Kampus Komunikasi dan Tantangan di Era 5.0
KEMPALAN: Banyak kampus swasta gulung tikar atau mengalami kesulitan di era pandemi ini. Jumlah mahasiswa terus terjun bebas. Tenaga pengajar dirumahkan atau diputus hubungan kerjanya. Tak terkecuali kampus ilmu komunikasi pertama dan tertua di Indonesia yang ada di Surabaya, Stikosa-AWS. Tulisan ini dipicu dua tulisan sebelumnya di kempalan.com yang bernuansa duka atas meninggalnya salah seorang alumnus, sekaligus duka melihat kondisi kampus saat ini.
Dalam dua tulisan sebelumnya terungkap bahwa kampus mungil di Nginden Intan itu telah melahirkan banyak tokoh di industri media, dunia jurnalistik, dan bidang kehumasan. Tjuk Suwarsono (eksSurabaya Post), Dhimam Abror (eksJawa Pos), dan Errol Jonathans (Suara Surabaya) hanyalah segelintir dari ‘generasi emas’ Stikosa-AWS. Jujur, ketertarikan saya bergabung dengan Stikosa-AWS pada tahun 2003, sepulang mencari ilmu di Inggris, karena terilhami nama-nama besar lulusan AWS.
Terjadinya pergantian kepemimpinan pada akhir 2019, sayangnya, membuahkan kisruh tak berkesudahan hingga saat ini. Laporan pertanggungjawaban Ketua/Rektor yang telah diaudit eksternal dan meninggalkan neraca positif dan reputasi serta prestasi baik bagi kampus, tidak diterima. Tentu, sebagai manusia, ada kesalahan mantan ketua. Biasanya dalam proses pergantian, pendatang atau pejabat baru akan ‘mikul dhuwur mendem jero’. Yang terjadi malah penelusuran mencari-cari kesalahan pengelola sebelumnya, disertasi ancaman pidana.
Tidak mengejutkan ketika 4 orang doktor dan 1 master komunikasi pamit dari kampus yang sangat dicintai ini. Saya teringat beberapa tahun sebelumnya, saat penilaian perguruan tinggi, seorang assessor berkata: “Kalian ini selalu menyombongkan sebagai kampus tertua. Tapi tidak punya doktor.” Ironis, sebuah lembaga pendidikan tinggi tanpa doktor. Di bawah kepemimpinan Ismojo Herdono (mantan Kabiro SCTV di Jawa Timur), akhirnya Stikosa menghasilkan 4 doktor. Tragisnya, empat doktor itu kemudian pamit pada masa pergantian pemimpin.
Kepergian mereka disayangkan bukan hanya karena gelar akademiknya, tetapi karena kualitas kemanusiaan dan profesionalitas mereka. Selain pintar, orang-orang ini adalah tokoh di dunia industri media, berjaringan sangat luas, bersikap ramah dan santun pada rekan, anak buah, bahkan mahasiswa. Benar-benar menunjukkan the real meaning of communication. Bagaimana Anda membayangkan kesuksesan sebuah lembaga bila para pemimpinnya tidak bersikap ramah, berkomunikasi dengan berteriak, mengintimidasi anak buah, atau tidak mendengarkan suara mahasiswa?
Menarik isu pendidikan ilmu komunikasi ke skala yang lebih besar, kita dapat menyaksikan betapa komunikasi mengalami disruption. Yang disebut teroritikus sebagai post-truth sudah mewujud di keseharian kita. Kebenaran menjadi relatif. Meskipun aturan Dikti mensyaratkan anggota Senat bergelar akademik S2-S3, Stikosa-AWS mendelete dua doktor pilihan rapat dari daftar anggota Senat Akademik. Penggantinya adalah tiga alumnus, praktisi pers, yang dua di antaranya masih jenjang S1. Bagaimana Senat Akademik diisi praktisi, bukan akademisi? Siapa yang akan memikirkan grand design akademik kampus ke depan? Ini salah satu contoh post-truth, kebenaran relatif, yang ada di depan mata.
Gaya komunikasi para buzzer yang diksinya keras (hostile) dan merundung (membully) seperti yang dilakukan Denny Siregar, Abu Janda, adalah contoh komunikasi tanpa melewati pendidikan komunikasi yang benar. Post-truth lagi: Ketua KNPI pelapor Abu Janda dicopot dari jabatannya, Abu Janda penghina umat Islam, melenggang bebas. Dunia maya yang kini bising dan berisik karena banyaknya buzzer turut menggarisbawahi betapa kacaunya dunia ini bila orang-orang tidak memahami filsafat komunikasi dan menerapkannya dengan benar. Presiden Jokowi saja menggunakan diksi “benci impor”, yang jelas memicu masalah dalam dunia perdagangan antar negara.
Pendidikan ilmu komunikasi bukan sekadar bisa menulis 5W-1H, paham teknologi (ICT), menguasai kamera, atau tampak cerdas di layar kaca. Ilmu komunikasi mencakup juga pengetahuan mengenai hirarki makna, panggung depan panggung belakang, retorika. Tanpa pengajaran yang baik, diksi para buzzer dan para pemimpin bisa merusak tatanan bahasa Indonesia, yang pada gilirannya merusak tatanan berbangsa.
Di era 5.0, yang segera kita masuki, teknologi bukan lagi persoalan, karena semua serba digital. Kecerdasan digital saja tidak cukup. Yang menjadi persoalan adalah nilai-nilai dan karakter manusianya. Dalam hubungannya dengan ilmu komunikasi, sikap (attitude) dan hasrat (passion) terhadap komunikasi akan membedakan kualitas dan profesionalitas individu. Dari pengalaman, pengamatan, dan cerita saksi mata, di kampus komunikasi yang tengah kita bicarakan dalam tulisan ini, ruh itu tidak ada. Ruh komunikasi yang mewujud dalam passion dan attitude komunikasi seperti lenyap. Tak ada pengajar yang pernah berkecimpung di dunia media, dan karena tak ada pengalaman itu, passion mereka saat mengajar tak memiliki pijakan nyata. Juga, attitude komunikasi para pimpinan terhadap karyawan, dosen, dan mahasiswa, kurang mencerminkan karakter leadership yang mengayomi, memberikan solusi, dapat diandalkan.
Ciri khas era 5.0 yang mesti dihadapi oleh para lulusan kampus komunikasi antara lain tersedianya begitu banyak data (big data, information abundance), yang menuntut kemampuan selektif. Juga, maraknya false identity (identitas semu), connectivity (keterhubungan), artificial intelligence, selain post-truth. Itu semua memerlukan kematangan komunikatif, yang diajarkan pada mahasiswa oleh pengajar-pengajar yang kompeten dan berpengalaman.
Kesedihan yang menyelimuti kampus ini semakin nyata ketika beberapa dosen lagi menyusul meninggalkan kampus. Bila di awal transisi kepemimpinan lima dosen senior pamit, belakangan hingga hari ini menyusul 3 dosen muda, yang mestinya bisa menjadi kader penerus, ikut pamit. Total delapan dosen pamit sejak pergantian pimpinan Desember 2019. Dua dosen senior yang masih tinggal juga memasuki masa pensiun. Pertanyaannya: akan belajar apa para mahasiswa, dan belajar kepada siapa? Siapkah kelak para lulusan menerjuni dunia nyata, era 5.0 yang penuh persaingan namun sekaligus menuntut kemampuan berkolaborasi?
Sebagai penutup saya mengutip Tim Cook, CEO Apple: “Saya tidak khawatir pada Artificial Intelligence yang menjadikan komputer bisa berpikir dan bertindak layaknya manusia.Yang saya cemaskan adalah manusia yang berpikir layaknya komputer, tak memiliki nilai-nilai, tanpa compassion, dan consequence. Bila sains adalah upaya pencarian dalam kegelapan, humanities (rasa kemanusiaan) adalah lilin yang menerangi dan menunjukkan kita berasal darimana dan memberitahu kita akan bahaya yang menghadang di depan.”
Semoga para mahasiswa dan lulusan Stikosa-AWS memiliki nilai-nilai kemanusiaan itu untuk menjalani kehidupan mereka di masa depan. (*)
