NAYPYIDAW-KEMPALAN: Dalam 43 hari sejak kudeta, total 183 kematian terkait protes telah dicatat hingga Senin malam (15/3).
Lima belas pengunjuk rasa ditembak mati dan beberapa orang terluka pada hari Senin (15/3) selama penumpasan mematikan oleh rezim militer Myanmar terhadap protes anti-rezim di seluruh negeri.
Rezim Militer terus menyerang pengunjuk rasa di beberapa kota termasuk Mandalay, Myingyan, Hlaing Tharyar, Aunglan, Bago, Gyobingauk, Monywa dan Aungban di Negara Bagian Shan.
Melansir dari Irrawaddy, Pada Senin sore, setidaknya tiga orang ditembak mati dan beberapa orang terluka dalam serangan oleh polisi dan tentara terhadap protes anti-rezim di Kotapraja Hlaing Thar Yar Yangon di mana sekitar 37 orang kehilangan nyawa pada hari Minggu. Total korban tewas hari Minggu secara nasional adalah 73.
Tiga pengunjuk rasa, termasuk seorang wanita, ditembak mati selama serangan polisi terhadap demonstrasi anti-rezim di Myingyan di Wilayah Mandalay pada hari Senin. Beberapa orang terluka.
Sementara itu, dua lainnya ditembak mati selama protes anti-rezim di kota terbesar kedua negara itu, Mandalay.
Tujuh pengunjuk rasa anti-rezim lainnya dibunuh oleh pasukan keamanan di kota Aunglan di Wilayah Magwe, Gyobingauk di Wilayah Bago, Bago, Monywa di Wilayah Sagaing, dan Thabeikkyin di Wilayah Mandalay pada hari Senin.
Di tengah penumpasan mematikan yang semakin intensif, ratusan ribu orang di seluruh Myanmar turun ke jalan setiap hari untuk memprotes rezim militer.
Orang-orang di kota-kota besar di Myanmar juga turun ke jalan untuk mengambil bagian dalam protes malam hari setiap hari dari sekitar jam 7 pagi hingga jam 9 malam. (abdul manaf farid/irrawaddy)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi