Senin, 25 Mei 2026, pukul : 05:08 WIB
Surabaya
--°C

Menggapai Rahmat dan Ampunan Allah

Oleh: Ferry Is Mirza

Wartawan Utama,  Pengurus PWI Jawa Timur

KEMPALAN: Umumnya kita sebagai ummat Islam yang mengaku beriman seringkali terlena didalam menyikapi bulan Ramadhan. Dan terkadang pula seringkali keliru dalam menafsirkan makna dari sebuah firman Allah atau hadist-hadist Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam. Sehingga didalam bermu’amalah kita sering keliru.

Salah satu contoh hadist yang seringkali kita keliru dalam memahaminya yaitu sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Al Baihaqi dengan lafaz :
“Tidurnya orang yang berpuasa adalah ibadah, diamnya adalah tasbih, do’anya dikabulkan, dan amalannya pun akan dilipatgandakan pahalanya.”

Yang benar, tidur adalah perkara mubah (boleh) dan bukan ritual ibadah. Maka, sebagaimana perkara mubah yang lain, tidur dapat bernilai ibadah jika diniatkan sebagai sarana penunjang ibadah. Misalnya, seseorang tidur karena khawatir tergoda untuk berbuka sebelum waktunya, atau tidur untuk mengistirahatkan tubuh agar kuat dalam beribadah.

Sebaliknya, tidak setiap tidur orang yang berpuasa itu bernilai ibadah. Sebagai contoh, tidur karena malas, atau tidur karena kekenyangan setelah berbuka puasa atau setelah sahur. Keduanya, tentu tidak bernilai ibadah, bahkan bisa dinilai sebagai tidur yang sia-sia atau tercela.

Oleh karena itu, hendaknya seseorang menjadikan bulan Ramadhan sebagai kesempatan baik untuk memperbanyak amal kebaikan. Bukan untuk melakukan perbuatan yang sia-sia (lughah) seperti main kartu, nongkrong-nongkrong dipinggir jalan, tidur yang berlebihan, lalu lalang dijalanan, dan lain sebagainya.

Dengan dasar ini kaum muslimin dibulan Ramadhan seringkali bermalas-malasan, waktu-waktu yang seharusnya dimanfaatkan untuk bertaqarrub kepada Allah digunakan untuk tidur sepanjang hari, karena dianggapnya bahwa tidur yang dia lakukan tersebut merupakan bahagian dari ibadah dibulan Ramadhan. Padahal tidur yang dimaksudkan dalam hadist tersebut adalah tidur yang sekedar untuk memulihkan tenaga atau untuk melepas rasa lelah, untuk menghilangkan penat yang setelah seharian bekerja dikantor, dipasar, dipabrik, ataupun setelah melakukan aktifitas lainnya dan waktunya pun berkisar antara 10 sampai dengan 30 menit, akan tetapi kalau tidurnya berjam-jam bahkan sampai hampir seharian sehingga waktu shalat seringkali terabaikan bukan itu yang bernilai ibadah malahan akan mengundang murka Allah sehingga tidak dapat merasakan bagaimana nikmatnya rasa lapar atau berpuasa.

Dengan demikian apa yang diharapkan dari tujuan disyariatkannya puasa tersebut tidak akan bisa tercapai. Oleh sebab itu sebelum dan didalam kita memasuki Ramadhan sebaiknya kita perlu membekali diri dengan persiapan-persiapan yang optimal terutama yang berkaitan dengan ibadah Ramadhan baik yang berupa ilmu maupun kesehatan fisik agar secara internal kita siap untuk menjalani bulan Ramadhan sehingga apa yang diharapkan dari tujuan disyari’atkannya ibadah puasa tersebut (La’allakum tattaquun) paling tidak dapat kita raih.

In syaa Allah di bulan suci ini kita dapat menggapai rahmat dan ampunan Allah Ta’ala.  (*)

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.