Oleh:
Nasmay L. Anas
Mantan Wartawan Harian Jawa Pos
KEMPALAN: LAGI-LAGI kita harus berduka. Terror bom terulang dan terulang kembali. Pelaku dan para korban semuanya anak bangsa. Semuanya saudara kita. Sebagian bahkan mungkin juga muslim. Karenanya, di beberapa tempat, pihak keamanan memberlakukan ketentuan ‘siaga satu’. Membuat takut sebagian warga. Membuat suasana jadi tegang mencekam. Mal mal jadi sepi. Terminal-terminal bis kosong melompong. Tidak sedikit orang yang tak berani keluar rumah.
Pertanyaan kita, benarkah para pelaku serangkaian serangan bom ini muslim? Seandainya mereka muslim, apakah mereka yakin bahwa ini adalah cara jihad yang tepat? Nyatanya, ini tidak hanya mencoreng nama Islam. Agama yang dari namanya saja sudah berarti damai. Tapi juga membuat saudara-saudara sesama muslim terhina.
Toh, dengan alasan ini, pihak berwajib punya alasan untuk memperlakukan para ikhwan dan akhowat kita dengan semena-mena. Memaksa mereka turun dari kendaraan umum. Menggeledah tas dan kardus yang telah diikat rapih. Bahkan menyuruh bongkar semua barang-barang bawaan mereka. Sehingga bergeletakan di jalanan umum. Dengan dilingkari sejumlah polisi yang menodongkan senjata laras panjang. Sehingga terpampang jelas di depan mata banyak orang. Ada sikat gigi, kain sarung, handuk mandi, bahkan juga celana dalam.
Itukah yang mereka inginkan? Menjadikan umat Islam yang lain sebagai sasaran caci maki. Menjadikan orang-orang yang tidak bersalah dan tak tahu apa-apa jadi korban perlakuan biadab tak berprikemanusiaan. Itukah yang mereka inginkan?
Sekali lagi, kita harus menyatakan kita berduka. Duka yang sangat dalam. Bukan hanya karena pelaku disebut-sebut muslim. Tapi lantaran kita sejatinya tidak punya informasi yang lengkap. Tentang apa sesungguhnya yang terjadi. Apa sejatinya yang tersembunyi dan tak mungkin terkuak dari balik semua ini. Selanjutnya, kita hanya mampu mengurut dada. Memendam sendiri duka kita dalam-dalam. Membiarkan airmata luruh ke dalam.
Di luar itu, semua aksi pemboman ini mengingatkan kita akan jihad salah kaprah Ibnu Muljam yang sesat. Generasi awal pelaku jihad yang mengorbankan saudara muslimnya sendiri. Karena kebodohannya. Karena cetek banget ilmunya. Karena dangkal sekali pemahamannya tentang jihad. Walaupun dia adalah seorang hafiz qur’an. Seorang sahabat Nabi yang terkenal karena kesalehan dan ketekunan beribadahnya.
Begitulah sejarah kelam pembunuhan sesama muslim yang tak akan terlupakan sepanjang masa. Tapi kenyataannya hal itu hari-hari ini terulang kembali. Itulah sejarah kelam di akhir Khulafaur Rasyidin. Ketika khalifah terakhir Ali bin Abi Thalib hendak menyelesaikan sholat subuhnya tanggal 19 Ramadhan 40 Hijriyah. Sewaktu bangkit dari sujud terakhir, dia ditebas dengan pedang oleh Abdurrahman Ibni Muljam al Muradi. Ya, dengan pedang yang telah dilumurin racun. Racun yang sengaja dibelinya seharga 1000 dinar.
Ketika menebas tubuh orang yang sangat disayangi Rasulullah itu, Abdurrahman yang kemudian lebih dikenal dengan sebutan Ibnu Muljam tak henti membaca Surah Albaqarah ayat 207, sebagai pembenar perbuatannya: “Dan di antara manusia, ada orang yang mengorbankan dirinya karena mencari keridloan Allah; dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya.”
Satu hal yang patut dicatat dari peristiwa berdarah itu. Ketika melakukan aksinya, Ibnu Muljam juga meneriakkan kata-kata: “Hukum itu milik Allah, wahai Ali. Bukan milikmu dan para sahabatmu.”
Demikianlah cerita yang sangat menyedihkan itu. Sayyidina Ali dibunuh atas nama hukum Allah. Hukum Allah yang dijalankan oleh orang-orang bodoh. Yang sesat. Yang tidak memahami secara komplit bagaimana mestinya menegakkan hukum Allah. Orang-orang yang menjalankan jihad dengan akal dangkalnya. Dengan pemahaman sempitnya. Dengan kekeliruan nyata, karena mengharapkan surga Allah. Padahal kesesatan itu membuat mereka justru lebih dekat kepada jurang neraka.
Khalifah Ar Rasyidin terakhir yang tidak lain adalah sepupu sekaligus menantu Rasulullah itu masih sempat bertahan selama tiga hari. Menanggung derita, karena luka parah akibat ditebas dengan pedang berlumuran racun. Tiga hari kemudian, Ali yang sejak mudanya berulang kali jadi “tameng hidup” Rasulullah menghembuskan nafas terakhir.
Lebih dari 14 abad silam, umat Islam berduka karena tindakan Ibnu Muljam la’natullah ‘alaih. Orang yang bangga menemui ajalnya dengan cara qishash. Yang ketika akan dipenggal lehernya masih meminta kepada sang algojo: ““Wahai Algojo, janganlah engkau penggal kepalaku sekaligus. Tetapi potonglah anggota tubuhku sedikit demi sedikit. Sehingga aku bisa menyaksikan anggota tubuhku disiksa di jalan Allah.”
Kita berduka, karena kesesatan dan kebodohan Ibnu Muljam. Tapi hari-hari ini, kita kembali menyaksikan cerita yang lebih kurang sama. Tentang para pelaku jihad yang salah kaprah. Kita berduka. Bukan hanya karena kesesatan Ibnu Muljam saja. Tapi karena telah lahirnya begitu banyak generasi baru Ibnu Muljam.
Dan yang lebih menyedihkan lagi, kita tidak tahu banyak. Sama sekali buta. Apakah mereka lahir dari “Rahim dakwah Islam yang salah urus”, atau justru “dilahirkan dengan sengaja” oleh pihak-pihak yang tidak suka terhadap Islam dan umatnya?
Kondisi kita kini sungguh rapuh. Kita dizalimi keadaan. Terpecah belah satu dengan yang lain. Masing-masing bangga menegakkan egonya. Menekankan kebenaran kelompoknya. Bahkan rela mengkafirkan kelompok lain, sebagaimana Ibnu Muljam. Kondisi yang sejatinya sudah diramalkan Rasulullah. Karena dalam sebuah hadistnya Rasulullah pernah bersabda:
“Akan muncul suatu kaum dari umatku yang pandai membaca Alquran dengan lisan mereka. Tetapi tidak melewati tenggorokan mereka. Mereka keluar dari Islam sebagaimana anak panah meluncur dari busurnya.” (HR. Shohih Muslim).
Mereka adalah golongan orang-orang saleh. Yang menyuarakan syariat dan pembebasan umat Islam dari kesesatan. Mereka menawarkan jalan kebenaran menuju surga Allah dengan cara mengkafirkan sesama muslim. Mereka adalah orang-orang yang telah dicuci otaknya dengan “sabun colek”. Semestinya kita merangkul mereka. Mencuci kembali otak mereka dengan “sabun wangi”. Supaya mereka kembali ke jalan Islam yang suci. Ajaran Islam yang membawa damai. Ajaran yang benar-benar menuju ke arah jalan yang haq. Yang lurus-lurus ke arah surga Allah yang maha indah. (*)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi