KEMPALAN: McDonald’s sering disebut sebagai “American Embassy” atau Kedutaan Besar Amerika Serikat. Gerai makanan cepat saji ini bisa dijumpai di setiap pojok jalanan kota besar di seluruh dunia, dan tidak ada mal yang berdiri tanpa gerai McDonald’s di dalamnya.
McDonald’s adalah brand global yang paling dikenal di seluruh dunia bersama Coca Cola. Ketika namanya disingkat menjadi McD orang seluruh dunia tetap mengenalnya. Logo M berwarna kuning dan strip merah sudah cukup menjadi pengenal makanan burger itu. Patung Ronald McDonald, seorang laki-laki bule berpakaian badut dengan mulut lebar dan baju kedodoran menjadi ikon favorit untuk berswafoto di depan gerai McD.
McD bukan sekadar makanan tapi gaya hidup dan simbol modernitas. Penduduk desa yang datang ke kota untuk piknik dan jalan-jalan merasa belum lengkap kalau belum mampir di McD dan menyantap burger, dan setelah itu makan nasi bungkus yang disiapkan dari rumah.
McD bukan sekadar makanan cepat saji, tapi mewakili strategi marketing global yang menjadi ujung tombak konsumerisme kapitalis global yang menjajah seluruh dunia melalui homogenisasi kultur dan ekonomi. Makan burger McD berarti menjajal gaya hidup dan budaya Amerika. Mengunjungi gerai McD sama saja dengan setor uang ke kas Amerika.
Dalam hal menyosialisasikan budaya dan kapitalisme Amerika kepada masyarakat dunia, McD memainkan peran yang jauh lebih efektif dibanding kedutaan besar atau konsulat Amerika di seluruh dunia. Sebutan McD sebagai kedubes Amerika adalah candaan yang serius.
Para jihadis yang melakukan serangan bom sering menyasar simbol-simbol Amerika di luar negeri terutama kedutaan besar. Di Tanzania teroris mengebom kedutaan besar Amerika pada 1998 menewaskan 200 orang. Di Indonesia rangkaian bom jihadis terjadi berurutan setiap tahun sejak 2002 mulai dari bom Bali, lalu bom di kedubes Australia, dan bom JW Marriott. Tiga lokasi itu disasar karena dianggap sebagai bagian dari simbol Amerika.
Gerai McD tidak menjadi sasaran langsung oleh kelompok jihadis di Indonesia. Bom Thamrin di Jakarta pada 2016 terjadi di jalan terbuka dekat Starbuck, salah satu ikon kapitalisme Amerika juga. Gerai McD tidak secara langsung jadi sasaran, mungkin para jihadis tidak menganggapnya sebagai ikon strategis.
Sebelum terjadi peledakan di pintu masuk gereja Katedral Makassar minggu lalu, polisi dikabarkan berhasil menangkap jihadis yang disebut akan menyerang dengan bom gerai McD di Makassar. Jika benar, kemungkinan sekelompok jihadis ini mulai menyadari pentingnya posisi McD sebagai ikon kapitalisme Amerika sekaligus simbol gaya hidup kafir.

Prof. Benjamin Barber ilmuwan politik dari Kurger University, Amerika Serikat, menyebut bahwa perang jihad yang dilakukan para jihadis di seluruh dunia sekarang ini adalah perang melawan McD yang menjadi simbol penjajahan ekonomi kapitalis dunia. Barber menyebut perang ini sebagai perang besar antara dua kekuatan raksasa “Jihad vs McWorld” (1996).
Barber melihat jihad sebagai gerakan global yang mengancam demokrasi di seluruh dunia. Buku itu ditulis lima tahun sebelum para jihadis membajak pesawat terbang dan menabrakkannya ke menara kembar WTC di New York yang menewaskan hampir tiga ribu jiwa. Setelah peristiwa itu terjadi Presiden George Bush mengumumkan kebijakan War on Terror, perang melawan teror dan memburu para jihadis di seluruh dunia.
Barber sudah mendiskripsikan dengan jelas bahwa gerakan jihadis akan bersifat global karena lawan yang dihadapinya adalah kapitalisme global. Barber menyebut istilah McWorld untuk menggambarkan bahwa dunia ini sudah menjadi McDunia karena pengaruh McD dari Amerika Serikat. McWorld adalah dunia yang homogen karena dominasi kapitalisme global di bawah pengaruh Amerika Serikat.
McWorld adalah dunia yang seragam dan homogen dalam gaya hidup dan gaya konsumsi. Mulai dari New York sampai ke Nairobi di Afrika, atau Banyumas di Indonesia, orang memakai jeans, minum Coca Cola, menyantap Double Burger, dan mengudap french fries. Anak-anak muda di Afrika tidak memakan kushari atau samboza, anak-anak muda Banyumas tidak makan mendoan tapi menggantinya dengan fillet o’fish dan strawberry milkshake.
McWorld dan Jihad mewakili dua ideologi yang saling berseberangan. Dua-duanya bertentangan dan berusaha saling mengalahkan dan menghancurkan. Dua kutub besar ini seolah mewakili perang dunia antara kekuatan baik dan kekuatan jahat. Seolah perang Bharata Yuda antara Kurawa lambang kebatilan versus Pandawa yang menjadi lambang kebenaran.
McWorld adalah wakil kapitalisme-liberalisme dunia yang ingin menguasai dunia melalui globalisasi berpaham pasar bebas. Pendekar globalisasi adalah tiga organisasi besar dunia Bank Dunia, IMF (Dana Moneter Internasional), dan WTO (Organisasi Perdagangan Dunia) yang dikendalikan oleh Amerika dan Eropa untuk menguasai dunia.
Perdagangan bebas dan neoliberalisme manjadi ideologi utamanya. Privatisasi dan non-proteksi menjadi mantranya. Negara-negara yang lemah menjadi pasar yang empuk bagi produk-produk negara yang kuat, dan pada saat yang sama memproteksi pasar dalam negerinya dengan berbagai aturan yang rumit yang nyaris mustahil ditembus oleh produk dunia ketiga.
Tiga superbody dunia itu menjadi trisula McWorld untuk menembus pasar seluruh dunia menyebarkan ideologi pasar bebas dan keseragaman universal dan menjadikan profit sebagai motif utama. Perusahaan trans-nasional menjadi ujung tombak yang menembus seluruh dunia mematikan perusahaan-perusahaan lokal yang kalah jauh dalam hal modal, teknologi, dan proteksi politik.

Ideologi jihad menjadi ideologi global yang berusaha menghadang McWorld. Tidak seperti umumnya para ahli yang mengasosiasikan jihad dengan Islam militan, Barber memperluas definsi jihad yang menyangkut semua paham fundamentalisme melewati batas-batas agama. Jihad bukan hanya Al-Qaidah, ISIS, atau jaringan fundamentalis Islam lainnya, tapi semua ideologi fundamental berdasarkan konservatisme agama masuk dalam kategori jihadis. Dalam hal ini kalangan Kristen fundamentalis konservatif sayap kanan di Amerika dikategorikan sebagai jihadis. Barber juga memasukkan fundamentalis nasionalis seperti Neo Nazi Eropa dan gerakan Hamas dalam kategori jihadis.
Sama dengan kelompok McWorld, kalangan jihadis ini juga membonceng globalisasi untuk mempromosikan pengaruhnya di seluruh dunia. McWorld memakai internet dan teknologi informasi untuk menyebarkan ideologi pasar. Para jihadis juga melakukannya dengan cara yang tidak kalah canggih. Maka ideologi jihad bisa menyebar ke seluruh dunia melalui internet. Ajaran-ajaran jihad bisa dengan mudah diakses dan dipelajari melalui jaringan internet.
Melalui internet McWorld menyasar anak-anak muda milenial di seluruh dunia sebagai pasar konsumerisme global. Jihadis tidak mau kalah. Mereka juga menyasar anak-anak muda milenial menjadi kader dan agen radikal yang siap beraksi setiap saat. Para pejuang jihadis yang berani mati banyak yang datang dari kalangan milenial ini.
Barber mengingatkan, perang McWorld melawan Jihadis ini bukan perang Bharata Yuda antara kekuatan jahat dan baik. Perang ini adalah perang dua raksasa yang sama-sama berakibat buruk bagi dunia. McWorld mengancam hak-hak kebebasan perorangan dan menggantinya dengan budaya universal yang seragam. Jihadis mengancam pluralisme budaya karena memaksakan satu pandangan yang seragam berdasarkan pada pandangan agama yang tunggal.
McWorld maupun Jihadis, kata Barber, adalah ancaman terhadap demokrasi dan kebebasan berpikir dan berekspresi. Dua-duanya memaksakan kehendak dengan caranya masing-masing.
Para penganut jihadis yakin bahwa perjuangannya akan membawa pahala di Surga. Para pendukung McWorld yakin mereka bisa menikmati surga dunia dengan bersenang-senang di kedai McDonald sambil menyantap setangkup besar Big Mac dan sepiring french fries. (*)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi