Bagi seorang Haedar Nashir yang selalu santun dalam komunikasi politik kalimat-kalimat itu adalah pukulan telak yang langsung diarahkan ke muka. Menyebut elite politik negeri sebagai belum akil balig sama saja dengan menyebutnya sebagai anak kecil yang belum berakal. Rocky Gerung pasti sudah menyebut elite itu dungu. Tapi, Haedar cukup menyebutnya belum akil balig.
Klaim Yaqut memantik banyak reaksi keras. KH Anwar Abbas, pengamat sosial keagamaan yang juga anggota MUI (Majelis Ulama Indonesia) mengecam Yaqut dan mendesak pemerintah membubarkan Departemen Agama yang dianggap sering membuat gaduh.
PBNU (Pengurus Besar Nahdlatul Ulama) sendiri malah risih dengan pernyataan Yaqut. Sekretaris Jenderal PBNU Helmy Faishal Zaini menganggap Yaqut tidak bijaksana dan tidak pas dengan pernyataannya itu.
Helmy berpendapat Kemenag bukan hanya milik umat Islam ataupun warga NU, karena semua kelompok berperan dalam pendirian bangsa Indonesia. Pernyataan Yaqut itu oleh Helmy dianggap tidak pas dan kurang bijaksana dalam perspektif membangun spirit kenegarawanan.
Helmy menegaskan NU tak berambisi menguasai Kemenag. NU berprinsip siapapun boleh memimpin asal membawa kemaslahatan dan kesejahteraan. Dia memahami NU berperan besar dalam penghapusan tujuh kata Piagam Jakarta. Namun, hal itu tidak serta-merta membuat NU boleh bertindak sesukanya. Tidak berarti NU boleh semena-mena berkuasa atas Kementerian Agama ataupun merasa ada hak khusus.
Tidak bijaksana dan tidak pas merupakan salah satu ciri anak-anak yang belum akil balig. Helmy tidak menyebut Yaqut belum akil balig. Tapi, bantahan resmi PBNU kali ini menjadi pukulan tambahan bagi Yaqut setelah kena serangan tajam Haedar Nashir.
Ini bukan kali pertama Haedar meluruskan pernyataan yang kontroversial. Haedar tidak pernah segan melakukannya dengan caranya yang khas. Ketika Ketua PBNU Said Aqil Siradj mengatakan bahwa jabatan-jabatan strategis yang menyangkut agama harus diserahkan kepada orang-orang NU, Haedar dengan cepat dan tangkas meluruskannya.
Dalam peringatan Harlah Muslimat NU ke-73 di Stadion Gelora Bung Karno pada 2019, Said Aqil menyerukan agar warga NU menguasai masjid-masjid, kementerian agama, termasuk KUA. Imam masjid, khatib-khatib, KUA-KUA, Kemenag, harus dari NU. Kalau dipegang selain NU salah semua, nanti banyak bid’ah kalau selain NU. Begitu seruan Said Aqil ketika itu.
Haedar bereaksi meluruskan Said Aqil. Menurutnya, Muhammadiyah sangat berharap dan berpandangan bahwa negara dan instansi pemerintahan Indonesia milik bersama sebagaimana amanat konstitusi, jangan menjadi milik golongan.
Pemerintahan harus berasaskan meritokrasi atau dasar kepantasan dan karir, jangan di atas kriteria primordialisme atau sektarianisme. Jika Indonesia ingin menjadi negara modern yang maju, maka harus dibangun good governance dan profesionalisme, termasuk di Kementerian Agama.
‘’Jika primordialisme dibiarkan masuk dan dominan dalam institusi pemerintahan, maka akan menghilangkan objektivisme dan prinsip negara milik semua. Karena itu jangan sampai pemerintahan dikelola berdasarkan kriteria golongan, apalagi dijadikan milik golongan tertentu,’’ begitu kata Haedar.
Tapi, Said Aqil Siradj mengulangi lagi keinginannya supaya NU menghegemoni jabatan-jabatan strategis. Dalam acara Pelantikan Pengurus Cabang NU Tegal, Ahad 17 Oktober 2021 Said menyatakan bahwa jabatan yang menyangkut agama, baik itu Menteri Agama maupun MUI harus diduduki oleh orang NU. Kalau tidak dipegang NU, menurut Said akan salah semua.
Said Aqil menerangkan mengapa jika jabatan agama dipegang orang-orang NU akan lurus dan benar. Menurutnya, karena orang NU pasti mengikuti pendapat Imam Syafi’i. Karena orang NU taklid kepada Imam Syafi’i. Bukan taklid kepada Imam Samudra.
Apakah pernyataan Said Aqil ini termasuk pernyataan yang akil balig atau tidak? Mungkin saja ini masuk kategori pernyataan orang belum akil balig. Setidaknya, dalam psikologi dikenal ada pubertas pertama, kedua, atau malah ketiga. Kalau seseorang masih berambisi meneruskan jabatan sampai periode ketiga, mungkin dia sedang mengalami pubertas ketiga. Siapa tahu. (*)
Editor: Reza Maulana Hikam

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi