Minggu, 10 Mei 2026, pukul : 02:23 WIB
Surabaya
--°C

Polisi Anggap Pelaku Pengeboman Makassar dari JAD, Pengamat Teroris Surabaya: Belum Disebutkan Media ISIS

SURABAYA-KEMPALAN: Polisi menyampaikan bahwa pelaku pengeboman gereja di Makassar pada Minggu (28/3) berasal dari jaringan Jamaah Ansharut Daulah (JAD), kelompok yang berafiliasi dengan ISIS yang juga melakukan pengeboman di Surabaya pada 2018 silam. Adapun mereka menambahkan bahwa kedua pelaku berkaitan dengan kasus terorisme yang terjadi di Filipina pada 2019 lalu.

Sementara itu, Prihandono Wibowo, dosen Hubungan Internasional di UPN Jatim yang juga jadi pengamat teroris dalam wawancara dengan Kempalan menyampaikan bahwa jika kelompok yang berafiliasi dengan NIIS biasanya dilaporkan oleh media yang juga berafiliasi dengan NIIS seperti Amaq Media dan Al-Fatihin.

“Terus yang di Sulawesi kemarin ya, belum disebutkan di Amaq media, seperti itu,” tutur dosen HI itu. Ia menambahkan bahwa sampai sekarang pengeboman di Makassar belum disebutkan oleh media-media NIIS.

“Kalau majalah Al Fatihin sudah nggak ada sekarang. Cuma klaim untuk yang pengeboman Sulawesi itu belum ada disebutkan di (media) afiliasi dengan ISIS. Nanti, mungkin, nggak tahu, beberapa hari lagi mungkin disebutkan atau enggak kita nggak tahu. Apakah ini aksi mandiri atau gimana gitu kita nggak tahu,” tambah pria dengan sapaan akrab Dono ini.

Berbeda dengan pengeboman di Makassar, pengeboman di Surabaya sempat dilaporkan oleh Al-Fatihin sembari dijelaskan kenapa ada kelompok umat tertentu yang menjadi sasaran. Adapun majalah ini dituliskan dalam bahasa Indonesia. Selain itu kasus di Tinombala juga sempat masuk ke dalam majalah An-Naba yang terafiliasi dengan ISIS.

Berkenaan dengan tindakan pencegahan, Dono mengatakan bahwa pihak berwenang tidak kecolongan dan sudah mendeteksi, namun kalah cepat, karena kadang rencana para teroris tidak terdeteksi dan sulit sekali dideteksi.

Ia juga menyampaikan bahwa buku-buku dari tokoh JAD, Aman Abdurrahman juga sempat bertebaran di internet dan bisa diunduh. “Yang harus dilakukan pemerintah, pendekatan hard sudah pasti kan, pakai Densus, Densus itu kan sekarang juga ini, terlibat deradikalisasi, nggak hanya berfokus pada operasi yang penindakan aja tapi juga deradikalisasi. Ada juga BNPT, seperti itu kan. Kadang… nggak tahu koordinasinya gimana BNPT, Densus dalam deradikalisasi, tapi juga itu, kampanye anti-terorisme.”

“Cuma yang lebih penting lagi itu gimana negara bisa, menyaring yang ada di internet itu. Karena yang ada di internet itu (yang) bebas (diunduh) semua, Mas. Ada tulisan-tulisan, termasuk (dalam) Bahasa Indonesia, tokoh-tokoh yang dalam tanda kutip pendukung teroris atau yang bahkan dari ISIS-nya, dari sana, dari Syria, diterjemahkan dari Bahasa Indonesia ke Bahasa Inggris bebas sekali dan itu bisa diakses, seperti itu,” tambah pengamat teroris dari Surabaya ini berkaitan dengan banyaknya buku-buku PDF dari kelompok ISIS yang bisa diunduh di internet.

Dosen HI UPN itu juga menyampaikan bahwa file-file yang terkait dengan ISIS mencantumkan nomor kontak dan ada catatan bahwa kalau mau tanya tentang daulah dan hal-hal berkenaan dengan istilah itu bisa menghubungi kontak tersebut.

“Dan sampai sekarang belum berhenti propaganda seperti (ISIS). Walau sekarang ISIS sudah terdesak ya tapi masih banyak propaganda-propaganda yang mengajak bagaimana untuk melawan kaum kafir dan lain-lain, seperti itu,” tambahnya. (rez)

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.