Senin, 9 Maret 2026, pukul : 00:31 WIB
Surabaya
--°C

Dokter Lois

KEMPALAN: Namanya Lois Owien. Seorang dokter perempuan. Ia mengaku ilmunya mahal dan bisa mengatur IDI (Ikatan Dokter Indonesia), karena itu ia minta IDI dibubarkan saja. Dokter ini mengatakan tidak ada orang yang mati karena Covid 19. Yang ada adalah orang-orang yang mati karena keracunan obat.

Dan, sudah bisa diduga, dokter ini tidak percaya terhadap pemakaian masker yang dianggapnya tidak berguna. Masker, katanya, justru akan mengurangi asupan oksigen yang memengaruhi imunitas tubuh, dan malah membuat orang sakit.

Ia juga tidak percaya terhadap berbagai tes yang digunakan untuk mendeteksi Covid 19. Baik tes swab, PCR, atau tes-tes jenis lainnya. Semuanya dianggap tidak ada gunanya, dan tidak bisa disebut sebagai sumber yang valid untuk menentukan seseorang terjangkit virus atau tidak.

“Profesor” Hadi Pranoto (kiri) dan Anji

Ratusan ribu orang yang mati, kata dokter ini, bukan korban Covid 19, melainkan korban malpraktik para dokter yang memberi resep secara ngawur. Setiap pasien Covid 19 yang dibawa ke rumah sakit, kata Dokter Lois, rata-rata diberi kombinasi obat sampai lima atau enam macam. Obat-obat itulah yang membuat pasien mati.

Karena itu, ia menyimpulkan Covid 19 itu tidak ada. Pandemi juga tidak ada. Dia mengatakan vaksin tidak perlu karena tidak ada penyakit yang bisa disembuhkan oleh vaksin itu. Tidak perlu ada histeria, ketakutan, terhadap virus karena virus itu tidak ada.

Kalau kesimpulan ini keliru atau salah, harap maklum. Atau, kalau Anda juga gagal paham, harap maklum juga, soalnya IQ kita rata-rata memang tidak sampai 200. Karena, kata dokter itu, hanya orang-orang yang ber-IQ di atas 200 yang bisa memahami penjelasannya.

Dia mengklaim bahwa dokter-dokter seluruh Indonesia, bahkan mungkin seluruh dunia, tidak paham terhadap keterangannya karena otak dan ilmu mereka tidak mencukupi. Entah berapa IQ Dokter Lois ini. Barangkali di atas 200, yang berarti dia jenius seperti Albert Einstein.

Batas jenius dengan gila, atau sinting, terkadang sangat tipis. Banyak orang-orang super-jenius yang semula dianggap sinting atau dikira orang gila, tapi kemudian terbukti dia manusia hebat yang menemukan inovasi yang mengubah dunia.

Archimides dikira orang gila ketika tiba-tiba lari dari kamar mandi dengan telanjang. Ia menuju jalan raya sambil berteriak, ‘’Eureka…eureka..’’, saya menemukannya, saya menemukannya. Orang-orang mengira Archimides tidak waras. Tapi, kemudian terbukti bahwa temuan Archimides mengubah dan merevolusi dunia, karena dia menemukan bahwa gaya yang memberi tekanan kepada air akan mengeluarkan volume yang sama besar dengan gaya penekannya.

Dokter Lois tidak sedang lari di jalanan dengan telanjang. Dia tidak terlihat sebagai orang tidak waras seperti Archimides. Dokter ini seorang wanita yang cantik dan terawat tubuhnya, karena dia seorang ahli kecantikan. Spesialisasinya adalah perawatan anti-aging, anti penuaan.

Kalau Anda mempertanyakan kompetensi seorang dokter kecantikan yang berbicara mengenai pandemi, bukan berarti Anda orang kritis atau cerdas, tapi Anda justru termasuk manusia ber-IQ jongkok. Begitu setidaknya kata Dokter Lois. Dia sudah membaca jurnal kedokteran terbaik dari seluruh dunia, dan dia menyimpulkan bahwa pandemi adalah konspirasi. Kalau ada orang mempertanyakan kompetensinya berarti orang itu bagian dari oligarki yang menolak kebenaran untuk mempertahankan status quo.

Pernyataannya menjadi viral setelah dia muncul di acara talk show Hotman Paris. Sebelumnya, ia banyak berkicau di Twitter tetapi tidak banyak didengar oleh netizen karena kicauannya dianggap palsu. Tapi, setelah muncul di acara Hotman Paris, orang-orang mulai memperhatikan kicauannya.

Tapi, tidak perlu terlalu kaget. Tidak perlu ditanggapi serius. IDI pun tidak perlu susah-susah memanggil dokter ini, karena tidak ada satu pun hal baru yang diungkapkan. Apa yang diungkapkannya sebenarnya hanya mengulang-ulang para penganut teori konspirasi. Tidak ada yang baru sama sekali, argumen-argumennya mengulang-ulang apa yang sudah beredar selama ini.

Apa yang dilakukan oleh Jerinx, musisi anggota grup Superman Is Dead, pada dasarnya tidak jauh berbeda dari apa yang dikatakan Dokter Lois. Bedanya, Jerinx hanya seorang musisi dan pemain medsos yang tidak punya kredensial medis yang cukup. Jerinx mengatakan bahwa orang-orang yang percaya kepada Covid adalah kacung WHO.

Dokter Lois adalah seorang dokter, apalagi dia mengaku punya guru dari Kanada, meskipun kuliahnya di Malaysia. Dengan kredensialnya sebagai seorang dokter tentu lebih banyak orang yang mempercayai kicauannya. Jerinx sudah diadili dan dihukum, Dokter Lois belum.

Memang agak aneh kalau Dokter Lois baru muncul sekarang. Selama ini dia kemana saja. Pandemi sudah berlangsung hampir dua tahun, jutaan orang di seluruh dunia sudah menjadi korban. Tapi dia diam saja tidak bereaksi. Baru sekarang, setelah korban bergeletakan dimana-mana dia muncul. Selama ini entah dia bertapa dimana. Mungkin dia baru bersemedi lama dan baru saja mendapatkan wangsit.

Sudah sangat banyak orang yang berpendapat seperti Dokter Lois. Dia bukan yang pertama, dan percayalah, dia bukan yang terakhir. Masih akan banyak orang-orang seperti itu. Masih akan banyak orang yang mengatakan bahwa pandemi ini adalah konspirasi. Yang perlu Anda ingat adalah, namanya juga teori konspirasi, tidak akan bisa dibuktikan, dan memang tidak perlu pembuktian.

Orang-orang pasti masih ingat unggahan penyanyi Anji yang mewawancarai seorang profesor bernama Hadi Pranoto. Unggahan itu viral Agustus 2020 yang lalu, karena Hadi Pranoto mengklaim telah menemukan obat-obatan herbal yang bisa menyembuhkan Covid 19. Tidak tanggung-tanggung, obat herbal itu sudah dipasarkan ke seluruh dunia, bahkan Ratu Elizabeth dari Inggris juga sudah mengonsumsi obat herbal itu.

Musisi Jerinx dihukum karena menebar teori konspirasi

Sekadar mengingatkan Anda, sekarang Anji mendekam di tahanan polisi karena kasus narkoba. Hadi Pranoto sendiri sudah tidak terdengar nama dan kiprahnya. Obatnya pun tidak pernah terlihat di pasaran. Orang-orang sekarang lebih suka mencari susu kaleng dan obat cacing daripada mencari obat herbal buatan Hadi Pranoto.

Untuk memberi kredensial yang meyakinkan, ketika itu Anji menyebut Hadi Pranoto sebagai profesor. Ketika dicek, ternyata Hadi Pranoto tidak bergelar profesor. Ketika hal itu dipertanyakan, dia mengatakan bahwa gelar itu memang bukan gelar guru besar dari pergururan tinggi. Gelar profesor itu diberikan orang-orang untuk menghormati keahliannya.

Orang-orang seperti Hadi Pranoto, Jerinx, Dokter Lois, dan lain-lain ini oleh Tom Nichols disebut sebagai bagian dari fenomena ‘’The Death of Expertise’’, matinya kepakaran. Orang bisa berbicara apa saja layaknya seorang pakar atau guru besar, padahal kompetensinya tidak ada.

Mereka semua jadi terlihat seperti pakar karena omongannya diamplifikasi oleh media sosial. Mereka bisa bicara mengenai apa saja tanpa harus punya kompetensi. Mereka bisa bicara apa saja, yang penting bisa viral dan menjadi terkenal. Atau, syukur-syukur, dapat rezeki nomplok dari jutaan follower dadakan. (*)

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.