Sabtu, 16 Mei 2026, pukul : 02:57 WIB
Surabaya
--°C

NATO Minta Rusia Tarik Pasukan dari Ukraina, Situasi Krimea Semakin Tegang

MOSKOW-KEMPALAN: Sekertaris Jenderal NATO, Jen Stoltenberg meminta Rusia untuk menarik pasukannya dari Ukraina pada Selasa (13/4). Ia menyampaikan kekhawatiran mengenai perkembangan di perbatasan Ukraina.

“Dalam beberapa pekan terakhir Rusia telah memindahkan ribuan pasukan siap tempur ke perbatasan Ukraina, pasukan Rusia terbesar sejak aneksasi ilegal Krimea pada 2014,” kata Stoltenberg. “Rusia harus mengakhiri pembangunan militer ini di dan sekitar Ukraina, menghentikan provokasinya dan segera mereda,” katanya pada konferensi pers dengan Menteri Luar Negeri Ukraina Dmytro Kuleba seperti yang dikutip Kempalan dari Daily Sabah.

NATO dan negara-negara Barat harus bertindak cepat untuk mencegah peningkatan kekerasan antara Ukraina dan Rusia, kata Kuleba, mengatakan sanksi lebih lanjut terhadap Moskow dan lebih banyak bantuan militer ke Kyiv dapat membantu.

“Pada tingkat operasional, kami membutuhkan langkah-langkah yang akan menghalangi Rusia dan yang akan berisi niat agresifnya. Ini bisa menjadi … babak baru sanksi yang akan menaikkan harga agresi Rusia,” tutur Kuleba dalam konferensi pers yang dikutip dari Reuters.

Ia juga menyampaikan bahwa hal tersebut bisa jadi dukungan langsung yang bertujuan memperkuat kemampuan pertahanan Ukraina.  Ia juga menyatakan bahwa negaranya mengetahui Rusia tidak melakukan upaya apapun guna mencegah negara ketiga bekerja sama dengan Ukraina dalam sektor pertahanan. Menurutnya, Rusia sedang berusaha merusak kemampuan pertahanan negara tetangganya.

“Jika Moskow mengambil langkah sembrono atau memulai spiral kekerasan baru, itu akan (memakan biaya) mahal dalam segala hal,” ujar Kuleba, sementara Stoltenberg menekankan bahwa aliansi Barat, dan bukan Moskow, yang akan memutuskan apakah Ukraina bergabung di masa depan.

“Terserah 30 sekutu NATO untuk memutuskan kapan Ukraina siap menjadi anggota. Tidak ada orang lain yang berhak mencoba mencampuri atau mencampuri proses itu,” kata Stoltenberg seraya menambahkan bahwa Rusia sedang mencoba membangun kembali semacam lingkungan pengaruh dimana mereka mencoba untuk memutuskan apa yang dapat dilakukan tetangganya.

Sementara itu, Pemerintah Rusia pada hari yang sama menuding AS dan negara NATO lainnya berusaha mengubah Ukraina menjadi “tong mesiu.”

“Amerika Serikat dan negara-negara NATO lainnya dengan sengaja mengubah Ukraina menjadi tong mesiu,” kata Wakil Menteri Luar Negeri Sergei Ryabkov seperti dikutip oleh kantor berita Rusia seraya menambahkan bahwa negara-negara itu menyuplai senjata ke Ukraina. Ia juga memperingatkan bahwa Rusia akan melakukan segalanya untuk memastikan keamanannya jika ada gangguan.

“Tapi Kiev dan sekutunya di Barat akan sepenuhnya bertanggung jawab atas konsekuensi eksaserbasi hipotetis,” tambah Ryabkov.

Mengomentari pernyataan bersama negara-negara G-7 dan Perwakilan Tinggi Uni Eropa, Ryabkov mencatat bahwa “tidak ada yang baru dan tidak ada yang konstruktif pada situasi umum pada prinsipnya dan tidak mungkin.” Ryabkov menegaskan bahwa “G-7 terus merosot” dan perannya dalam urusan internasional menurun.

Pemerintah Rusia juga memperingatkan AS untuk menjauhkan kapal perangnya dari wilayah Krimea yang didudukinya dan menganggap gerakan tersebut sebagai provokasi.

“Sama sekali tidak ada yang bisa dilakukan kapal-kapal Amerika di dekat pantai kita, ini murni tindakan provokatif. Provokatif dalam arti kata langsung: mereka menguji kekuatan kita, mempermainkan saraf kita. Mereka tidak akan berhasil,” tutur sang wamenlu. (Daily Sabah, rez)

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.