Catatan Ady Amar

Semua (Seolah) Dibuat Menjadi Mudah

  • Whatsapp
Presiden Joko Widodo.

KEMPALAN: Di negeri ini semuanya dibuat tampak menjadi mudah, meski keadaan sebenarnya tidak mudah, bahkan justru sebaliknya, penuh kesulitan. Meski penuh kesulitan, tidak perlu ditampakkan, tapi ya tetap saja tampak terang benderang.

Hal biasa jika dijumpai muncul pendapat yang berbeda antar menteri, bahkan antar Menteri Koordinator, yang membidangi beberapa kementerian. Terakhir antara Muhadjir Effendy, Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, dan Luhut Binsar Panjaitan, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Indonesia.

Pada awalnya Muhadjir Effendy, mengatakan bahwa Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat akan diperpanjang sampai akhir Juli. Lalu Luhut mentorpedo dengan pernyataannya, bahwa belum diputuskan PPKM diperpanjang atau tidak. Lalu PPKM diperpanjang, tapi hanya 5 hari, sampai tanggal 25 Juli. Saat mengumumkan pastilah Pak Muhadjir tidak asal bicara. Pastilah sudah dibicarakan dengan Presiden Jokowi. Bahkan bisa jadi ia yang diminta untuk mengawali mengumumkan.

Mungkin tujuannya sekadar ngetes respons publik jika diperpanjang bagaimana, dan sebaliknya. Karena respons mayoritas berkeberatan, misal muncul pernyataan, bahwa rakyat kecil khususnya bisa mati kelaparan jika PPKM diperpanjang. Namun jika tidak diperpanjang, maka PPKM yang 14 hari itu sepertinya tidak ada manfaatnya.

Maka semuanya dibuat mudah dalam memutuskan antara diperpanjang dan disudahi saja PPKM, itu dengan jalan tengah yaitu diperpanjang, tapi hanya 5 hari (sampai 25 Juli). Sekali lagi, semuanya dibuat menjadi mudah.

Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Muhadjir Effendy.

Tidak lagi melihatnya dari aspek efektivitasnya jika diperpanjang atau tidaknya, tapi lebih pada melihat suara mayoritas menghendaki apa. Maka itu yang dipilihnya. Semua memang dibuat menjadi mudah, meski itu kebijakan yang bersangkut paut dengan nasib rakyat dalam menghadapi wabah Covid-19.

Lalu dengan gagahnya Luhut mengatakan, bahwa dalam 5 hari perpanjangan PPKM, akan digenjot 3T; testing, tracing dan treatment. Seolah-olah dipastikan itu bisa dilakukan sampai tanggal 25 Juli. Semuanya disuguhkan seolah mudah seperti membalik telapak tangan.

Tidak ada evalusasi dari Presiden Jokowi atas kerja Luhut selama 14 hari PPKM, itu berhasil atau tidak. Apa yang dikatakan Luhut bahwa Covid-19 bisa dikendalikan, ternyata cuma isapan jempol, bahkan terkesan manipulatif pada realita data, bahwa Covid-19 belum bisa dikendalikan sesuai harapan.

Rakyat seolah disuguhi tontonan akrobatik dalam pertunjukan sirkus dengan bermacam adegan, itu tampak dalam silang pendapat antar kementerian, dan tentu membuat bingung. Nasib rakyat dipertaruhkan dengan pendekatan “jalan tengah”, lanjut PPKM tapi hanya dicukupkan 5 hari. Semuanya bisa dibuat seolah dikendalikan menjadi mudah.

Semua akan Dipertanggungjawabkan Kelak

Kemampuan pemerintah mengelola negara yang sesungguhnya, tengah diuji oleh pandemi Covid-19, mampu tidak menanggulanginya. Dengan kebijakan tambal sulam seperti yang diperlihatkan saat ini, mustahil mendapat hasil yang diharapkan. Nasib rakyat jadi tidak menentu, antara bekerja di luar rumah akan menemui dampak penularan virus Covid-19 yang masif, atau diam di rumah dan mati kelaparan.

Maka kebijakan yang dibuat menjadi lentur dengan teknik tarik ulur, dan itu yang dimainkan selama ini. Kebijakan yang sulit diharapkan bisa menyelesaikan persoalan besar yang tengah dihadapi.

