Sabtu, 2 Mei 2026, pukul : 04:37 WIB
Surabaya
--°C

Malangnya Si Kecil Vino dan Pilunya Pak Bilal: Kisah Mengenaskan dalam Episode Panjang Covid-19

KEMPALAN: Usianya baru 10 tahun, kelas 3 SD. Dan Covid-19 telah merampas ayah-ibunya. Ia bernama Alviano Dava Raharjo. Sehari-hari bocah kecil itu dipanggil dengan nama kecilnya, Vino. Ia pun positif Covid-19 tanpa gejala. Sendiri ia isolasi mandiri (isoman) di rumah.

Ayahnya, Kino Raharjo, yang pedagang pentol keliling, yang pertama tertular Covid-19. Lalu menularkan pada istrinya, Lina Sapitri, yang tengah mengandung 6 bulan.

Sang istri yang punya riwayat asma, merasa sesak nafas berat. Dan sang suami mendampingi istri di rumah sakit. Tanggal 19 Juli, Lina meninggal, lalu sehari kemudian disusul suaminya.

Vino mengetahui ayah-ibunya meninggal. Entah siapa yang memberitahunya. Dan ia tetap tinggal di rumah untuk isoman. Ada kerabat ayahnya, yang tiap waktu makan mengantar makanan, yang diletakkan di depan pintu rumahnya.

Pasangan suami-istri ini asal Sragen, Jawa Tengah. Migrasi mengadu nasib di Linggang Purworejo, itu bukan di Jawa, tapi di Kutai Barat, Kalimantan Timur (Kaltim). Takdir menjemputnya, dengan meninggalkan buah hatinya.

Dalam beberapa hari ini, kisah bocah kecil Vino viral diberitakan. Dan memang pantas diberitakan. Bisa dibayangkan anak seumurnya harus ditinggal kedua orang tuanya dalam waktu hampir bersamaan, dan ia harus tinggal sendirian isoman tanpa pendamping.

Vino yang sehari-hari masih tergantung pada ibunya, itu mesti melakukan semuanya sendirian. Ia yang biasa tidur ditemani kedua orang tuanya, lalu mesti harus tidur sendirian. Apakah ia bisa tidur, tidak ada yang tahu. Vino ada dalam kesendirian yang belum seharusnya ia terima, tapi takdir memutuskan ia mesti hidup dalam sendiri.

Berapa banyak keluarga yang ditinggal ibu-bapaknya dalam waktu tidak terlalu lama, meninggal karena Covid-19, tentu tidak sedikit. Tapi Vino menjadi diberitakan, karena ia tidak saja kehilangan ibu-bapak, tapi ia harus tinggal sendiri dan isoman dalam kesunyian di usianya itu.

Potret Vino, yang harus menjalani isoman sendirian di rumahnya setelah kedua orang tuanya meninggal (Merdeka.com)

Tidak persis tahu kecamuk pikiran Vino macam apa, kecemasan macam apa yang ada dipikiran bocah kecil itu saat-saat ini. Mestinya Vino ditemani psikolog agar pikirannya tidak lebih terguncang, tapi situasi telah menjauhkan untuk bisa mendapatkan hak-haknya. Covid-19 memang menjauhkan semuanya, bahkan memisahkan semuanya.

Seorang teman bapaknya, sesama penjual pentol keliling, yang rumahnya berdekatan menjaganya tidur depan teras rumahnya tiap malam. Sedang bocah kecil itu tidur dengan hambal di ruang rumahnya.

Belum tampak tanggapan pemerintah, khususnya dinas sosial. Belum terdengar suara Ibu Risma, Mensos, berkenaan dengan nasib Vino. Biasanya yang beginian ini jadi konsumsi pejabat, bahkan pejabat tinggi untuk ngumbar janji-janji mengadopsilah dan seterusnya. Ini belum tampak, mungkin para pejabat sedang sibuk dengan tupoksinya masing-masing menghadapi Covid-19.

Tapi bersyukur ada suara mantan Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti, yang lalu lewat twitternya siap mengasuhnya, meski tidak harus mengadopsinya. Katanya, rasanya jika jumpa saya ingin mendekapnya.

Nasib Pilu Pak Bilal

Usianya sudah sangat sepuh, 84 tahun, jika ia harus bekerja. Apalagi bekerja dengan menarik becak. Tapi cuma itu yang bisa dilakukannya. Namanya Pak Bilal, nama indah bagai nama sahabat Nabi Shallalahu Alaihi Wasallam, tapi tidak semujur hidup muazin itu.

Pak Bilal seolah hidup sebatang kara, meski ia punya anak perempuan semata wayang, tetapi hubungan bapak dan anak ini kurang baik. Ia selalu memarkir becaknya di jalan Megangan Kulon, Kraton, kota Yogyakarta. Sudah setengah abad ia tinggal di lokasi itu. Bahkan ia memiliki KTP dengan alamat di jalan Megangan itu, meski ia tidak punya tempat tinggal di sana. Tempat tinggalnya ya memang di atas becak itu. Bagi warga sekitaran ia sudah dianggap bagian dari warga setempat.

Beberapa hari ia sakit di atas becaknya, dan warga setempat membantu makanan untuk konsumsinya. Sampai Senin (19/7), ia ditemukan sudah tidak bergerak lagi. Sehari sebelumnya warga sudah melihat Pak Bilal nafasnya terengah-engah. Petugas Dinas Kesehatan melakukan uji swab, yang lalu dinyatakan positif. Jenazah dibawa ke RSUD Wirosaban.

Proses evakuasi jenazah Bilal yang meninggal di atas becaknya (Tribun).

Kisah Pak Bilal yang sangat memilukan itu belum berakhir sampai disitu. Ia tidak langsung dapat dimakamkan, karena tidak ada biaya pemakaman Rp 5 juta. Sang anak yang dihubungi tidak bisa berbuat apa-apa, karena memang miskin. Pihak Kelurahan dan Dinas Sosial mengatakan, bahwa ia bukan penduduk terlantar karena memiliki KTP. Jadi tidak dapat membantu biaya pemakamannya.

Alhasil baru Kamis (22/7), jenazah itu bisa dimakamkan dengan protokol kesehatan, itu setelah seorang politisi mengadvokasi, dan yang lalu “terpaksa” pihak Kelurahan membayarkan biaya pemakamannya. Sungguh miris melihat kisah Pak Bilal, yang sepanjang hidup penuh kesulitan, dan saat meninggal pun masih dihadapkan kesulitan memakamkannya.

Hati dan nurani mestinya pilu melihat seorang dengan usia sepuh semacamnya masih menarik becak. Dan becak itu pun sekaligus jadi tempat tinggalnya. Tidur di atas becak lebih dari setengah abad dengan tubuh melungker bagai mengikuti anatomi udang. Dan saat sakit pun ia tidak dapat berkompromi untuk tidak diganggu angin malam. Udara dingin malam hari tidak bisa dihentikan sesaat agar tubuhnya yang menggigil itu bisa sedikit lega dengan kehangatan.

Pak Bilal dihentikan oleh Covid-19 di atas becak tempat tinggalnya, dan dengan nafas terengah-engah karena paru-paru tak berfungsi sempurna. Tanpa bantuan oksigen ia terus berjuang berhari-hari menjelang nyawa meregang. Entah kesakitan apa lagi yang dirasakan saat hari-hari menjelang kematiannya itu, yang mustahil ia bisa mengeluh. Dan saat meninggal pun tidak langsung bisa dimakamkan… Duh nasibmu, Pak Bilal.

Kasus si kecil Vino, yang ditinggal ibu bapaknya, dan kisah Pak Bilal yang sepuh itu, adalah kisah-kisah negeri ini, yang terekspos ke ruang publik. Tapi tidak menutup kemungkinan kisah sejenis, dan kisah-kisah kesulitan lainnya mudah ditemui di tengah masyarakat. Tentu jika nurani kepekaan itu masih dipunya. Melihat kisah-kisah demikian, emosi kesedihan pun jadi terkuras, dan itu wajar. Bisa jadi itu bagian dari empati pada sesama. Bersyukurlah… (*)

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.