orang yang punya ‘’jalur’’ ke KPK sehingga bisa dapat bocoran jika ketika akan ada OTT.

Husein pasti mendengar ada kasus penyidik KPK Stepanus Robin Patuju yang menerima suap sampai total Rp 11 miliar karena ‘’mengurus’’ lima perkara dalam setahun. Robin Patuju terlibat jual beli kasus yang sedang ditangani, dan dia mempunyai jalur ke lingkaran dalam KPK.

Husein pasti mendengar anggota DPR RI Azis Syamsuddin yang mempunyai jalur ke lingkaran KPK, dan diduga menyuap Robin Patuju untuk menghentikan kasusnya di Lampung. Azis diduga bukan hanya ‘’memelihara’’ Robin Patuju tapi punya banyak ‘’peliharaan’’ di dalam.

BACA JUGA  Karma Instan yang Dialami Penderita NPD Sepanjang Hidup

Husein pasti mendengar nama Lili Pintauli, komisioner KPK yang diduga membocorkan informasi kepada walikota Tanjungbalai M. Syahrial yang sedang terjerat kasus korupsi. Lili malah dikabarkan merekomendasikan seorang pengacara kepada Syahrial untuk mengurus kasusnya.

Mungkin Husein–dengan kepolosan dan keluguannya–ingin supaya Lili Pintauli, atau komisioner KPK lainnya, memberi perlakuan yang sama kepada para calon korban OTT lainnya. Sebelum melakukan OTT mbok dikasih bocoran dulu. Begitu logika polos Husein.

Tindakan pembocoran itu legal atau tidak? Mungkin Husein bingung. Kalau dianggap ilegal mengapa Lili Pintauli tidak diberi sanksi berat, cuma dipotong gaji? Mungkin kultur polos dan jujur Husein menyimpulkan bahwa tindakan pembocoran Lili itu legal, atau setidaknya bukan pelanggaran serius.

Bupati Husein mungkin menjadi lelucon nasional karena logat ngapak yang lugu. Tapi, Bupati Husein tidak perlu malu, karena ia sudah berbicara jujur.

Dengan keluguan khas ala Samin itu Husein justru menampol muka KPK. Harusnya KPK yang malu oleh kepolosan Bupati Ngapak. (*)

Editor: Reza Maulana Hikam

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.