Jumat, 1 Mei 2026, pukul : 23:01 WIB
Surabaya
--°C

Imagine, Dunia tanpa Agama, Tanpa Bom

 KEMPALAN: John Lennon membayangkan dunia tanpa agama, tanpa negara, tanpa hak milik. Tidak ada surga di atas sana, tidak ada neraka di dasar bumi.
Tidak ada bom. Tidak ada perang. Tidak ada bunuh-membunuh.

Dunia bayangan John Lennon itu dinyanyikannya dalam lagu “Imagine” yang diciptakan pada 1971. Oleh majalah musik Rolling Stones lagu itu dinobatkan sebagai tiga besar dari “500 Best Songs of All Time”, lagu terbaik sepanjang masa.

Imagine mewakili zamannya. Pada 1970-an gerakan anti-perang meluas di Amerika dan Eropa. Demo besar-besaran terjadi dimana-mana memprotes keterlibatan Amerika dalam Perang Vietnam. Anak-anak muda pembenci perang dan pecinta perdamaian itu adalah generasi bunga atau Flower Generation yang ditandai dengan rambut gondrong dan celana komprang, cut bray. Gaya hidup bebas, seks bebas, ganja dan obat bius menjadi bagian dari ritual generasi ini. Agama ditinggalkan dan anak-anak muda itu lebih memilih menjadi ateis, tidak percaya kepada tuhan, atau agnostik, tidak peduli kepada agama.

John Lennon menjadi ikon idola Generasi Bunga ini. Dalam bayangan Lennon, teror, perang, pembunuhan, kekerasan, dan semua penderitaan di dunia ini  bersumber pada tiga hal, yaitu agama, negara, dan kepemilikan.

Lennon membayangkan bahwa tanpa tiga hal itu bereslah semua urusan. Tidak ada perang saling bunuh atas nama agama, tidak ada perang atas nama nasionalisme, tidak penindasan dan penjajahan atas nama kolonialisme dan kapitalisme. Semua manusia hidup dalam damai dalam persaudaraan, the brotherhood of men. Dunia bayangan Lennon ini adalah dunia gabungan antara komunis dan anarkis yang diakui sendiri oleh Lennon sebagai mimpi. Tapi Lennon yakin dia tidak sendirian, akan makin banyak pemimpi-pemimpi seperti dia.

Mengaitkan agama dengan kekerasan sudah menjadi hal yang dianggap sebagai kebenaran umum, taken for granted, di dunia Barat. Rentetan perang dan kekerasan atas nama agama merentang jauh sejak ribuan tahun sebelum masehi. Masa-masa ketika gereja mempunyai kekuasaan mutlak untuk mengendalikan agama dan politik menjadi masa gelap dalam sejarah Eropa. Maka pada abad ke-14 Eropa merasa tercerahkan oleh gerakan Renaissance yang dianggap membawa sinar yang menerangi Eropa dari kegelapan. Rennaisance membawa pencerahan karena manusia dibebaskan dari belenggu takhayul dan memberi kebebasan kepada akal untuk menjadi panduan hidup.

Lahirlah rasionalisme yang menjadi cikal bakal ilmu pengetahuan yang melahirkan teknologi. Pada saat yang bersamaan, agama yang dianggap sebagai penyebab kejumudan dan keterbelakangan mulai ditinggalkan. Kekuasaan gereja yang semula meliputi agama dan politik dipreteli. Terjadilah proses sekularisasi. Gereja mengurusi agama dan akhirat saja, urusan negara serahkan kepada raja dan para bangsawan. Pada perkembangan selanjutnya kekuasaan raja-raja rontok setelah munculnya Revolusi Prancis 1776 yang menjadi cikal bakal lahirnya demokrasi dan nasionalisme di seluruh Eropa.

Pada 1769 James Watt menemukan mesin uap di Inggris dan menandai era baru kebangkitan teknologi Eropa yang menjadi tonggak Revolusi Industri yang dimulai pada 1760. Dengan ditemukannya mesin uap, pabrik pemintalan kapas untuk produksi kain semakin produktif, industri pelayaran berkembang pesat dengan ditemukannya kapal api. Eropa siap menjadi penjajah dan penjelajah dunia.

Abad ke-18 menjadi tonggak kebangkitan peradaban Eropa. Sebaliknya bagi  Islam abad ke-18 menjadi titik rendah kemerosotan peradaban yang menyurut dari tahun ke tahun.

Revolusi Prancis mengekspor paham demokrasi ke seluruh dunia, dan Revolusi Industri melahirkan kapitalisme dan kolonialisme dan penjajahan Eropa ke seluruh dunia. Demokrasi dan kapitalisme menjadi dua sisi modernisme yang dibawa oleh kolonialisme Eropa ke negara-negara Islam di Afrika dan Timur Tengah.

Seluruh wilayah Islam jatuh ke tangan kolonialisme Eropa. Modernisme dan sekularisasi dipaksakan sebagai ideologi baru menggantikan Islam. Seperti minyak dan air yang tidak pernah bisa menyatu, sekularisme tidak pernah diterima dalam sistem Islam.

Berbagai perlawanan terbuka dipatahkan dengan mudah. Setelah Perang Dunia II berakhir pada 1945, Eropa dan Amerika menjadi pemenang. Proyek sekularisasi Timur Tengah ditandai dengan berdirinya negara Yahudi Israel di Palestina pada 1948. Momen ini sekaligus menjadi titik balik peradaban yang paling pahit bagi Islam, sakitnya masih dirasakan sampai sekarang. Perang Enam Hari yang dimenangkan Israel atas koalisi negara-negara Arab pada 1976 menjadi segel kekalahan Islam atas kolonialisme Eropa.

Rasa keterkalahan yang mendalam menjadi trauma sampai sekaran. Perang terbuka tidak pernah bisa dimenangkan. Alternatifnya adalah perang tertutup melalui serangan gerilya dan penyerangan sporadis.

Israel punya bom nuklir Palestina punya bom manusia. Itu semboyan pejuang Palestina yang tidak berdaya menghadapi kekuatan Israel yang menjadi proxy Amerika dan Eropa di Timur Tengah. Bom manusia itu menjadi model perlawanan di seluruh dunia. Penyerangan WTC New York 11 September 2001, sampai serangan bom di Makassar 28 Maret 2021 mempunyai benang merah yang menyambungkan kekecewaan dan rasa keterkalahan selama berabad-abad itu.

Serangan bom manusia tidak bisa dihentikan jika rasa keterkalahkan yang berkepanjangan itu tidak memperoleh penyelesaian yang berkeadilan.

Tidak seperi John Lennon yang membayangkan tidak ada surga di atas sana, para pelaku bom manusia ini yakin ada surga di atas sana. (*)

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.