Judul buku: Explaining Islamist Insurgencies
Penulis: Muhammad Tito Karnavian
Peresensi: Reza Maulana Hikam
Penerbit: Imperial College Press
Tebal buku: xliii+288 Halaman
Tahun terbit: 2015
ISBN: 9781783264858
KEMPALAN: Genap seminggu yang lalu terjadi peledakan bom di Gereja Katedral Makassar oleh “pasangan” suami-istri yang katanya berasal dari kelompok Jamaah Ansharut Daulah (JAD) yang “diprakarsai” oleh Aman Abdurrahman. Sudah selang hampir tiga tahun semenjak tindak terorisme yang melibatkan peledakan bom terjadi di Indonesia (Surabaya) pada tahun 2018 silam yang konon kabarnya dilakukan oleh kelompok teroris yang sama.
Masih dalam satu pulau yang sama, Sulawesi, pernah terjadi konflik yang disinyalir berbau agama di Poso yang sempat memanas dari 1999 hingga 2007. Kasus Poso begitu terkenal hingga dijadikan disertasi, lalu buku, oleh mantan Kepala Kepolisian Republik Indonesia yang sekarang menjadi Menteri Dalam Negeri, Muhammad Tito Karnavian. Buku ini pada awalnya adalah disertasi S-3 Tito di S.Rajaratnam School of International Studies, Nanyang Technological University, Singapura (RSIS-NTU, Singapura).
Buku ini memuat pandangan yang komprehensif serta objektif dari seorang polisi yang juga belajar menjadi akademis. Kenapa demikian? Karena Tito membukanya dengan penjelasan asal-muasal kasus Poso yang jarang sekali bisa kita temukan di situs manapun. Berawal dari seorang lelaki yang sedang mabuk menusuk seorang pria yang sedang berjalan, nahasnya, pria yang tertusuk sedang berjalan menuju masjid dan kebetulan juga yang menusuk beragama Nasrani. Namun kasus ini tidak serta merta meledak menjadi permasalahan agama, karena pembersihan pertama yang dilakukan oleh umat Islam di Poso saat itu adalah tempat minuman keras, gesekan pada akhirnya menjadi konflik kekerasan berskala besar di kota itu.
Akibat kerusakan yang terjadi di Poso, ada sejumlah kelompok, baik Nasrani maupun Muslim yang datang untuk membantu saudara seimannya dalam gesekan berbasis keagamaan terbesar di Indonesia selain Maluku. Tim Nasrani dipimpin oleh Fabianus Tibo yang nantinya melakukan serangan dan pembantaian di Pesantren Walisongo dan menjadi pintu pembuka radikalisasi yang dilakukan oleh Tim Muslim dibawah bayang-bayang Jamaah Islamiyah. Gesekan antara kedua pihak ini berusaha ditengahi dengan munculnya Deklarasi Malino pada tahun 2000 yang dipimpin oleh Jusuf Kalla yang pada saat itu menjabat sebagai Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat.
Tito menyoroti bagaimana umat Islam di Poso bisa menjadi ekstrim dalam sebuah proses yang disebut sebagai radikalisasi. Menurut Farhad Khosrokhavar dalam bukunya Radicalization, menjelaskan radikalisasi sebagai proses dimana seseorang mengadopsi pandangan yang ekstrem. Istilah yang lazim digunakan, terutama bagi kalangan akademisi di bidang keamanan yang memahami kasus terorisme bukanlah radikalisme seperti pada umumnya, melainkan radikalisasi (proses), sementara pandangan yang dianut adalah ekstrimisme atau eksklusifisme seperti yang disampaikan Rohan Gunaratna dalam buku yang dia sunting, Deradicalisation and Terrorist Rehabilitation (peresensi sangat menyarankan buku ini bagi siapapun yang mendalami deradikalisasi).
Bagi penulis, ada tiga hal yang menjadi faktor radikalisasi Muslim di Poso: disaffected person (orang yang berada dalam pusaran konflik/orang terdampak konflik); enabling group (kelompok pendukung); dan legitimising ideology (ideologi yang menjadi pendukung).
Faktor pertama, orang terdampak konflik adalah mereka yang berada dalam pusaran konflik Poso, baik mereka yang ikut dalam gesekan maupun tidak tapi tertimpa kerugian karena konflik tersebut. Dalam penelitian ini, ada 300 responden yang terlibat, dimana 40 di antaranya adalah narapidana dan mantan narapidana. Sekitar 44 orang yang ekstrem justru belajar di sekolah “sekuler”, hanya dua yang belajar di pesantren. Ada sejumlah alasan yang membuat mereka terlibat dalam tindak terorisme: balas dendam, solidaritas sesama Muslim, ketidakadilan dan janji-janji yang belum ditepati, dan perebutan hak milik.
Faktor kedua adalah kelompok pendukung yang singkatnya ada dua: Jamaah Islamiyah dan Mujahidin KOMPAK. Kelompok ini menyediakan rasa kebersamaan dan dukungan sesamanya serta terkadang menjadi pengganti dari keluarga yang hilang. Kedua kelompok itulah yang datang dan memberi dukungan juga pemberdayaan kepada orang-orang yang nantinya ter-radikalisasi dalam konflik Poso. Namun dalam melakukan tindak terorisme, kedua kelompok itu memiliki wakil, yakni Mujahidin Tanah Runtuh (MTR) binaan JI dan Mujahidin KOMPAK Kayamanya (MKK), dua kelompok perwakilan ini berasal masing-masing dari Tanah Runtuh dan Kayamanya.
Buku ini menyampaikan bahwa JI memang mengirimkan dua jenis orang ke Poso, para pendakwah dan instruktur militer yang pernah dilatih di Afghanistan yang dikirimkan bersamaan agar para instruktur ini nantinya bisa memberikan saran kepada para pendakwah. Di Tanah Runtuh, mereka melakukan rotasi pendakwah selama tiga hingga empat bulan yang disebut sebagai Proyek Uhud di bawah pengawasan langsung dari komando pusat JI. Wilayah Poso berada di bawah Mantiqi 3 yang dipimpin oleh Abu Tholut yang pada 2003 melingkupi Wakalah Palu, Wakalah Pandajaya, dan Wakalah Poso.
Sementara di sisi lain ada MKK yang secara sumberdaya tidak sekuat JI, namun tetap mampu membuat kelompok MKK di bawahnya. MKK sendiri lebih populer karena tidak serumit MTR dalam perkara birokrasi dan pelajaran keagamaan. Pada awalnya MKK memiliki senjata lebih banyak dari MTR karena ada sejumlah anggotanya yang juga berangkat ke konflik di Ambon, namun kapasitas reproduksi dari MKK jauh lebih lemah daripada MTR dan JI yang lebih rapi dalam strukturnya namun dianggap oleh MKK lebih seperti ustadz ketimbang mujahidin.
Sementara itu ada faktor ketiga, yakni ideologi yang mendukung. Ideologi itu disebut oleh Tito sebagai Salafi-Jihadisme yang doktrinnya mengakar dari Ibnu Taimiyyah yang hidup pada abad ke-13. Dasar dari Salafi-Jihadisme adalah komitmen untuk kembali ke bentuk Islam paling murni yang diikuti oleh tiga generasi Muslim sesudah Rasulullah Muhammad, yakni sahabat Nabi, Tabi’in dan Tabi’ut Tabi’in. Karena orang JI memiliki ikatan tersendiri dengan perjuangan di Afghanistan, mereka juga menggunakan pandangan yang diangkat oleh Syaikh As-Syahid Abdullah Yusuf Azzam, ideolog jihad Afghanistan yang menggaungkan jihad global melawan Uni Soviet. Penulis juga menjelaskan pembagian antara kafir dhimmi (yang dilindungi karena tidak melawan umat Islam) dan kafir harbi (non-Muslim yang mengobarkan perang terhadap umat Islam).
Ketiga faktor ini menjadi landasan dari perkembangan konflik Poso semenjak tahun 2000 yang berubah dari konflik keagamaan menjadi tindak terorisme. Adapun konflik tersebut mengubah Poso, yang menurut Tito ketika sebelum konflik adalah kota yang pluralistik dan toleran menjadi medan perang antara kedua pihak dan nantinya didominasi oleh kelompok teroris.
Buku ini perlu menjadi pegangan bagi mahasiswa maupun dosen yang mendalami atau mengampu tentang penanggulangan terorisme karena memuat proses-proses bagaimana individu atau kelompok pada akhirnya menerima pandangan ekstrim. Namun untuk bagian ideologi yang mendukung nampaknya perlu dibarengi dengan kajian yang lebih medalam yang disediakan oleh pengarang seperti Mohamed bin Ali atau Mohammad Haniff Hassan yang sama-sama belajar dan mengajar di RSIS. (*)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi