KEMPALAN: Jokowi Manusia Kontradiksi. Itu kata penulis Australia Ben Bland dalam bukunya “Man of Contradictions: The Struggle to Remake Indonesia” (2020). Buku ini cuma berisi 120 halaman tapi menukik tajam ke jantung identitas politik Jokowi. Di mata Bland, Jokowi adalah sosok yang unik. Dia bertindak tanpa visi yang jelas. Keras kepala dan enggan mendengar analisis. Tapi di sisi lain Bland melihat paradoks karena dengan segala kontroversi itu Jokowi tetap dicintai oleh rakyat.
Tragedi tenggelamnya KRI Nanggala mungkin akan mengisi bab baru di buku Bland kalau dia mau cetak ulang. Tragedi ini membuka kenyataan kerawanan dan kerapuhan sistem pertahanan laut Indonesia, sekaligus mengungkap kontradiksi terhadap janji kampanye Jokowi untuk menjadikan Indonesia sebagai poros maritim dunia.
Tragedi ini menunjukkan bahwa janji-janji itu hanya sekadar layanan bibir saja dan keinginan untuk menjadikan Indonesia poros maritim masih jauh panggang dari api. Alih-alih jadi poros maritim, malah jadi boros maritim, potensi laut Indonesia banyak hilang dijarah kapal asing, dan Indonesia kehilangan momentum besar dalam percaturan geopolitik internasional yang sekarang mulai bergeser ke poros Asia-Pasifik.
Abad ke-21 ini menandai penurunan peran hemisfer barat sebagai poros dunia dan memunculkan Asia sebagai “The New Hemisphere”, hemisfer baru yang bakal menjadi mesin pergerakan dunia baru.
Pergeseran hemisfer ini akan mengakibatkan pergeseran kekuatan superpower dunia. Momentum Perang Dunia Kedua 1940 sampai 1945 menjadi momentum kemunculan Amerika Serikat sebagai kekuatan adidaya dunia. Berbagi dengan Uni Soviet yang menguasai blok Eropa Timur yang sosialis-komunis, Amerika menguasai blok Eropa Barat yang kapitalistis-liberal. Blok komunis hanya bertahan 45 tahun dan runtuh pada 1990 bersamaan dengan ambruknya Uni Soviet dan Yugoslavia. Amerika menjadi penguasa tunggal dan mengatur dunia dengan tata dunia baru, the world order, versinya sendiri.
Francis Fukuyama menyebut momentum kemenangan Amerika itu sebagai “The End of History” (1991), komunisme-sosialisme sudah tamat dan kapitalisme-liberalisme menjadi kampiun tunggal dunia di bawah Amerika. Fukuyama percaya kepada Hegel bahwa sejarah berjalan lurus linear dan akan mencapai puncak tertinggi pada akhir sejarah. Puncak sejarah itu adalah tercapainya kebebasan manusia untuk mencapai hak-hak kemanusiaannya seperti kesejahteraan dan kebebasan berpolitik. Hal itu tercapai melalui sistem demokrasi liberal dan ekonomi kapitalistik. Karena itu ketika rezim komunis jatuh Fukuyama memproklamasikan bahwa sejarah sudah berakhir dan rezim liberal-kapitalis dinyatakan sebagai juara.
Tapi itu adalah sejarah versi barat. Ibnu Khaldun tidak percaya bahwa sejarah berjalan linear. Sebaliknya, sejarah berjalan sirkular berputar dan kekuasaan akan bergilir dari zaman ke zaman dan dari bangsa ke bangsa.

Hanya 30 tahun setelah proklamasi Fukuyama dominasi Amerika sudah terlihat mengeropos dan kepemimpinan globalnya memudar. Pandemi Covid 19 menjadi ujian kepemimpinan internasional Amerika dan ternyata Amerika tidak lulus. Jangankan mengurusi negara lain, mengurusi dirinya sendiri saja Amerika mengalami kesulitan. Sampai sekarang, hampir dua tahun setelah pandemi muncul, Amerika masih menjadi negara penderita tertinggi di dunia.
Pada Perang Dunia Kedua Amerika menjadi pemimpin kekuatan Sekutu menghadapi Jepang dan Nazisme Jerman dan bisa membawa kemenangan gemilang.
Tapi kali ini Amerika gagal menghadapi perang melawan pandemi. Sekutu-sekutu lama Amerika di Eropa pun juga sama-sama tunggang-langgang menghadapi serangan pandemi. Sistem kesehatan ambruk dan ekonomi berantakan.
Pada sisi lain China hanya butuh tiga bulan untuk menaklukkan pandemi secara tuntas dan kemudian melakukan serangan balik untuk melakukan recovery ekonomi dan menggenjot pertumbuhan. Dalam teori perang serangan kilat yang mematikan disebut sebagai “Blitzkrieg” yang dipopulerkan oleh tentara Jerman yang menyergap cepat dan mematikan melalui kekuatan infanteri yang canggih. Tapi Jerman justru kalah terkena serangan blitzkrieg Amerika. Dan kali ini Amerika dan Jerman yang bersekutu sama-sama mati kutu kena serangan blitzkrieg ala Covid 19.
