Timur Tengah

Serangan Udara Israel, 11 Pejuang Suriah Tewas

  • Whatsapp
Serangan udara Israel di Suriah (AFP)

DAMASKUS-KEMPALAN: Sistem pertahanan udara Suriah telah diaktifkan melawan “agresi Israel” di Suriah, kantor berita negara SANA mengatakan Selasa (8/6) malam. Pesawat-pesawat Israel terbang melalui wilayah udara Lebanon, tambah laporan itu.

11 pejuang Suriah tewas dalam serangan udara Israel di provinsi Homs, kata Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia.

Melansir dari Arab News, pemantau perang yang berbasis di Inggris, melaporkan “ledakan hebat terasa di Damaskus dan sekitar kota, diikuti oleh serangan Israel terhadap posisi militer” tentara Suriah.

“Serangan udara juga terjadi di selatan provinsi Homs dan di zona perbatasan antara Homs dan Tartus,” kata kepala Observatorium Rami Abdul Rahman kepada AFP.

Target serangan Israel yang dilaporkan tidak segera jelas. Serangan itu adalah yang pertama dilaporkan sejak terpilihnya kembali Presiden Suriah Bashar Assad untuk masa jabatan tujuh tahun keempat.

Tentara Israel, yang jarang mengakui serangannya di Suriah, mengatakan kepada AFP bahwa mereka tidak akan mengomentari “informasi yang datang dari luar negeri.”

Sejak dimulainya perang di negara tetangga Suriah pada 2011, Israel telah melakukan ratusan serangan udara di wilayah Suriah, menargetkan posisi rezim serta pasukan Iran dan anggota gerakan Hizbullah Lebanon.

Sumber-sumber intelijen Barat mengatakan peningkatan serangan Israel di Suriah sejak tahun lalu adalah bagian dari perang bayangan yang disetujui oleh Amerika Serikat.

Sumber-sumber intelijen mengatakan bahwa Israel selama setahun terakhir telah memperluas targetnya di seluruh Suriah, di mana ribuan milisi yang didukung Iran telah terlibat dalam merebut kembali sebagian besar wilayah yang hilang oleh Assad dari pemberontak dalam perang saudara yang telah berlangsung hampir satu dekade.

Serangan yang dilaporkan juga yang pertama setelah gencatan senjata rapuh antara Israel dan penguasa militan Hamas di Jalur Gaza menyusul konflik 11 hari yang menewaskan lebih dari 250 orang, kebanyakan dari mereka warga Palestina. (Arab News/AFP/SANA, Belva Dzaky Aulia)

Berita Terkait