JAKARTA-KEMPALAN: Semakin berkembangnya zaman, terjadi inovasi transformatif pada sektor finansial. Namun, teknologi finansial ini nyatanya juga rawan dengan ancaman-ancaman yang sifatnya negatif.
Hal ini diutarakah oleh Johnny G Plate selaku Menteri Komunikasi dan Informatika (Kominfo). Ia melihat bahwa industri teknologi finansial memang menjadi arena yang cukup mudah terpapar ancaman.
Johnny mencontohkan bahwa ancaman ini nyata dalam realitas sosial, seperti korban dimanipulasi menggunakan media social engineering, lalu meretas sumber informasi menggunakan metode sniffing.
Yang lebih mengenaskan adalah terjadinya modus money mule. Yakni para pelaku meminta korban melakukan transaksi ke rekening orang lain. Tentu saja hal ini adalah tindakan yang irasional dan merugikan.
“Kami mengantisipasi hal tersebut dengan melakukan strategi upstream atau arus, midstream atau arus tengah, serta downstream atau arus hilir,” ucap Johnny G Plate melalui halaman resmi Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo), pada Jumat(20/8).
Untuk mereduksi situasi tersebut, Kementerian Kominfo mencanangkan Gerakan Nasional Literasi Digital Kemenkominfo. Hal ini berguna untuk mengkultivasi kultur kesadaran perlindungan privasi dan data pribadi.
Gerakan Nasional Literasi Digital memiliki target sekitar 12,48 juta peserta. Di mana hal ini tersebar di 514 kabupaten dan kota. Tindakan ini akan diimplementasikan setiap tahun, hingga mencapai 50 juta peserta pada tahun 2024.
“Kegiatannya dilakukan melalui kurikulum di empat pilar utama, yaitu digital skill, digital ethics, digital safety, dan digital culture,” jelasnya.
Politisi Partai Nasdem ini memaparkan, jika ada pemutusan akses terhadap platform pinjaman online ilegal secara langsung maupun melalui layanan aplikasi AppStore atau PlayStore, pengamanan data pribadi pengguna. (Rafi Aufa Mawardi)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi