Sabtu, 2 Mei 2026, pukul : 01:41 WIB
Surabaya
--°C

Jasa Ibu Tak Terbilang, Tak Mungkin Terbalas

KEMPALAN: Pada tanggal 12 April tahun ini, tepat pula 12 tahun yang lalu, ibunda dipanggil menghadap-Nya untuk selama-lamanya. Tapi meski 12 tahun telah pergi, tapi ajaran-ajaran kebaikan yang ditanamkan pada kami, terutama anak-anaknya, tak mungkin ikut terkubur oleh waktu.

Ajaran dan ujaran kebaikan yang ditanamkan pada kami, selalu terkenang dan bahkan jadi pegangan dalam menjaga adab silaturahim, diantaranya. Tentu banyak hal-hal lainnya, yang mustahil dapat kami kisahkan di sini.

Tapi ada satu hal yang teringat dan itu membekas, yaitu kata “maaf” yang selalu disampaikan Ibu setelah mengakhiri silarurahim pada keluarga dan kerabat. Kenapa mesti selalu minta maaf, tanyaku suatu waktu. Jawabnya, tidak ada yang salah dalam meminta maaf itu. Meminta maaf itu bukan karena salah. Tapi mungkin ada silap kata yang tidak disadari.

Dan kebiasaan meminta maaf (afwan) itu pun lalu menjadi kebiasaan saat berkomunikasi dengan kawan. Kata “afwan” selalu menjadi penyerta menyudahi komunikasi. Itulah ajarannya yang tanpa disadaripun lalu jadi kebiasaan diri ini memakainya.

Pada kesempatan ini, ingin “ngabuburit” berkisah tentang “ibu”. Sungguh berbahagialah mereka yang masih memiliki seorang ibu, tempat sandar untuk meminta doa dan kesempatan bisa berbakti padanya, meski mustahil bisa terbayar sebagaimana jasa seorang ibu pada anaknya. Bagi yang sudah ditinggal ibu selama-selamanya, tetaplah mengenang kebaikannya, dan selalu senandungkan doa untuknya. Jangan pernah putus silaturahim dengan doa dengannya.

Jasa yang Mustahil Terbalas

Ibu bermakna kelembutan yang murni. Ibu merupakan sumber kasih sayang tak ternilai. Ibu juga bermakna kesetiaan dan kebaikan.

Bagaimana mungkin kita bisa membalas jasanya itu?

Ada ungkapan “dahsyat” dari Sayyidina Ali Radhiyallahu Anhum, menggambarkan itu semua dengan begitu baiknya, “Lelaki meninggal hanya sekali, tetapi seorang ibu meninggal setiap kali ia melahirkan.”

Sayyidina Ali  Radhiyallahu Anhum menambahkan, “Sakitnya saat melahirkan, sama seperti sakitnya saat sakaratul maut.”

Sungguh ungkapan yang tepat untuk menggambarkan, betapa dahsyatnya penderitaan seorang ibu, yang setiap melahirkan anaknya merasakan kesakitan layaknya seseorang yang tengah menghadapi sakaratul maut.

Ada kisah menarik.

Suatu ketika Imam Hasan al-Bashri melakukan tawaf di Ka’bah. Beliau bertemu dengan seorang pemuda yang juga sedang bertawaf dengan memanggul keranjang.

Beliau bertanya, apa isi keranjang itu? “Aku menggendong ibuku di dalamnya,” jawab pemuda itu. “Kami orang miskin. Sudah bertahun-tahun ibuku ingin beribadah haji. Tetapi kami tidak mampu membayar ongkos perjalanannya…

Aku tahu persis keinginan ibuku itu amat kuat. Ia sudah terlalu tua jika harus berjalan, tetapi ia selalu membicarakan Ka’bah. Dan kapan saja ia memikirkannya, air matanya berlinang…

Sebagai anaknya, aku tak sampai hati melihatnya seperti itu, maka aku membawanya dalam keranjang ini, memanggulnya sepanjang perjalanan dari Suriah ke Baitullah.”

Lanjutnya, “Orang mengatakan bahwa hak orangtua sangat besar. Aku ingin bertanya padamu tentang itu, wahai Imam, apakah aku ini bisa dianggap telah mampu membayar jasa ibuku dengan berbuat ini untuknya?”

Imam Hasan al-Bashri menjawab, “Sekalipun berbuat seperti itu lebih dari tujuh puluh kali, engkau takkan pernah dapat membayar sebuah tendanganmu ketika engkau masih dalam perutnya.”

Subhanallah. (Ady Amar)

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.