Justru China yang sukses menerapkan strategi blitzkrieg terhadap Covid 19 dengan menyerang dan menyergap cepat dan tepat. Dalam waktu singkat China melakukan lockdown total. Seluruh kota Wuhan diisolasi, dikarantina menjadi kamp konsentrasi terbesar di dunia setelah Perang Dunia Kedua. Jerman Nazi adalah arsitek kamp konsentrasi paling canggih. Tapi Jerman yang demokratis sekarang tidak mungkin menerapkan model kamp konsentrasi seperti itu. China yang komunis bisa mengadopsi model itu dan mampu menyelesaikan krisis secara mangkus dan sangkil, efektif dan efisien.
Tanda-tanda pergeseran kekuatan dunia dari Amerika sudah semakin dekat. Mungkin China tidak akan bisa mengambil alih posisi Amerika sebagai super power tunggal dunia. Tapi yang sudah hampir pasti adalah Amerika tidak akan lagi bisa menjadi penguasa tunggal dunia. Tidak bisa lagi ada polar tunggal Amerika, akan ada bipolar, dua poros dunia, Amerika dan China.
Sebagaimana pasca-Perang Dunia Kedua ketika Amerika dan Uni Soviet terlibat dalam perang dingin, the cold war, selama setengah abad, kali ini akan ada versi baru perang dingin antara Amerika melawan China. Selama ini disebut sebagai perang dagang, tapi tidak sepenuhnya tepat, karena perang Amerika vs China bukan hanya perang dagang tapi perang memperebutkan dominasi dan hegemoni. Mungkin bisa disebut sebagai “Cold War Part Two” perang dingin jilid dua, atau mungkin ini perang yang rada hangat-hangat kuku atau “the lukewarm war”.
Medan pertempuran sudah bergeser dari hemisfer Eropa ke hemisfer Asia. Prof. Kishore Mahbubani, ahli strategi global dari Singapura mengungkap dalam “The New Asian Hemisphere, The Irresistable Shift of Global Power to The East” (2008) bahwa perpindahan sentra kekuatan dunia dari Eropa ke Asia itu tidak bisa dihindarkan lagi. Indikasi utamanya adalah kemajuan dan pertumbuhan ekonomi Asia yang sangat kuat dengan dimotori oleh China, Jepang, dan Korea Selatan, serta India di Asia bagian selatan.

China tidak bisa menyembunyikan ambisinya untuk menjadi kekuatan utama dunia, sementara Amerika akan mempertahankan dominasi lamanya sekuat tenaga.
Di bawah Presiden Joe Biden Amerika berusaha memainkan kembali kepemimpinan global yang hilang selama kepresidenan Donald Trump. Biden lebih peduli kepada politik internasional dan akan lebih serius menghadapi tantangan China untuk memperebutkan dominasi dunia. Biden lebih peduli terhadap masalah-masalah demokrasi dan hak-hak asasi manusia. Pelanggaran demokrasi dan HAM tidak akan dibiarkan begitu saja seperti di zaman Trump.
Perang hangat-hangat kuku itu sekarang berpusat di Laut China Selatan yang menjadi kerongkongan bagi China untuk menguasai jalur perdagangan dan militer Samudera Pasifik. Amerika menjadi superpower dunia karena menguasai jalur Atlantik melalui Karibia. China akan menguasai dunia dengan menguasai jalur Pasifik melalui Laut China Selatan.
Pertempuran besar ini terjadi persis di halaman belakang Indonesia. Mau tidak mau Indonesia harus menentukan sikap dalam percaturan global ini. Jokowi, seperti diungkap Ben Bland, tidak ngeh terhadap perubahan geopolitik besar ini dan tidak mengambil kebijakan yang serius untuk mengantisipasinya.
Tragedi KRI Nanggala tidak bisa dilihat sebagai peristiwa kecelakaan tunggal semata. Jokowi sebagai Panglima Tertinggi TNI tidak cukup hanya mengucapkan belasungkawa, atau Menhan Prabowo mengunjungi keluarga korban dan memberikan bantuan dan beasiswa. Indonesia mempunyai posisi strategis untuk dimainkan dalam percaturan geopolitik global ini.
Kata Bung Hatta, Indonesia harus cerdik mendayung di antara dua karang. China adalah karang di sebelah kiri dan Amerika adalah karang di sebelah kanan. Dua-duanya sama-sama kokoh, keras, dan berbahaya. Membentur ke kiri kapal Indonesia bisa karam, membentur ke kanan kapal bisa hancur.
Dua karang itu beradu kuat saling berebut kekuasaan. Ibarat dua gajah yang bertarung, Indonesia jangan sampai jadi pelanduk yang mati konyol. (*)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi