Obituari

Poo Soen Bing alias Bingky Irawan, Pejuang Pernikahan Konghucu Budi Wijaya-Lanny

  • Whatsapp
Penyerahan pataka dari Xs. Budi ST ke Ws. Handoko (Ketua MAKIN Boen Bio)

SURABAYA-KEMPALAN: Selamat jalan Bingky Irawan tokoh reformis dan nasionalis Tionghoa indonesia. Di saat warga Kota Surabaya merayakan ulang tahun ke-728 (31/5), masyarakat Tionghoa Surabaya kehilangan tokoh seniornya.

Pria yang akrab disapa Poo Soen Bing wafat di rumah sakit Delta Surya Sidoarjo pukul 3.00 pagi karena sakit yang dideritanya. Saat ini jenazah disemayamkan di Adi Jasa Surabaya ruang 28 dan akan dimakamkan di Sentong, Jumat (4/6).

Mendiang Poo Soen Bing meninggal dalam usia 69 tahun meninggalkan seorang istri Susilowati dan empat anak yaitu Puspita Sari, Agus Purwanto, Agus Cahyono dan Agus Kurniawan. Semasa hidupnya mendiang pejuang hak asasi Tionghoa dan Konghucu yang mengalami diskriminasi di zaman Orde Baru.

Menjelang jatuhnya Orde Baru, kasus diskriminasi agama mencuat di permukaan saat Budi Wijaya menikah dengan Lanny Guito di lithang boen bio Kapasan, Surabaya. Saat mencatatkan pernikahannya di catatan sipil ditolak oleh petugas dengan alasan hanya mengakui lima agama dan Konghucu tidak diakui.

Bingky Irawan yang menjadi ketua Majelis Agama Konghucu Indonesia (MAKIN) dengan gagah berani membela kedua umatnya lalu mengajukan banding ke pengadilan tata usaha negara. Kedekatan mendiang dengan KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yang bersedia menjadi saksi ahli untuk membantu Bingky memperjuangkan diskriminasi tersebut dan akhirnya membuahkan hasil pernikahan Budi dan Lanny tercatat di catatan sipil sebagai beragama Konghucu.

Saat rezim Orde Baru berjaya semua hal yang berbau Tionghoa tidak boleh dipertontonkan di depan umum seperti atraksi barongsai, pertunjukan potehi hingga sembahyang pun tersembunyi dan tertutup.  Buku sembahyang berbahasa mandarin hingga sekolah Tionghoa pun tidak diperbolehkan dibuka untuk umum.

“Mendiang Bingky orang yang memiliki kepribadian kuat, memegang teguh prinsip dan keyakinannya yang tak dapat dihalangi siapapun juga,” kenang Lim Tiong, sahabat karibnya.

Gatot Seger Santoso, salah satu aktivis tionghoa mengenang mendiang Bingky sebagai sosok yang setia kawan, berani membela kebenaran dan memperjuangkan keadilan, berjiwa sosial tinggi serta memegang teguh delapan kebajikan sebagai prinsip hidupnya.

Prestasi lain yang menjadi catatan emas saat sahabatnya mendiang Gus Dur menjadi Presiden Indonesia keempat adalah berhasil menerbitkan Keputusan Presiden nomor 6/2000 yang mengatur penyelenggaraan kegiatan, adat budaya, seni dan religi Tionghoa.

Lalu pada 2001 Gus Dur memutuskan Imlek sebagai libur nasional fakultatif dan hadir saat perayaan imlek di Jakarta tahun 2001. Kemudian pada 2002 Presiden Megawati meresmikan Imlek sebagai hari libur nasional.

Sejak saat itulah semua seni budaya, adat istiadat Tionghoa dapat dipertontonkan di depan public, seperti atraksi barongsai dan potehi. Hingga saat ini warga Tionghoa menghirup udara bebas diskriminasi berkat jasa Gus Dur dan Bingky Irawan.

Selamat jalan dan semoga hidup bahagia di surga kedua sahabat sejati, yaitu Bingky Irawan bapak reformasi Tionghoa indonesia bersama dengan Gus Dur bapak pluralisme Indonesia! (acong sunardi)

Berita Terkait