NEW DELHI-KEMPALAN: Haneef Atmar selaku Menteri Luar Negeri Afghanistan berkunjung ke India pada Senin (21/3) untuk membicarakan pendekatan baru pemerintah AS yang dipimpin Joe Biden terkait pembicaraan damai dengan Taliban yang akan mencakup peran yang lebih besar untuk India.
Melansir dari The Print bahwa perundingan dan pembicaraan telah berlangsung untuk membawa perdamaian jangka panjang ke Afghanistan, dimana AS bermaksud untuk menarik pasukannya pada 1 Mei, seperti yang awalnya diputuskan dimasa Donald Trump.
Pada kunjungannya ke India, Atmar tidak akan hanya bertemu S. Jaishankar, Menteri Luar Negeri India, namun juga diharapkan bertemu Perdana Menteri Narendra Modi. Dalam pertemuan ini, Atmar akan menyampaikan pesan yang sama dengan Ashraf Ghani bahwa Republik Islam Afghanistan menolak saran AS untuk membentuk pemerintahan transisi.
Atmar akan berusaha untuk mencari dukungan India dalam melawan dorongan AS untuk membentuk pemerintahan transisi, karena Anthony Blinken, Menlu AS telah meminta pertemuan Menlu AS, Rusia, Pakistan, Iran, Cina, dan India dibawah bendera PBB berkenaan dengan penyelesaian masalah Afghanistan, hal ini membuat India sebagai salah satu pemangku kepentingan.
Menlu Afghanistan itu juga memberikan rundown tentang apa yang terjadi dalam pembicaraan damai dan mencoba untuk memastikan apa yang telah diputuskan oleh pemerintah India mengenai pendekatan Biden terhadap kesepakatan damai Taliban.
Berbicara kepada ThePrint, diplomat veteran dan mantan utusan India untuk Kabul, Rakesh Sood, mengatakan Atmar dapat membagikan rincian aktivitas diplomatik seputar kesepakatan damai dengan India selama kunjungannya.
“Kunjungan Menteri Luar Negeri Atmar penting karena ada kesibukan dalam aktivitas diplomatik dan dia akan dapat membagikannya dengan pihak berwenang India. Surat Menlu Blinken kepada Presiden Ghani dan Rencana Perdamaian yang telah dibagikan oleh Khalilzad di Kabul dan Doha adalah penting,” kata Sood kepada ThePrint yang dikutip oleh Kempalan.
Ia juga menunjukkan bahwa masih ada keinginan untuk meninggalkan Afghanistan dari pihak AS, namun ada juga saran bahwa pemerintah yang ada sekarang harus memberikan jalan untuk pemerintahan transisi yang akan memasukkan Taliban.
Dia menambahkan, “Pernyataan ‘ketiga pihak yang diperpanjang’ bahwa mereka tidak mendukung kembalinya sistem Emirat Islam adalah penting karena Pakistan – yang memiliki pengaruh maksimal terhadap Taliban – juga merupakan pihak dalam hal ini dan Taliban harus memberikan pemikiran yang serius ini.”
Gautam Mukhopadhaya, mantan duta besar India untuk Afghanistan, Myanmar dan Suriah, percaya bahwa keterlibatan India dalam proses perdamaian sangat penting untuk hasil yang seimbang yang mencoba mendamaikan jurang pemisah antara Taliban dan Republik Islam Afghanistan, seperti yang telah diusulkan oleh AS.
“Tapi ada bahayanya ketika AS keluar, perusak regional akan memainkan peran yang lebih besar dan negatif. Proses regional seharusnya tidak menjadi alasan untuk membuang Afghanistan di wilayah tersebut. AS harus tetap terlibat penuh secara politik di balik komitmennya terhadap kedaulatan dan demokrasi Afghanistan di dalam dan luar negeri,” kata Mukhopadhaya.
Ia menambahkan bahwa negaranya tidak berusaha untuk membuat kesepakatan dibalik Republik Islam Afghanistan dan India berkenan untuk berunding dengan Taliban sebagai bagian dari upaya baik dalam proses perdamaian yang bermuara pada sebuah kesepakatan. (ThePrint, rez)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi