Jaringan stasiun televisi ini sudah beroperasi selama 25 tahun, dan selama Duterte berkuasa jaringan televisi itu bersikap kritis terhadap berbagai kebijakan pemerintah.
Duterte akhirnya menolak memperpanjang izin siar jaringan televisi itu, sehingga akhirnya jaringan televisi terbesar di Filipina itu gulung tikar.
Reputasi Duterte ini tidak membuat nyali Maria Ressa ciut. Dengan teguh dia melawan ‘’war on drug’’ dari Duterte dengan melakukan ‘’war on war on drug’’ melalui liputan-liputan investigasinya.
Di Rusia, Dmitry Muratov juga menghadapi risiko yang sama dengan Maria Ressa. Muratov mendirikan Novaya Gazeta pada 1993 dan menjadi pemimpin redaksinya sejak 1995. Enam staf di surat kabar yang dipimpinnya tewas sejak saat itu.
Muratov secara konsisten membela hak jurnalis untuk menulis apa pun yang mereka mau tulis. Berbagai investigasinya membongkar penyalahgunaan kekuasaan yang dilakukan oleh Putin. Berbagai ancaman diterima Muratov, tetapi ia bergeming dan tetap melakukan liputan investigasi dengan gigih.
Ancaman keselamatan nyawa yang dihadapi Muratov tidak kalah besar dibanding Ressa. Putin adalah mantan komandan KGB, dinas rahasia komunis di bawah Uni Soviet. Putin memerintah dengan tangan besi, dan tidak segan-segan menghilangkan nyawa pesaing politiknya. Oposan politik yang lari keluar negeri pun dikejar dan dibunuh.
Dalam kondisi demikian, Muratov mengoperasikan medianya dengan independesi tinggi dan profesionalisme yang total. Komite Nobel melihat perjuangan Muratov ini sangat penting dalam upaya menjaga kelangsungan demokrasi di Rusia.
Bagi jurnalis di seluruh dunia, kemenangan Ressa dan Muratov menjadi inspirasi. Kemenangan ini muncul bersamaan dengan dirilisnya hasil investigasi Pandora Papers yang membongkar praktik jahat beberapa elite pemimpin dunia dalam skandal penggelapan pajak. Dua menteri Indonesia, Luhut Panjaitan dan Airlangga Hartarto, tercantum dalam laporan Pandora Papers itu.
Bagi jurnalis di Indonesia, kemenangan Ressa dan Muratov menjadi wake up call atau bel alarm supaya bangun dari tidur panjang, dan bangkit untuk menjalankan fungsi sebagai alat kontrol sosial. Pers Indonesia sudah terkooptasi oleh kekuasan, dan terlibat dalam permainan kekuasaan sehingga kehilangan daya kritis yang banyak dirindukan khalayak.
Kita harus malu kepada Maria Ressa dan Dmitry Muratov. (*)
Editor: Reza Maulana Hikam

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi