
SURABAYA-KEMPALAN: Begitu kabar duka Abdul Jalil Latuconsina wafat, Jumat (25/6) terbaca di sebuah Whatsapp Group, aku spontan shock. Tak tahu harus bagaimana. Doa dan lantunan Surah Al Fatihah segera berulang kali aku panjatkan ke hadirat Illahi teruntuk sosok fenomenal ini.
Aku mengenal pria yang akrab disapa ‘Abah Jenggot’ itu sekitar bulan Februari 1998. Berawal dari sebuah berita yang ditulis jurnalis Memorandum Abu Yarbo. Isi berita ini menarik karena narasumbernya mengkritisi figur seorang rektor perguruan tinggi swasta di Surabaya.
Narasumber itu adalah Abdul Jalil Latuconsina alias ‘Abah Jenggot’. Penasaran ingin tahu lebih jauh, aku menelepon Muhammad Nabiel. Dari Nabiel, aku memperoleh nomor telepon rumah Jalil. Saat kutelpon ke rumahnya, ternyata beliau tak ada di rumah dan kutinggalkan nomor teleponku.
Keesokan hari, Jalil balik meneleponku. Saat itu aku di dalam angkot hendak balik ke rumah kos, usai siaran di Radio SCFM. Kami kemudian sepakat bertemu di Hotel Garden Palace sore hari. Lalu, kuajak Cholis Akbar, redaktur Majalah Hidayatullah, Surabaya. Begitu bertatap muka langsung, aku dan Cholis spontan kaget. Tak menyangka, sosok Jalil berewokan putih.
Dari Jalil, kami memperoleh banyak informasi penting. Utamanya terkait siapa dan apa peran yang dimainkan orang-orang tersebut selama deru reformasi bergulir di Surabaya. Usai ketemu Jalil, aku dan Cholis segera melakukan pengecekan silang (cross-check) ke berbagai sumber lain. Dan ternyata peta figur dari Jalil, benar adanya.
Sejak saat itu, aku lebih sering lagi bertemu Jalil sepanjang tahun 1998. Tempat ngobrol sudah bergeser, dari Hotel Garden Palace ke Hotel Sahid. Banyak tokoh dan sosok penting hilir mudik keluar-masuk. Biasanya, kami ngobrol berbagai topik hangat saat itu. Mulai dari topik politik, keamanan, sampai topik bisnis. Jalil selalu antusias mendengar sembari mengisap rokok. Ia sangat egaliter.
Jalil punya jejaring luas. Bukan hanya figur top Jawa Timur yang sering terlihat ngobrol bersamanya, melainkan sering pula sosok penting dari Jakarta berbincang serius dengannya. Misal, ketika Bang Yusril (Yusril Ihza Mahendra) ke Surabaya, Jalil sempat menemuinya di suatu tempat. Mereka terlihat sangat akrab berbincang bak teman lama bersua kembali. Begitupula saat Pak Fatwa (AM Fatwa) ke Surabaya, Jalil juga ngobrol cukup lama dengan salah-satu pendiri PAN itu.
Walau terlihat sangar, sesungguhnya hati Jalil sangat lembut. Apalagi kepada orang yang terpuruk atau butuh bantuan. Tak segan-segan, Jalil membantu orang tersebut sampai tuntas. Semua biaya ditanggung Jalil. Sebaliknya, Jalil juga bisa cepat bersikap tegas bila ada orang bersikap kasar pada yang lain. Suatu ketika, masih di tahun 1998, ada empat orang menyatroni kamar Jalil di Hotel Sahid. Keempat orang ini diutus oleh seorang bos di Surabaya untuk ‘menghabisi’ Jalil. Tapi, begitu empat orang tersebut bertemu Jalil lalu mereka duduk dan ngobrol santai, pelan-pelan keempatnya sadar telah diperalat oleh bos yang mengutusnya.
Jalil selalu menjadi magnet dalam tiap pertemuan. Itu diakui oleh H Agil H Ali, pendiri Harian Memorandum Surabaya. Ada saja komentar Jalil jika obrolan sudah mulai menghangat, terutama kalau menyinggung soal politik. Bang Agil, sapaan akrab H Agil H Ali, sempat bercerita bagaimana Jalil menggalang para tahanan di penjara Koblen untuk memprotes menu lauk di penjara yang tak layak makan. Aksi protes ini berlangsung sampai berhari-hari. Karena kewalahan, pihak aparat meminta bantuan Bang Agil untuk datang ke penjara guna menasehati Jalil. Hasilnya, aksi protes surut, tuntutan kelayakan lauk terpenuhi.
Watak pluralis Jalil tampak dari pergaulan sehari-hari. Ia bergaul dengan siapa saja. Tak memandang latar-belakang orang, asalkan tak saling menyakiti. Watak ini terlihat saat Jalil aktif menolong para pengungsi Ambon pada Februari 1999. Jalil ikut aktif mencari tempat menampung mereka di Sidoarjo. Hubungannya yang begitu dekat pada Imam Utomo, Gubernur Jawa Timur saat itu, telah memudahkan Jalil untuk membantu para pengungsi. Awal hubungan dekat Pak Imam dengan Jalil dimulai pada 1978 ketika Jalil ikut aktif aksi demonstrasi mahasiswa menentang NKK/BKK.
Ketika Bambang Sujiyono menerbitkan Tabloid Darus Salam pada tahun 2000, Jalil berinisiatif menerbitkan Tabloid Sapujagat. Bambang sohib karib Jalil. Mereka kerap terlihat asyik ngobrol di kedai Hotel Sahid. Selain Bambang, Jalil juga akrab dengan Ahadin Mintaroem, tokoh PPP pada masa itu. Kalau sudah mereka bertemu dan ngobrol politik, maka siapapun di sekitar mereka akan tertarik mengikuti. Banyak fakta di balik berita, banyak isu di balik peristiwa.
Banyak orang yang tak suka pada Jalil karena mereka takut boroknya disingkap. Apalagi kalau dengar celetukan Jalil yang pedas soal borok itu. Lebih baik menghindar dari Jalil, bahkan kalau perlu menstigma Jalil sebagai preman. Padahal, stigma itu tak benar. Meski Jalil tak pernah menghiraukan stigma apapun terhadap dirinya. Jalil ‘easy going’. Bersikap EGP (Emang Gue Pikirin). Seperti saat Tabloid Sapujagat bermarkas di Jalan Embong Sawo, stigma Jalil preman begitu gencar terdengar. Setelah ditelusuri, pangkal stigma ternyata berasal dari seorang makelar kasus (markus).
Literasi Jalil cukup tinggi. Walau ia bukan pembaca buku yang tekun, namun ia punya minat besar mendengar siapapun yang menceritakan isi sebuah buku. Apalagi jika isi buku-buku politik. Suatu ketika, sekitar tahun 2004, aku mengantarkan peneliti dari Australia, Vedi Hadiz, khusus untuk mewawancarai Jalil di markas Tabloid Sapujagat di jalan Peneleh. Kedatangan Vedi ini terkait dengan penelitiannya seputar situasi di Surabaya usai reformasi 1998. Vedi antusias menanyakan banyak hal ke Jalil. Obrolan yang dimulai jam tujuh malam, molor sampai jam sebelas malam.
Rupanya, untuk mengetahui siapa Vedi, Jalil telah menelepon Ibrahim G Zakir (Om Bram) di Jakarta. Dari Om Bram, Jalil tahu soal Vedi. Hasil wawancara dengan Jalil itu kemudian dikutip Vedi, yang dicantumkan dalam beberapa tulisannya di jurnal ilmiah internasional. Begitu Jalil diberitahu soal ini, ia hanya senyum-senyum saja. Jalil tetap tampil biasa saja.
Sebagaimana ketika ia memuat sebuah tulisan soal pertemuan di Restoran Mutiara jelang Pemilihan Walikota (Pilwali) Surabaya 2010. Tulisan itu dimuat di Tabloid Sapujagat dan menjadi bukti di persidangan Mahkamah Konstitusi (MK), bahwa telah terjadi mobilisasi aparatur di tingkat kelurahan dan kecamatan untuk memenangkan salah-satu calon walikota. Fakta itu tak terbantahkan. Hasilnya, MK memerintahkan penghitungan ulang suara dari beberapa Tempat Pemungutan Suara (TPS) dan juga pemilihan ulang di sejumlah TPS.
Jalil memang anti-arus utama. Ia menggerakkan arusnya sendiri, bahkan berselancar di atas arus itu, meski harus menghadapi gemuruh kecurigaan serta gelombang tudingan. Arus yang digerakkan Jalil termaktub dalam tabloid yang menjadi medianya. Uniknya, siapapun yang pernah ditulis Jalil, beberapa kemudian justru berterima-kasih padanya karena kritik Jalil menunjukkan manusia pada dasarnya tak sempurna.

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi