KEMPALAN: Stand-up comedy membawa namanya melambung. Tidak cuma mampu melucu yang keren dan intelek. Lebih dari itu, ia mampu melihat situasi dan kondisi yang ada, dan lalu memilih posisi yang tepat mengkritisinya.
Pandji Pragiwaksono, namanya. Sebagai komika ia selalu me-roasting rezim dalam komedinya. Ia mengkritik rezim, bukan baru kali ini saja, tapi rezim sebelumnya pun jadi sasaran kritik komedinya.
Tapi kritikannya pada rezim saat ini menjadi spesial, karena mendapat respon dari pendukung Presiden Joko Widodo (Jokowi) dengan bertubi-tubi. Seperti biasanya, Pandji tidak ambil pusing.
Sebelumnya pun Pandji muncul sebagai pengritik rezim Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Dan itu biasa-biasa saja. Tidak lalu mendapat serangan balik para pengikut rezim, seperti saat ini.
Serangan dari netizen, itu ditanggapinya melalui video di kanal youtube pribadinya, Rabu (28 Juli) dengan santai, bahkan Pandji terkesan “menyerang” balik.
“Gue ngetawain presiden, pemerintahan, menteri, anggota DPR. Itu bukan sekarang, dari dulu, dan dari dulu gua enggak kenapa-kenapa ngetawain presiden,” ujarnya.
Dulu hal itu memang biasa, tidak ada pendukung presiden yang lalu menyerang siapa saja yang berani-berani kritik junjungannya. Presiden SBY menganggap kritikan apalagi dengan canda, itu bukan hal yang perlu direspon balik.
Tidak perlu harus memakai “jasa” pendukung langsung maupun tidak langsung, yang biasa disebut relawan untuk “menyalak” menyerang balik. Kebisingan lalu lintas media sosial tidak menjadi riuh dengan netizen berbaju relawan, yang merasa sebagai pihak paling kuat.
“Kenapa sekarang lu (netizen) tersinggung? Karena presiden yang sekarang lu dukung? Karena lu suka sama presiden yang sekarang? Jadi, presiden sebelumnya boleh diketawain sama gua, yang sekarang presiden yang lu suka, gua enggak boleh ketawain? Itu mah bukan tersinggung itu arogan,” ujar Pandji.

Relawan yang menganggap bahwa presiden tidak boleh dikritik, itu memang berlebihan. Mengkritik itu hak warga negara yang dilindungi undang-undang, itu justru sikap tanggung jawab agar pemerintahan berjalan sesuai harapan. Dikritik itu tentu bukan personalnya, tapi jabatan yang melekat pada dirinya. Pada jabatan kemaruk, tapi saat ada kesalahan yang perlu diluruskan dan itu dengan kritik… eh yang muncul netizen menyerang balik.
Jika lalu masyarakat luas, termasuk Pandji, rindu pada zaman Presiden SBY, ya itu hal wajar. Itu era di mana kritik tidak mesti disikapi dengan permusuhan.
“Benar, gue enggak nyangka sama sekali, gua akui sebagai pelawak gua kangen jaman SBY,” ujar Panji meyakinkan.
Pandji memang keren. Ia telah menjalankan fungsi kontrolnya sebagai pribadi kritis, yang mampu memberi pandangan beda di tengah kebanyakan komika lain yang lebih memilih menjadikan profesi lawak sebagai sekadar lawakan. Menjadi komika yang seolah hidup di ruang hampa tanpa melihat persoalan yang ada disekelilingnya.
Tidak sebagaimana Panji, yang mampu menghadirkan lawakan kritis menampol apa yang bisa ditampolnya. Menyikapi kritikannya itu, mestinya dengan tanggapan substansial, itu jika mampu. Jika tidak mampu, maka memilih diam itu bijak. Diam itu emas… dan tentu bisa menutup dungu (meminjam istilah Prof RG), yang tidak pantas diumbar di ruang publik. (*)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi