NAYPYIDAW-KEMPALAN: Myanmar berada dalam kekacauan sejak militer menggulingkan pemimpin sipil Aung San Suu Kyi dari kekuasaannya dalam kudeta 1 Februari, yang memicu pemberontakan nasional ketika para pengunjuk rasa menginginkan kembalinya demokrasi.
Pada hari Sabtu (20/3) para pengunjuk rasa kembali turun ke jalan setelah adanya kampanye yang membuat para warga takut untuk turun ke jalan. Indonesia dan Malaysia mengecam kekerasan yang dilakukan oleh pasukan keamanan terhadap demonstran anti-kudeta dan membuat semangat demokrasi warga Myanmar kembali terisi.
Sejauh ini, lebih dari 247 orang telah tewas dalam kerusuhan anti-kudeta, menurut AAPP, pasukan keamanan telah mengerahkan gas air mata, peluru karet dan peluru tajam melawan pengunjuk rasa anti-kudeta.
Melansir dari Mizzima, pada hari Jumat (19/3) Presiden Indonesia Joko Widodo mengutuk kekerasan yang meningkat dan menyerukan pertemuan regional tingkat tinggi “untuk membahas krisis.”
“Indonesia mendesak agar penggunaan kekerasan di Myanmar dihentikan untuk menghindari lebih banyak korban,” ujarnya.
Perdana Menteri Malaysia Muhyiddin Yassin menggemakan perlunya pertemuan puncak “darurat” di antara 10 negara Perhimpunan Bangsa Bangsa Asia Tenggara.
“Saya terkejut dengan penggunaan kekerasan mematikan yang terus-menerus terhadap warga sipil yang tidak bersenjata … Penggunaan amunisi langsung terhadap protes damai tidak dapat diterima,” katanya dalam sebuah pernyataan pada Jumat (19/3).
“Situasi yang menyedihkan ini harus segera dihentikan.”
Kecaman internasional oleh Amerika Serikat, bekas kekuatan kolonial Inggris dan PBB sejauh ini gagal untuk memperlambat kekerasan.
Menteri luar negeri Uni Eropa akan menyetujui sanksi pada hari Senin (21/3) terhadap 11 pejabat junta, menurut diplomat Uni Eropa. (Irrawaddy, Abdul Manaf Farid)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi