
KEMPALAN: Kajian mengenai Darul Islam besutan Sekarmaji Marijan Kartosuwiryo sudah terkenal dan diangkat oleh berbagai akademisi dari bermacam-macam latar belakang. Gerakan tersebut memang menarik perhatian tersendiri, karena merupakan gerakan Islam militan pertama di wilayah Asia Tenggara yang bukan bagian dari Republik Indonesia. Hal ini tidak terlepas dari peranan serta cita-cita Kartosuwiryo membangun “Negara Islam Indonesia” (NII) di wilayah Jawa Barat usai penarikan pasukan Republik Indonesia sebagai akibat dari Perjanjian Renville, dimana wilayah RI yang terbatas, justru semakin mengecil, karena hanya Jawa Tengah yang diakui oleh Belanda dalam perundingan tersebut.
Buku ini berasal dari disertasi Holk H. Dengel ketika menempuh studi di Universitas Heidelberg, Jerman. Ia sendiri pernah tinggal di Indonesia selama 10 tahun ketika ayahnya mengajar di salah satu universitas di Indonesia. Dengel berusaha melihat cita-cita Negara Islam dari sudut pandang pemikiran Kartosuwiryo sendiri.
Seorang anak mantri candu, Kartosuwiryo lahir dari keluarga kelas menengah pada masa Indonesia masih di bawah kuasa Belanda. Ia tumbuh menjadi pemuda yang aktif di ranah pergerakan. Usai menempuh pendidikan sekolah, ia berkuliah di NIAS Surabaya, namun karena aktivitas politiknya, Kartosuwiryo muda dikeluarkan dari perguruan tinggi kedokteran itu.
Dalam lembaran-lembaran awal buku ini, Dengel memperlihatkan bagaimana kiprah Kartosuwiryo mulai dari di Jong Java, Jong Islamieten Bond (JIB), Sarekat Islam (SI), dan Partai Sarekat Islam Indonesia (PSII). Menariknya, penulis buku ini memberitakan kisah yang berbeda dari catatan Van Dijk mengenai kiprah Kartosuwiryo yang katanya tinggal di rumah H.O.S Tjokroaminoto. Dengel menyampaikan bahwa pemuda tersebut tidak pernah tinggal di rumah Tjokroaminoto, namun ia memang menjadi sekretaris pribadi sang Singa Podium.
Ketika berkecimpung di Sarekat Islam, nampaknya peranan Kartosuwiryo tidak sepenting seperti H. Agus Salim, Anwar Tjokroaminoto, Abikusno Tjokrosujoso, dan Mohammad Roem. Ia pun tidak begitu terlihat menonjol dalam perpecahan di dalam SI yang mana Roem dan Agus Salim membentuk Gerakan Penjadar untuk mengarahkan SI menjadi organisasi yang lebih kooperatif dengan Pemerintah Kolonial.

Kartosuwiryo dalam perpecahan itu menawarkan jalan ketiga yakni Politik Hidjrah bagi SI. Ia memperjuangkan betul ide Politik Hidjrahnya hingga membuat pamflet yang berisikan penjelasannya mengenai pentingnya sikap Hidjrah ala Nabi Muhammad Saw. Akan tetapi upaya Imam NII itu tidak banyak mendapatkan perhatian dari pihak SI dan pembahasan politik Hidjrah berlalu dengan sendirinya tanpa diterapkan dalam organisasi massa pertama di Indonesia itu.
Dengel dalam buku ini justru lebih sering mengaitkan Kartosuwiryo dengan Masyumi, karena ia memang berkiprah dalam partai itu sebelum mendirikan Negara Islam Indonesia.
Kisah itu dimulai dengan masuknya Jepang ke Indonesia. Pada saat itu, pasukan Jepang sudah memiliki sejumlah nama politisi nasional Indonesia yang penting yang perlu untuk dipegang Jepang agar negara itu bisa dikeruk sumber dayanya oleh Dai Nippon. Nahasnya, nama Kartosuwiryo tidak masuk dalam daftar itu, karena menurut Dengel, ia hanyalah tokoh regional di Jawa Barat saat itu. Namun bukan berarti ia tidak diperhitungkan. Saat Masyumi terbentuk, ia pun dimasukkan ke dalamnya dan mencapai posisi penting di Jawa Barat.
Aktivitasnya di Masyumi ini adalah aktivitas organisasional terakhir sebelum ia pada akhirnya membentuk Darul Islam (DI) – Negara Islam Indonesia. Hal ini dimulai ketika Perjanjian Renville ditandatangani, wilayah Jawa Barat jatuh ke tangan Belanda dan Kartosuwiryo beserta kroninya, menolak untuk pindah ke wilayah Republik Indonesia di Yogyakarta.
Pembentukan NII ini bermuara pada gesekan dengan TNI, karena Kartosuwiryo juga membentuk Tentara Islam Indonesia (TII). TII sendiri berasal dari kesatuan Hizbullah dan Sabilillah, sayap paramiliter Partai Masyumi, yang masih tinggal di Jawa Barat ketika mayoritas orang Indonesia harus hengkang akibat Perjanjian Renville. Dengel menyampaikan bahwa ketidaksukaan terhadap TNI muncul karena pasukan RI itu tidak meninggalkan cukup senjata bagi pejuang DI untuk mempertahankan wilayahnya.

Dapat kita lihat bahwa ia tetap mempertahankan nama Indonesia karena beranggapan bahwa negara yang ia bangun adalah kelanjutan dari perjuangan Indonesia. Ia pun menjaga kontak yang baik, terlepas gesekan antar tentara, dengan pemerintah Republik Indonesia di Yogyakarta.
Pada lembar-lembar selanjutnya dari disertasi Dengel yang dibukukan ini, sang penulis asal Jerman itu lebih mengulas mengenai peranan militer Kartosuwiryo dalam gerakan yang ia canangkan. DI bahkan lebih militeristik ketimbang RI, dan ditopang sepenuhnya dari infaq yang dipaksakan oleh sang Imam bersama kroni-kroninya kepada para penduduk desa di Jawa Barat. Hal itu pada akhirnya membuat penduduk semakin tidak suka dengan DI dan menjadi salah satu alasan banyak yang berkhianat dan membawa kejatuhan Kartosuwiryo bersama organisasinya.
Meskipun awalnya buku akademis, namun buku ini tidak menggunakan kalimat-kalimat yang sukar dipahami dan gaya mengulasnya bukan seperti buku sejarah pada umumnya yang menekankan kronologi, namun didasarkan atas tema. Di bagian awal buku juga mengulas tentang pemikiran Kartosuwiryo, jadi cocok juga buat para pembaca yang mendalami awal pemikiran “ekstrem” keagamaan di Indonesia. (*)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi