Animasi

Review film Kiki’s Delivery Service, Menjadi Dewasa itu Tidak Mudah

  • Whatsapp
Kiki dan Jiji dalam sebuah adegan film. (rottentomatoes).

KEMPALAN: Setiap dari kita pastilah mendambakan kehidupan yang bebas dengan berbagai macam kesenangan yang ada. Berpetualan melintasi dunia, mencari berbagai macam fakta kehidupan tersembunyi hingga berusaha mencari jati diri yang telah lama mengalami krisis. Namun faktanya setiap manusia pasti melewati masa-masa tersulitnya, bahkan beberapa orang dipaksa untuk dewasa lebih cepat daripada waktu seharusnya. Hal-hal seperti itu setidaknya dapat kita cari dan maknai sendiri dalam animasi Kiki’s Delivery Service yang pertama kali tayang pada tahun 1989.

Siapa yang tidak mengenal Hayao Mayazaki, seorang animator kondang pendiri studio animasi terkenal Ghibli. Beberapa karyanya yang terkenal dan fenomenal adalah Kiki’s Delivery Service. Animasi berdurasi 102 menit itu bercerita tentang petualang Kiki, seorang penyihir kecil yang harus merantau jauh dari rumah asalnya karena tradisi turun-temurun yang harus dilakukan. Ditemani oleh Jiji, kucing hitam kesayangannya yang bisa berbicara bahasa manusia, ia berpetualang jauh ke sebuah kota.

Sesuatu yang menarik dari animasi ini adalah, animasi ini tidak hanya diperuntukan untuk anak-anak tetapi semua usia dan bagaimana banyaknya unsur kebebasan dan petualangan dalam film ini mampu dicerna oleh semua usia. Seorang Kiki yang masih berusia 13 tahun atau dapat dikatakan masih SMP telah merantau jauh dari rumahnya untuk menuntaskan kewajiban tradisi keluarga, sesuatu hal yang mustahil dilakukan oleh anak muda jaman sekarang. Namun siapa sangka, dalam realitas kehidupan banyak nasib anak-anak Indonesia bahkan dunia yang hampir sama dengan Kiki, entah itu merantau karena himpitan ekonomi atau masalah lain seperti perang dan konflik.

Sesaat setelah sampai di kota yang ia tuju, di sanalah Kiki bertemu Koriko dan Suaminya. Koriko adalah seorang ibu muda yang sedang mengandung anaknya. Penggambaran Yoriko adalah seperti kebanyakan orang-orang di dunia ini yang mau menolong dan menampung anak-anak rantau. Dengan sikap tulus, ikhlas bahkan ada yang sampai menganggap anak sendiri, orang-orang tersebut membantu jalan hidup anak-anak yang sedang merantau. Sebuah realitas yang tidak bisa kita tolak bahwa memang banyak seperti itu di dunia.

Saat Kiki mendapatkan pekerjaan pertamanya, ia mengalami masalah karena terjatuhnya paket pesanan berupa boneka kucing hitam dan Kiki berusaha untuk mengakali masalah tersebut sembari mencari bonekanya yang terjatuh. Dalam situasi seperti ini, animasi ini berusaha mengajarkan anak-anak yang mencontoh saat masih dalam tumbuh kembangnya untuk berpikir dalam menyelesaikan masalah namun tetap dalam kejujuran. Memang di saat terpojok seperti ini, kita harusnya mampu menyelesaikan masalah dan mengatasinya dengan kejujuran. Pengalaman setiap orang saat mendapatkan pekerjaan pertamanya terkadang adalah sering gugup dan membuat kesalahan pada pekerjaan pertama.

Masalah kemudian menghadapi Kiki kembali, di mana ia kehilangan kekuatannya dan tidak bisa terbang. Ia kemudian bertemu dengan Ursula, seorang pelukis yang juga merantau dari rumahnya untuk bisa tinggal di hutan dan membuat karya-karya lukisannya. Ursula yang mengetahui hilangnya kekuatan Kiki langsung mengatakan kepada Kiki bahwa Kiki harus menemukan tujuan yang baru agar kekuatannya kembali. Penggambaran Ursulan dalam film ini seperti sahabat atau teman terdekat kita yang terkadang mempengaruhi hidup kita di kemudian hari. Teman-teman dalam dunia kampus atau kerja yang selalu menguatkan kita untuk tetap tegar dalam menghadapi setiap masalah dan menemukan kekuatan kita kembali.

Menjadi dewasa memang tidak mudah, terkadang orang-orang terdekat kita sekalipun dapat berubah, hal tersebut juga terjadi dalam animasi Kiki, Jiji sang kucing hitam sudah tidak bisa lagi berbicara bahasa manusia. Ya, dan Kiki merelakan hal tersebut, sesuatu yang terkadang di usia dewasa kita harus merelakan orang-orang yang sudah tidak bisa kita ajak berbicara dan berubah. Namun satu hal yang pasti, mereka tetaplah teman kita.

Meski animasi ini memilki cerita ringan karena tidak lepas dari realitas yang ada, namun tetap menyimpan banyak pembelajaran dan hikmah pada setiap adegannya. Bagaimana kita harus memperlakukan orang tua juga dapat ditemui dalam animasi ini. Bagaimana hikmah yang terkandung dalam animasi ini tergantung bagaimana kita sebagai penonton menyikapi sesuai dengan pengalaman masing-masing dan menikmatinya.

Terkadang setiap dari kita saat anak-anak menginginkan kehidupan menjadi orang dewasa yang menyenangkan dan penuh tantangan, tetapi terkadang kita sebagai orang dewasa juga menginginkan kembali pada kehidupan masa anak-anak yang penuh akan keceriaan dan permainan. Menjadi dewasa itu tidak mudah. (Abdul Manaf Farid)

Berita Terkait