Minggu, 26 April 2026, pukul : 08:14 WIB
Surabaya
--°C

Genealogi Pemikiran Islam Kontemporer

Judul Buku: Satu Islam, Ragam Epistemologi 

Penulis: Dr. Aksin Wijaya

Penerbit: Iricisod, Oktober 2020

Tebal: 409 halaman

Peresensi: Dr. Kumara Adji Kusuma (Dosen Universitas Muhammadiyah Sidoarjo)

 

KEMPALAN: Buku ini membincang tentang pemikiran dalam Islam. Namun, tidak hanya satu aliran. Sehingga buku ini bisa dikata sebagai sketsa atau peta pemikiran yang ada dalam Islam, dan kekhasannya, pada akhirnya mengerucut pada pemikiran para tokoh pemikir yang tinggal di Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Karenanya, buku ini sangat cocok bagi pemula dalam dunia pemikiran Islam. Yakni mereka yang mau belajar tentang pemikiran Islam dan mereka yang belum mengenal pemikiran Islam di Indonesia, karena buku ini bisa menjadi peta pemikiran Islam dari berbagai tokoh dan pemikirannya dengan bahasa yang mudah dipahami sehingga memudahkan bagi pemula untuk memelajarainya.

Namun juga, buku ini cocok bagi mereka yang telah mencapai level advance dalam dunia pemikiran. Karena buku ini menyajikan telaah yang cukup luas dan pembahasan yang mendalam dari pemikiran masing-masing tokoh. Selain itu, terdapat diskusi dan tawaran pemikiran dari penulis sendiri yang proyektif yang diharapkan melampaui seluruh pemikiran yang ada sebelumnya. Menjadi sebuah pemikiran baru.

Keistimewaan buku ini adalah menyejajarkan para pemikir Islam yang ada di Indonesia sejajar dengan para pemikir besar sebelumnya yang selama ini banyak buku pemikiran tidak memasukkan mereka dalam kontur peta pemikiran Islam kontemporer. Dari epistemologi teosentrisme ke antroposentrisme.

Konten pemikiran aliran dalam buku ini terentang secara kronologis, mengungkap berbagai pergeseran pemikiran filosofis/nalar epistemologis dari masa klasik hingga kontemporer. Dan penulis sangat tepat untuk menempatkan para pemikir Indonesia dalam khazanah pemikiran Islam karena memberikan kontribusinya ini atutentik sehingga boleh dikata mereka adalah filosof Islam kontemporer.

Pemetaan dari penalaran epistemologi Islam Klasik, pada Bab III, diawali gari generasi awal aliran filsafat peripatetik seperti al-KIndi, al-Farabi, dan Ibnu Isna. Kemudian dilanjutkan dengan pemikiran epistemologi keraguan al-Ghazali dan disambung dengan sosok yang menjadi anti-tesisnya, yakn Ibnu Rusyd. Termasuk pemikiran filsafat tasawuf seperti pemikiran iluminasi Suhrawardi dan filosofi transendental Mulla Shadra.

Seiring dengan perkembangan pemikiran Barat pada periode abad ke-17 dengan gerakan Renaissance di Prancis dan Aufklarung di Jerman, menjadi sebuah kebangkitan baru, era Modern, yang melahirkan pemikiran esensial Barat yang mematikan peran agama dalam kehidupan ruang publik. Dengan gerakan sekulerisme dan diiringi dengan pergerakan kolonialisme oleh Bangsa Barat memunculkan “bencana” dahsyat bagi dunia Islam. Penjajahan yang masif dan sistematis menggeser pemikiran Islam dengan pemikiran sekuler di dunia Islam pada umumnya dan juga Islam di Indonesia; melahirkan dikotomi pengetahuan yakni pengetahuan agama adalah wilayah privat yang tidak ada hubungannya dengan wilyah umum/publik. Pengetahuan agama dan pengetahuan umum menjadi terceraikan.

Konteks tersebut kemudian berusaha dijawab oleh para pemikir Islam yang kemudian menjadi pembahasan pada bab selanjutnya, bab ke-4, dimana penulis menyajikan pergumulan nalar epistemologi ilmu-ilmu sekuler dan ilmu-lilmu keislaman.

Pada bab ini penulis menyandingkan pemikiran tokoh Indonesia dengan tokoh besar lain sebelumnya. Pertama disajikan nalar epistemologi tentang kesatuan antara pengetahuan kehadiran atau ilmu hudhuri dari tokoh Syiah Islam terkemuka di Iran, Mehdi Ha’iri Yazdi. Kemudian meletakkan pemikiran sekulerisasi yang membedakan (tidak memisahkan) wilayah dunia dan agama ala Nurcholish Madjid. Dilanjutkan dengan pemikiran Islamisasi pengetahuan asal Malaysia Naquib al-Attas. Dan diakhiri dengan pemikiran/epistemologi kontekstualisasi Islam ala presiden RI ke-4 Abdul Rahman Wahid (Gus Dur) dengan Pribumisasi Islam, yang tidak hanya merespon isu sekulerisasi, namun lebih cenderung bagaimana Islam merespon kearifan lokal.

Melanjutkan konteks peimkiran sebelumnya, namun dengan kerangka berbeda, pada bab ke-5, disuguhkan pemikiran/nalar epistemologi integrasi ilmu-ilmu sekuler dengan ilmu-ilmu keislaman. Bab ini masih menyajikan bagaimana para tokoh Islam menggelar suatu proyek yang merupkan efek dari gerakan sekuler di Barat yang memisahkan ilmu agama dan ilmu umum tersebut. Proyek ini bernama integrasi keilmuan, yakni upaya untuk menyatukan kembali pengetahuan yang terdikotomi itu melalui proses pengintegrasian. Bab ini diawali dari epistemologi pengetahuan islam dalam perspektif Kuntowijoyo. Kemudian dilanjutkan dengan pemaparan epistemologi Islam yang dikembangkan oleh M. Amin Abdullah yang disebut dengan Jaring Laba-Laba Keilmuan. Dan diakhiri pemaparan epistemologi pohon keilmuan Imam Suprayogo.

Meski hidup dalam satu era, terdapat perbedaan antara proyek Islamisasi islam dengan integrasi Islam. Dalam Islamisasi pengetahuan, keilmuan Islam akan memilah dan memilih ilmu-ilmu yang dinilai Islami dan yang bukan Islami atau tidak coock dengan Islam, lalu yang tidak cocok dengan Islam harus diislamisasi atau dibuang sama sekali. Bentuk Islamisasi pengetahaun seperti ini dinilai menemui jalan buntu. Sebaga integralisasi, tidak sekedar mencocok-cocokkan, melainkan dibutuhkan kerja sama, saling tegur sapa, saling membutuhkan, saling koreksi, dan saling keterhubungan antar disiplin keilmuan.

Proyek berikutnya, yang bisa dibilang nalar epistemologi terbaru, adalah Antroposentrisme Islam, yang juga menjadi tawaran dari Dr. Aksin Wijaya. Pada bab ke-6 ini, penulis menyuguhkan diskusi tentang bagaimana mengembangkan lebih lanjut proses integrasi dengan mengubah makna “integrasi” menjadi “interaksi.” Dalam interaksi ini, masing-masing disiplin keilmuan tetap memiliki otonomi kekuatan khasnya sendiri-sendiri.

Interaksi juga bisa menjadikan keilmuaan sekuler sebagai alat memahami agama, seperti menggunakan hermeneutika, semiotika, semantic, sosiologi, dan sebagainya dalam memahami Al Quran, sehingga dapat menemukan pesan Islam yang bersifat manusiawi di dalamnya. Atau, menjadikan ilmu-ilmu keislaman sebagai alat memahami ilmu-ilmu sekuler, sehingga ilmu-ilmu sekuler tidak melepaskan diri dari spiritualitas agama. Tujuan itu akan dicapai dengan mengarahkan epistemologi Islam yang berporos pada manusia.

Secara keseluruhan, buku ini memberikan dimensi pencerahan yang dibutuhkan bagi pengembangan khazanah pemikiran dan ilmu keislaman. Karena seperti yang disampaikan di awal buku ini, bahwa Islam memiliki ragam epistemologi yang kaya. Dan ini berdasarkan pada proses pergeseran nalar epistemologi yang bisa dikatakan sebagai sebuah cetusan baru dalam pengembangan metodologi pemikiran Islam.

Buku ini memang tidak menyajikan pemikiran seluruh tokoh dalam sejarah, namun tokoh-tokoh yang dihadirkan cukup menjadi representasi atas peta pemikiran Islam pada umumnya.

Penyajian buku diawali dengan bab pengenalan tentang paradigma sains ala Thomas Khun, yakni pergeseran paradigma sains, dan penulis mengenalkan mengenai pergeseran penalaran epistemologi dalam Islam. Penalaran dari para pemikir inilah yang membentuk aliran-aliran pemikiran epistemologis dari era klasik hingga era kontemporer.

Namun bahwa paradigma kuhnian dimaksudkan dalam konstruksi mewaktu yang linear. Bahwa dari paradigma I menuju paradigma II memang terjadi pergeseran paradigma sains, dan dalam hal ini paradigma sains ini dimaksudkan sebagai rezim sains. Bahwa konstruksi satu paradigma itu menjadi kebenaran umum yang diterima scara jamak yang kemudian teruntuhkan ketika terjadi anomali, semacam antitesis, dalam paradigma dan terjadi revolusi yang dilanjutkan dengan penyesuaian sehingga menjadi paradigma baru. Demikian seterusnya.

Sehingga analogi pergeseran konstruksi penalaran epistemologi dengan pergeseran pardigma tidaklah tepat. Karena penalaran epistemologi yang dimaksud tidaklah kemudian menjadi rezim yang diakui secara umum oleh kalangan para pakar secara luas dalam dunia pemikiran Islam. Satu konstruksi penalaran epistemologi kemudian tidaklah runtuh, malah konstruksi nalar epistemologi lama bertahan dan berdampingan dengan penalaran epistemologi baru. Lebih lanjut, keduanya dapat tumbuh berkembang dan kemudian memunculkan penalaran epistemologi baru hasil mensistentsis, ataupun bahwa mengantitesis konstruksi penalaran sebelumnya, baik salah sastu maupun semuanya.

Lebih tepatnya, menurut hemat saya, buku ini merpakan genealogi pemikiran Islam kontemporer. Karena dalam konteks genealogi, buku ini menyajikan pertumbuhan dan perkembangan aliran epistemologi. Karena dalam genealogi ada interaksi namun tidak selalu mencerminkan dialektika yang meniscayakan sintesis dan menjadi rezim. Genealogi, seperti dialektika pada pergerseran paradigma ala Kuhn, bisa saja terjadi, namun tidak kemudian menghilangkan tesis. Dan dalam genealogi, tesis ini bisa jadi mati, namun bisa jadi juga terus tumbuh dan berkembang beriring sejalan dengan antitesis dan sintesis yang semuanya bisa saling berinteraksi kembali dan tumbuh bersamaan dalam konteks masing-masing. Demikian seterusnya.

Buku ini sangat recommended bagi kaum Muslim secara keseluruhan untuk bisa menggali lebih jauh pemikiran Islam yang bersifat pragmatis. (*)

 

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.