Oposisi Politik Belarusia: Tidak Ada Pihak yang Bisa Menang
MINSK-KEMPALAN: Krisis politik Belarusia masih bertahan semenjak Alexander Lukashenka masih menjadi presiden menurut klaimnya usai pemilu tahun 2020 lalu. Ia telah berkuasa di negara itu semenjak 1994.
Oposisi Belarusia sendiri sampai pada tahap dimana mereka tidak akan mampu mengalahkan sang diktator itu tanpa bantuan dunia internasional yang berkelanjutan dan rencana pertolongan untuk Belarusia.
“Belarusia sekarang telah mencapai titik di mana tidak ada pihak yang bisa menang, oleh karena itu faktor eksternal sangat penting,” kata Anatol Liabedzka, CEO Pusat Dialog Eropa, di Vilnius, Senin (22/3) seperti yang dikutip Kempalan dari Balkan Insight. Ia menyampaikan hal itu ketika menghadiri Forum Kalinauskas Internasional kedua yang bertujuan mengumpulkan kelompok demokrasi untuk mendesak Belarusia mengadakan pemilu yang demokratis dan bebas.
“Jika bukan karena dukungan Kremlin untuk Lukashenko, kami akan dapat menyelesaikan masalah kami sendiri,” kata Liabedzka. Ia menambahkan, jika komunitas internasional tidak meningkatkan tekanan pada rezim Lukashenko, situasinya tidak akan berubah, katanya. Dalam hal itu, menurut dia, presiden ini akan tetap berkuasa sampai dia berusia 90 tahun, “kemudian dia akan dimakamkan di sebuah mausoleum dan presiden baru Nikolai Lukashenko akan menjadi orang pertama yang meletakkan karangan bunga di sana.”
Maka dari itu, menurutnya, semua negosiasi dengan Lukashenka harus dipaksakan sementara meminta negara-negara Barat untuk memberikan “Marshall Plan” untuk Belarusia.
“Belarusia harus memahami bahwa semua pernyataan tentang krisis ekonomi yang akan dimulai setelah keluarnya Lukashenko dan kedatangan Svetlana Tsikhanouskaya [pemimpin demokrasi Belarusia] tidak benar… Paket reformasi ekonomi harus diadopsi,” katanya. Liabedzka juga menyerukan untuk menciptakan jaringan parlemen nasional yang akan bertindak bersama dalam menanggapi situasi di Belarusia. Svetlana selaku pemimpin oposisi politik Belarusia harus melarikan diri ke Lithuania dan meminta suaka di sana untuk mengamankan dirinya, karena ancaman terhadapnya akibat maju untuk kursi presiden menggantikan suaminya yang dipenjara melawan Alexander Lukashenka.
“Kami menyatakan penggunaan kekuatan yang tidak proporsional terhadap para demonstran damai. Kami juga mendokumentasikan ratusan ribu kasus penyiksaan, kekejaman. Ini sudah digunakan secara sistemik dan tidak ada habisnya,” ujar Ales Beliatski, pendiri pusat hak asasi manusia Viasna. Ia juga menyatakan bahwa sebanyak 2.500 kasus kriminal sedang dibuka di Belarusia dan 1.000 orang lebih telah mendekam di tahanan. (Balkan Insight, rez)