Lemahnya koordinasi antar kementerian tampak jelas, tidak lagi bisa ditutupi, dan itu dibuka di ruang publik terang benderang. Ketidaksesuaian pendapat antar kementerian, itu menyebabkan krisis kepercayaan, bahwa Covid-19 ini bisa ditangani dengan baik. Tambahan PPKM hanya 5 hari, itu bisa jadi akan mengundang persoalan yang lebih serius. Semuanya tampak serba nanggung.

Maka yang akan gelagapan pastilah para dokter dan tenaga kesehatan (nakes), dengan kebijakan yang tarik ulur ini. Pasien yang terjangkit Covid-19 akan bertambah dengan jumlah yang sulit diperkirakan. Masalah Covid-19 ini bukan hanya bisa ditangani dengan ketersediaan rumah sakit lapangan dan tempat tidur pasien saja, tapi juga jumlah nakes yang tidak memadai, jika lonjakan pasien terus bertambah.

Tetapi rakyat, khususnya ekonomi lemah, menuntut agar PPKM tidak diteruskan, agar tidak mati karena kelaparan, itu pun punya argumennya sendiri yang pragmatis. Tapi kalangan tertentu, terutama nakes, meski tidak disampaikan secara vulgar, menghendaki PPKM Darurat bahkan ketat diperpanjang selama 14 hari lagi, itu pun punya argumennya sendiri yang masuk akal.

Pemerintah menghadapi dua sisi kepentingan yang berbeda tapi rasional, yang lalu menjadikan kebijakan tarik ulur jadi pilihan. Tentu itu pilihan yang tidak akan menyelesaikan persoalan, dan dengan cost yang tinggi. Nominal yang digelontorkan untuk bansos tidak kecil, dan itu sekadar lip service yang tidak menyelesaikan kesulitan rakyat. Sekadar bantuan yang cuma buat hidup sederhana beberapa hari saja.

Sedang harga lain yang mesti dibayar dan itu tidak dapat dinilai dengan nominal adalah jatuhnya korban manusia, meninggal merana karena rumah sakit tidak dapat menampung lonjakan pasien. Di rawat di rumah pun terkadang kesulitan mencari tabung oksigen, dan jika ada harganya selangit. Tidak terhitung, karena memang tidak pernah dihitung berapa warga bangsa yang meninggal dengan kondisi memprihatinkan tak tertangani pelayanan kesehatan.

Sekadar ilustrasi, kemarin saya mendapat ucapan Idul Adha via WhatsApp dari kawan, seorang jurnalis media nasional di Jakarta, yang selama pandemi ia bekerja dari rumah (WFH). Ia tinggal di Kabupaten Indramayu. Disamping mengucapkan selamat berlebaran, ia selipkan kabar bahwa istri tercintanya sudah dipanggil-Nya lewat Covid-19.

Mendengar pesannya itu, saya menelponnya dan ia bercerita bagaimana ia keliling kota untuk mencari rumah sakit, dan semuanya penuh dan tidak bisa menerima pasien baru. Terpaksa dini hari sekitar pukul 02.00 ia putuskan untuk balik saja ke rumah. Tetangga sebelah rumah yang tahu kondisi sang istri berbaik hati meminjamkan tabung oksigen. Setelah selang dipasang di hidung, nafas sang istri mulai tenang. Batuk-batuk yang tadinya tidak mau berhenti pun mulai berhenti dan panas tubuhnya pun mulai normal. Senanglah sang suami dengan kedua anaknya. Sampai sekitar pakul 07.00 kejadian mulai berbalik menjadi haru, oksigen ternyata habis, dan sang istri nafsanya mulai ngos-ngosan dan batuknya mulai lagi sampai menuju ke kematiannya.

Mendengar cerita itu rasa piluh hati ini, dan tidak bisa dibayangkan betapa remuknya hati suami dan anak-anaknya. Saya hanya mampu menghiburnya selayanya sebagai kawan, bahwa in Syaa Allah almarhumah itu wafat sebagai syahid, husnul khotimah. Kisah serupa tentu dialami banyak warga, dan tentu itu tidak dapat dianggap hal mudah. Dihadapan Allah, ini perkara sulit untuk bisa dipertanggungjawabkan. Dan pada saatnya kelak, tidak ada yang mampu mengelak mempertanggungjawabkan dalam pengadilan-Nya. (*)

 

Berita Terkait