Minggu, 10 Mei 2026, pukul : 02:44 WIB
Surabaya
--°C

Serangan Teroris ke Markas Polisi, Pola Lama yang Tak Tertangani

KEMPALAN: SERANGAN penembakan di Mabes Polri tadi sore, adalah sebuah ulangan pada teror bom 2018 lalu. Seusai rentetan serangan di Surabaya, tiga bom gereja dan satu serangan bom di Mapolrestabes Surabaya, kalangan jihadis keblinger juga menyerang Mapolda Riau.

Dari penelusuran saya, serangan di Mapolda Riau adalah sebagai bentuk “balas dendam” setelah seluruh sel JAD Surabaya yang dipimpin oleh Dita Oeprianto ditumpas habis. Serangan ke Mabes Polri juga mengindikasikan hal tersebut. Ini adalah respons cepat dari para jihadis setelah sel Makassar juga dihabisi pasca Bom Gereja Katedral Makassar pada Minggu (29/3) lalu.

Tak perlu serangan besar berupa bom, cukup serangan sporadis berskala kecil sebagai penyampai pesan. Bahwa mereka masih ada, dan terus berlipat ganda.

Ini adalah sebuah ulangan. Atau sebuah pola. Dan jika dikaitkan dengan pola dan modus operandi aksi teror belakangan ini, maka ya, terorisme ini akan selalu menjadi salah satu bahaya laten yang akan terus mengancam di Indonesia.

***

Untuk menganalisa kejahatan terorisme, ada dua hal yang harus dilakukan terlebih dahulu. Yang pertama adalah siapa mereka dan apa pikiran mereka. Yang kedua, adalah bagaimana pola aksi mereka, termasuk sumber dana, plot yang digunakan.

Saya tidak akan membahas yang pertama, karena telah banyak dibahas. Saya akan membahas yang kedua.

Aksi teror yang terjadi belakangan ini sebenarnya mempunyai pola yang sama dengan aksi-aksi sesudah 2010. Karena memang ideologi dan afiliasinya yang berbeda dengan aksi teror antara 2000 – 2010 yang dilakukan oleh Jamaah Islamiyyah (JI). Aksi belakangan ini memang dilakukan oleh sel-sel yang berafiliasi ke ISIS, seiring dengan membesarnya ISIS menjadi kelompok teror terbesar di dunia setelah sempat menguasai sebagian Irak dan Syria.

Begitu JI meredup dan mengeluarkan fatwa bahwa Indonesia bukan darul harb, para jihadis di Indonesia menemukan sandaran ke ISIS. Sehingga banyak tokoh jihadis Indonesia seperti Abu Bakar Baasyir, Aman Abdurrahman, berbaiat ke ISIS.

Mereka juga mengadopsi cara adaptasi ISIS terhadap perubahan zaman. Alih-alih menggunakan komando terpusat, ISIS bermetamorfosis menjadi sebuah ide. Sebuah gagasan. Sebuah ideologi yang mengintegrasikan dirinya dalam internet. Sebagai simpulnya, ada sebuah majalah, baik daring maupun cetak, bernama Rumiyah.

Majalah yang terbit pertama kali pada September 2016 ini menjadi alat untuk propaganda, perekrutan, dan pembimbingan. Tidak tanggung-tanggung, majalah ini dirilis dalam berbagai bahasa sekaligus. Mulai Inggris, Prancis, Jerman, Rusia, dan Indonesia. Majalah ini selain memberikan panduan bagaimana membunuh dengan pisau, atau menggilas orang dengan truk, atau serangan teror skala kecil, mereka juga menyerukan untuk melakukan serangan dengan cara lone-wolf. Atau sendirian. Strategi ini sangat efektif di Eropa, terbukti dengan serangan seperti di London dan Nice.

Sementara, para jihadis beralifiasi ISIS mengadopsinya dengan cara berubah menjadi sel-sel kecil. Jika dulu JI membuat organisasi rahasia dalam skala besar, lengkap dengan struktur dan rantai komando-nya, para jihadis keblinger kontemporer ini berubah menjadi sel-sel kecil dengan maksimal 30 orang terputus nyaris tanpa komando dan koordinasi antar sel. Kalau pun ada yang kenal dengan sel luar, hanya beberapa anggota saja.

Konsekuensinya, serangan mereka umumnya berskala kecil karena sumber daya yang terbatas dan perencanaan yang ala kadarnya. Namun, di sisi lain, ini memastikan bahwa jika ada satu sel yang terbongkar habis, sel lainnya akan tetap aman. Inilah yang jadi penyebab bahwa meski polisi telah menangkap lebih dari 200 orang dalam empat bulan terakhir, masih terjadi saja aksi bom bunuh diri. Hanya Tuhan yang tahu ada berapa persisnya sel teror yang masih aktif di luaran sana.

***

Serangan terhadap kantor polisi sebenarnya bukan yang kali pertama. Sudah beberapa kali terjadi, bahkan sejak zaman aksi teror yang dilakukan JI. Dulu, pasca Bom Bali I, seorang anggota JI pernah ditangkap dengan plot mengebom Mabes Polri. Kemudian serangan di Mapolres Cilacap, Mapolrestabes Surabaya, Mapolda Riau, dan Mapolrestabes Medan.

Polisi memang menjadi salah satu target favorit para teroris, bersama dengan gereja. Di kalangan internal jihadis sendiri kerap terjadi perdebatan soal serangan mana yang lebih baik ditujukan: ke polisi atau gereja.

Hanya, saya khawatir jawaban dari pertanyaan: “bisakah ada antisipasi untuk serangan dari sel baru?” adalah sangat sulit –jika tidak mau dikatakan tidak bisa. Karena, memang bagaimana caranya mengantisipasi serangan teror skala kecil yang menggunakan alat seadanya?

Yang bisa dilakukan adalah mencegah agar skala serangan itu tidak membesar. Dengan cara deradikalisasi. Mencegah yang sudah terpapar (baca: napiter) untuk tidak kembali ke jalan teror, dan juga melakukan strategi anti paham tauhid hakimiyah yang menyeluruh. Dibahas secara terbuka, didiskusikan, sehingga semua terbuka. Ketika menjadi sesuatu yang dibahas secara sembunyi-sembunyi, ideologi justru terlihat seksi dan menarik minat.

Dengan situasi seperti ini (roadmap penanggulangan teroris yang belum jelas), maka tampaknya polisi harus terus memperketat kantornya dan meneruskan perburuan para jihadis. Untuk sementara, kita tampaknya harus membiasakan diri memperlakukan terorisme seperti penyakit diabetes. Tidak bisa disembuhkan, tapi setidaknya bisa dicegah tidak terlalu merusak dengan pola hidup sehat. (Kardono Setyorakhmadi, Pemimpin Redaksi Kempalan.com)

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.