Selasa, 14 April 2026, pukul : 18:17 WIB
Surabaya
--°C

Idul Adha 1442, Antara Ketaatan versus Ekonomi Menghimpit

KEMPALAN: Wabah Covid-19 menjadikan suasana Idul Adha 1442 Hijriah terasa lain. Banyak hal yang menyebabkan suasana menjadi serasa lain. Salah satunya, sholat Ied yang mestinya dilakukan bersama keluarga di masjid atau lapangan, tapi tidak pada saat ini. Pandemi Covid-19 menghentikan itu semua.

Kita mengalah oleh kondisi yang ada, dan itu memang seharusnya. Terkadang menggugurkan yang sunnah untuk kemaslahatan yang lebih besar jadi pilihan. Kita ingin menghentikan laju perkembangan Covid-19, maka segala cara yang dimungkinkan diupayakan, termasuk untuk tidak berkumpul di satu tempat yang memungkinkan virus itu makin berkembang.

Idul Adha atau Idul Qurban, identik dengan kisah Nabi Ibrahim Alaihissalam dan putranya, Ismail. Diawali dengan peristiwa dramatis, adanya perintah Allah Subhanahu Wataala yang tidak biasa. Upaya menguji kecintaan Ayah (Ibrahim) pada anak yang dinanti-nantikan kelahirannya sekian lama (Ismail) versus ketaatannya kepada Allah Subhanahu Wataala.

Allah menguji yang tidak biasa dan tentu amat berat. Dan itu perintah agar Ibrahim Alaihissalam mengorbankan anaknya. Seorang Ayah diminta untuk menyembelih anaknya, itu perintah-Nya. Maka terjadilah dialog Ayah dan anak berkenaan dengan perintah itu. Diceritakan pada sang Anak tentang perintah-Nya, dan sang Anak menjawab dengan jawaban memukau. “Ayah, jika itu perintah-Nya, maka lakukan saja.”

Dialog yang mencengangkan, tentang ketaatan mengalahkan kecintaan, itu sulit dicari tandingannya. Perintah yang tidak biasa, mengorbankan sang Anak yang kehadirannya amat dinantikan, yang lalu disusul perintah untuk menyembelihnya.

Saat upacara penyembelihan akan dilangsungkan, dan kepala sang Anak (Ismail) dibaringkan dan belati di tangan sang Ayah (Ibrahim) akan diarahkan ke leher sang putra, itu semata karena ketaatannya pada Allah Suhanahu Wataala. Ketaatan akan ditunaikan, tapi Allah mengganti seketika tubuh Ismail itu dengan seekor domba untuk dikurbankan/disembelih.

Ibrahim Alaihissalam dan Ismail lulus dalam ujian-Nya yang amat berat, yang sulit dinalar. Peristiwa itu setiap tahun dikenang kaum muslimin, dan disunnahkan bagi yang mampu untuk juga berkurban dengan domba, sapi atau unta, dan itu setiap Idul Adha.

Ujian ketaatan dalam versinya yang lain, ini akan terus dilakukan sebagai perintah-Nya Subhanahu Wataala sampai akhir zaman. Ketaatan itu menggirring manusia membuka kesadaran akan nilai kemanusiaan. Dimana daging kurban itu akan dirasakan oleh mereka yang tidak sehari-hari mengonsumsinya.

Apalagi di musim pandemi Covid-19 pastilah daging kurban yang dibagikan itu amat dinantikan. Mereka bisa bersama-sama mengonsumsi daging-daging yang tadinya sulit bisa dirasakan, terutama bagi mereka yang kurang beruntung dalam hal ekonomi. Apalagi di masa pandemi ini, penghasilan buruh kasar dan sejenisnya mengalami penurunan drastis. Maka daging tadi sedikit banyak bisa dikonsumsi semua lapisan dengan hati riang.

Sungguh membanggakan, bahwa yang berkurban tahun ini tidak beda jauh dengan sebelum masa pandemi. Gairah berkurban itu sungguh membanggakan, seperti tidak ada persoalan ekonomi yang menghimpit, meski hampir semua yang berkurban itu mengalami penurunan penghasilan bahkan tidak sedikit yang bisnisnya merugi, tapi tidak menyurutkan gairah untuk berkurban.

Apakah ini bisa dimaknai bentuk ketaatan versus kondisi ekonomi sulit, dan lagi-lagi ketaatan yang jadi pemenang. Jika memang itu yang terjadi, maka bisa dismpulkan, bahwa gairah menjalankan anjuran agama di negeri ini khususnya, tetap jadi prioritas untuk dinomorsatukan. Subhanallah.

Idul Adha Mubarak. (*)

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.