Sabtu, 2 Mei 2026, pukul : 16:52 WIB
Surabaya
--°C

Bipang Ambawang dan Wawasan Kebangsaan

KEMPALAN: Kalau seumur hidup Anda belum pernah dengar nama daerah Ambawang, atau alih-alih mengunjungi wilayah itu, tidak perlu galau. Kalau sekarang baru ngeh bahwa Ambawang itu ada di Kalimantan Barat, Anda juga tidak perlu risau. Yang harus Anda lakukan cuma satu, berterima kasih kepada Presiden Joko Widodo yang sudah mengendorse kota Ambawang yang dalam sekejap menjadi viral nasional.
Sebagian besar dari kita mungkin juga baru tahu kalau Ambawang punya makanan khas yang terkenal, yaitu bipang alias babi panggang. Sekali lagi, thanks to Pak Jokowi.

Perihal pengetahuan geografis kita yang rendah, harap dimaklumi karena sudah lama pelajaran geografi atau ilmu bumi dihapus dari mata pelajaran di sekolah. Karena itu harap maklum juga kalau Ferdinand Hutahaean tidak tahu di mana kota Ngawi, dan mengira kota itu ada di Jawa Tengah. Kalau dia dikasih tahu bahwa Ngawi itu secara geografis berada di wilayah Jawa Selatan mungkin dia akan bingung lagi. Maklum dia belum mengikuti wacana yang pernah muncul untuk menjadikan wilayah Mataraman sebagai provinsi Jawa Selatan.

Hasto Kristiyanto, sekjen PDIP, juga pernah blank dan lupa bahwa rumahnya di daerah Bekasi tidak masuk dalam wilayah DKI. Makanya ketika daerahnya kebanjiran Hasto langsung protes ke Anies Baswedan, dia lupa seharusnya bilang ke Anies untuk menyampaikan protesnya ke Ridwan Kamil yang bertanggung jawab terhadap kondisi Bekasi sebagai wilayah kerja Provinsi Jawa Barat.

Sebagai jago tembak sekelas sniper ulung Ferdinand dan Hasto memang jago tembak cepat. Dari berbagai posisi mereka bisa menembak apa saja. Bisa tepat sasaran tapi sering juga meleset. Kalau meleset biasanya harus cari alasan untuk ngeles supaya tidak tengsin alias malu, apalagi harus minta maaf.

Jokowi juga tidak perlu minta maaf karena kepeleset lidah mempromosikan babi panggang Ambawang untuk menjadi oleh-oleh Lebaran. Promosi itu dia sampaikan
pada Hari Bangga Buatan  Indonesia. Dalam sebuah pesan video yang diunggah di akun YouTube Kementerian Perdagangan (5/5) Jokowi pun awalnya mengingatkan bahwa saat ini pemerintah melarang mudik Lebaran demi keselamatan warga.

“Bapak, ibu, dan saudara-saudara sekalian, sebentar lagi Lebaran. Namun, karena masih dalam suasana pandemi, pemerintah melarang mudik untuk keselamatan kita bersama,” kata Jokowi dalam video itu.

Dia lantas mengimbau warga memesan kuliner khas daerah secara daring. Salah satu yang dia sebut ialah bipang Ambawang, yang merupakan babi panggang khas Kalimantan Barat. “Untuk bapak, ibu, dan Saudara-saudara yang rindu kuliner khas daerah atau yang biasannya mudik membawa oleh-oleh, tidak perlu ragu untuk memesannya secara online. Yang rindu makan gudeg Jogja, bandeng Semarang, siomay Bandung, empek-empek Palembang, bipang Ambawang dari Kalimantan, dan lain-lainnya, tinggal pesan. Dan makanan kesukaan akan diantar sampai ke rumah,” ujar Jokowi.

Kontan pernyataan soal bipang Ambawang ini disambar oleh para sniper medsos dan dengan secepat kilat menyebarkannya ribuan kali sehingga merantak menjadi viral dalam waktu singkat. Ambawang dan babi panggang yang tidak banyak dikenal dan disebut orang mendadak menjadi buah bibir. Sebagai sebuah product endorsement apa yang dilakukan Jokowi adalah sukses besar, tapi sebagai public speech yang dilakukan seorang kepala negara kesalahan itu bisa membuat malu. Bagaimana mungkin babi panggang dikonsumsi dalam suasana Lebaran?

Ambawang yang mendadak viral

Ada bipang camilan khas Jawa yang terbuat dari beras yang dicampur gula merah. Jokowi pasti tahu dan pernah memakannya sewaktu masa kanak-kanak di Solo. Tapi bipang yang dipromosikan Jokowi ini adalah babi panggang yang tentu saja haram bagi umat Islam untuk dimakan atau dibeli untuk oleh-oleh Lebaran.

Sebenarnya bukan cuma bipang Ambawang yang disebut oleh Jokowi, ada gudeg Jogja, siomay Bandung, dan pempek Palembang. Tapi karena bipang adalah babi panggang maka banyak yang bertanya mengenai sensitifitas Jokowi dalam soal agama.

Kasus bipang ini bisa mengalihkan perhatian orang dari kasus tes wawasan kebangsaan di KPK, paling tidak perhatian orang terpecah jadi dua, dan humas KPK harus berterima kasih kepada Presiden Jokowi. Tapi, bisa jadi kalau nanti ada tes wawasan kebangsaan putaran kedua di KPK soal bipang Ambawang ini jadi salah satu materi tes untuk mengukur wawasan kebangsaan seseorang.

Sebagai negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia Indonesia adalah surga bagi produk halal. Presiden Jokowi dan sejumlah menteri juga sudah mempromosikan gerakan ekonomi syariah dan gerakan produk halal. Tren masyarakat muslim Indonesia untuk mengonsumsi produk halal semakin tinggi akhir-akhir ini, bukan hanya kuliner tapi juga produk lain yang syar’i mulai dari pakaian sampai kosmetik dan pernak-pernik lain.

Pasar syar’i dan produk halal internal ini menjadi potensi yang masif untuk bisa membangkitkan ekonomi dalam negeri. Sayangnya sampai sekarang Indonesia masih ketinggalan jauh dalam persaingan porduk halal dunia. Justru yang menjadi negara produsen halal dunia nomor satu adalah Brazil yang mayoritas penduduknya Katolik. Jadinya terasa ironis karena Brazil lebih maju dibanding Indonesia dalam memenuhi standar halal compliance, dan karenanya produk halal Brazil lebih mendominasi dunia.

Konsumsi atas makanan halal yang terindikasi dalam State of Global Islamic Economy Report 2020-2021  menunjukkan bahwa pengeluaran konsumen muslim Indonesia untuk konsumsi halal di berbagai sektor seperti makanan dan minuman, farmasi dan kosmetik halal, busana halal, wisata halal, media dan hiburan halal, dan keuangan syariah mencapai telah mencapai USD 2,02 triliun di 2019. Jumlah ini diperkirakan akan tumbuh sampai menembus USD 3 triliun pada 2023.

Potensi besar itu belum bisa dimaksimalkan oleh yang sampai sekarang lebih banyak menjadi konsumen daripada produsen. Dengan jumlah penduduk 270 juta yang hampir 90 persennya muslim, Indonesia menjadi pasar halal yang bahkan lebih besar dari total seluruh Timur Tengah. Tapi sampai sekarang hanya berada di peringkat 10 sebagai negara produsen produk halal dunia. Sebagai negara muslim terbesar di dunia, ternyata Indonesia hanya sebagai pasar konsumsi produk halal. Sebanyak 12,6% produk makanan halal di dunia diimpor ke Indonesia.

Konferensi makanan halal internasional

Produsen produk konsumsi halal nomor satu di dunia adalah Brazil, lalu disusul Australia, dan negara lainnya. Republik Indonesia sebagai negara muslim terbesar, namun makanan halalnya masih impor.

Pasar halal global yang sangat besar itu seharusnya menjadi target Indonesia karena tren pasar itu akan terus berkembang. Faktor utama yang mendorong fenomena ini adalah peningkatan jumlah penduduk muslim di dunia yang telah mencapai 1,84 miliar orang pada 2017 dan diperkirakan akan terus meningkat hingga 27,5 persen dari total populasi dunia pada 2023.

Dengan perkiraan penduduk muslim yang akan mencapai 2,2 milliar jiwa pada tahun 2030, maka angka perekonomian pasar industri halal global ini akan terus meningkat dengan pesat. Ini adalah kesempatan Indonesia untuk bermain di kancah industri halal dunia.

Tanpa harus menjadi sales babi panggang pun Jokowi punya kesempatan besar untuk membangkitkan ekonomi nasional dengan fokus pada halal market internasional.

Tapi, lagi-lagi selip lidah Jokowi seperti bipang ini bisa mengurangi trust umat Islam. Apalagi para sniper dan tukang goreng sudah bergerak cepat adu argumen dan menarik masalah ini menjadi isu politik.

Seperti biasanya, Jokowi akan melakukan political ghosting lagi, menghantu, menghilang tidak berkomentar apalagi meminta maaf. Yang sibuk minta maaf malah Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi yang sudah dua kali bikin blunder.

Saat membuka rapat kerja nasional Kementerian Perdagangan tahun 2021 di Istana Negara (4/3)
Jokowi berkampanye cinta produk Indonesia dan benci produk luar negeri. Seruan itu penting dikumandangkan supaya masyarakat loyal terhadap hasil karya anak negeri. “Bukan hanya cinta, tapi benci. Cinta barang kita, benci produk dari luar negeri. Sehingga betul-betul masyarakat kita menjadi konsumen yang loyal sekali lagi untuk produk-produk Indonesia,” ujarnya.

Setelah diprotes banyak orang Menteri Lutfi yang sibuk meminta maaf. Sekarang selip lidah terjadi lagi. Kali ini Lutfi yang minta maaf lagi.
Tapi karena sudah menjelang Lebaran sebaiknya kali ini Jokowi langsung yang minta maaf kepada umat Islam sekalian halal bihalal. (*)

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.