CALIFORNIA-KEMPALAN: Dengan munculnya varian Delta dari virus corona yang sangat menular, sejumlah perguruan tinggi mewajibkan mahasiswanya menunjukkan bukti vaksinasi Covid-19 agar dapat menghadiri kelas luring.
Namun, kewajiban semacam itu justru membuka peluang untuk memalsukan dokumen yang dibutuhkan. Maka dari itu bermunculan industri-industri yang membantu orang-orang yang tidak mau divaksin karena alasan pribadi atau perkara agama.
Melansir The Associated Press yang menelisik tentang permasalahan ini di Amerika, mereka menemukan akun instagram “vaccinationcards” yang menjual kartu vaksin yang sudah dilaminating dengan harga 25 dolar.
Dalam penelisikan itu, The Associated Press mengutip perhitungan dari The Chronicle of Higher Education yang memperlihatkan setidaknya 675 perguruan tinggi di Amerika Serikat mewajibkan bukti bahwa seseorang sudah disuntuk vaksin Covid-19.
Salah satu contohnya adalah Universitas Vanderbilt di Nashville yang menahan pendaftaran perkuliahan mahasiswanya sampai bukti vaksinasi mereka dapat diverifikasi, kecuali bila mereka memiliki akomodasi medis atau alasan agama yang disetujui.
Juru bicara Universitas Michigan mengatakan pada kantor berita nasional AS itu bahwa mereka telah mengecek vaksinasi mahasiswa dan pekerjanya. Adapun mereka tidak menghadapi permasalahan pemalsuan kartu vaksin sampai dengan wawancara itu.
Tetapi Benjamin Mason Meier, seorang profesor kebijakan kesehatan global di University of North Carolina di Chapel Hill, mempertanyakan bagaimana institusi dapat memverifikasi catatan tersebut.
“Amerika Serikat, tidak seperti kebanyakan negara yang memiliki sistem elektronik, mendasarkan vaksinasinya pada kartu kertas yang tipis,” katanya seperti yang dikutip Kempalan dari The Associated Press.
“Perlu ada kebijakan untuk akuntabilitas untuk memastikan bahwa setiap mahasiswa beroperasi untuk kepentingan kolektif seluruh kampus,” tambahnya.
Sementara itu, penjual di situs web seperti Counterfeit Center, Jimmy Black Market, dan Beli Dokumen Ekspres mencantumkan kartu, sertifikat, dan paspor vaksin COVID-19 untuk dijual dengan harga yang bervariasi.
Pada bulan Juli, Departemen Kehakiman AS mengumumkan penuntutan penipuan kriminal federal pertamanya yang melibatkan skema imunisasi dan kartu vaksinasi COVID-19 palsu. Kasusnya adalah penangkapan seseorang bernama A. Mazi yang berumur 41 tahun atas pasal penipuan.
Dokumen pengadilan menuduh dia menjual kartu vaksinasi palsu kepada pelanggan yang tampaknya menunjukkan bahwa mereka telah menerima vaksin Moderna. Dalam beberapa kasus, dokumen menunjukkan Mazi sendiri yang mengisi kartu, menulis namanya sendiri, dan menyebut “nomor lot” Moderna untuk vaksin yang sebenarnya tidak dia berikan. (AP, reza hikam)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi