Oleh: Ferry Is Mirza
Wartawan Utama, Pengurus PWI Jawa Timur
KEMPALAN: Waktu terus bergerak, tidak terasa hari ini kita sudah berpuasa 25 hari dan memasuki hari terakhir di bulan Ramadhan. Puasa hakikatnya, adalah “jihad” suatu momentum pertarungan melawan diri sendiri. Melawan hawa nafsu dan godaan yang muncul dari dalam diri sendiri, maupun godaan dari luar diri yang ingin agar seorang muslim lalai dari ikhtiar mereka untuk mensucikan jiwanya agar kembali menjadi insan yang fitri, suci dengan gelar taqwa di akhir Ramadhan.
“Demi Masa, sesungguhnya manusia benar-benar dalam kerugian, kecuali bagi mereka yang beriman kepada Allah, dan senantiasa berbuat kebajikan, serta senantiasa saling ingat-mengingatkan dijalan kebenaran, dan saling mengingatkan agar senantiasa bersabar”
(QS, Al-Ashr)
Hampir bisa dipastikan bahwa sebagian besar umat Islam sudah “kalah” dilihat dari kian berkurangnya isi masjid-masjid untuk melaksanakan sholat berjamaah, dibanding awal-awal masuknya bulan suci Ramadhan. Mungkin juga sudah ada yang “bolong” pelaksanaan ibadah puasanya. Sebagian besar lainnya sudah disibukkan dengan urusan THR, urusan persiapan mudik, dan berbagai urusan duniawi lainnya, yang semuanya itu dimotivasi bukan lagi untuk mendekatkan diri kepada Allah, tetapi lebih banyak dimotivasi oleh dorongan nafsu duniawi. Kecintaan kepada harta, sanak family, dan pekerjaan, telah jauh lebih tinggi daripada kecintaannya kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
Padahal, memasuki fase hari hari terakhir dibulan Ramadhan, seharusnya umat Islam harus jauh intens mendekatkan diri kepada Allah. Bukan hanya karena pada hari terakhir itu, janji akan ampunan Allah dari siksaan api neraka akan diberikan, atau bukan pula karena pada hari terakhir itu semangat perjuangan sudah makin banyak tergerogoti oleh berbagai godaan duniawi seperti yang telah disebutkan diatas, namun juga karena hari hari terakhir dibulan Ramadhan itu, seharusnya menjadi momentum reevaluasi dan revitalisasi makna ibadah Ramadhan, yang dengan melakukan tafakkur, i’tikaf dan berbagai upaya mujahadah, seorang akan dituntun dalam memasuki alam musyahadah. Dimana dialam musyahadah atau penyaksian itu, umat Islam akan memiliki pandangan yang jernih akan hakikat kebenaran. Memperolehnya adalah bekal yang sangat penting untuk menapaki 11 bulan berikutnya.
Apalah artinya ucapan “Minal aidzin wal faidzin” diakhir Ramadhan, disaat hari fitri itu tiba, jika kita tidak termasuk didalam orang-orang yang menang.
Ungkapan seperti itu hanya akan menjadi ungkapan yang klise, tanpa makna. Karena sesungguhnya hati kita, kesadaran diri kita tahu, bahwa sesungguhnya pelaksanaan ibadah yang telah kita lakukan biasa-biasa saja. Tidak ada yang istimewa dari hari-hari diluar bulan Ramadhan.
Kita tentu tidak ingin seperti itu. Kita ingin benar-benar menjadi pemenang, karena kita patut untuk menang. Kita patut menang karena kualitas kita patut untuk memperoleh gelar orang yang bertaqwa. Kita tidak ingin menang semata-mata karena pencitraan saja, melalui berbagai kegiatan-kegiatan seremonial yang dipublikasikan luas.
Bukan itu hakikat kemenangan. Hakikat kemenangan adalah ketika kita mampu mengalahkan diri kita sendiri, ego kita, kerakusan kita, ketamakan kita, dan lain-lain bentuk-bentuk perilaku buruk lainnya.
Akhirnya, marilah saudaraku semua, maksimalkan ibadah kita yang tinggal menghitung hari di bulan suci tahun ini. Sebab, belum tentu kita bertemu kembali bulan Ramadhan yang penuh rahmat, bulan penuh ampunan ini pada tahun berikutnya.
Barakallahu fiikum (*)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi