Minggu, 3 Mei 2026, pukul : 02:53 WIB
Surabaya
--°C

Selamat Jalan, Gondo Swandono, Pelestari Budaya Tradisional

JOMBANG-KEMPALAN:  Selamat jalan Gondo Swandono tokoh Tionghoa peduli budaya  Jawa yang meninggal dunia di usia 55 tahun pada Sabtu (27/2) subuh akibat serangan jantung di kediamannya.

Ia dimakamkan pada Senin (8/3 )di pemakaman keluarga tunggorono. Mendiang meninggalkan seorang istri Feroline Bella dan tiga anak. Kesedihan mendalam istri tercinta Bella yang menangis tersedu-sedu saat peti jenazah masuk ke liang lahat. Bella tak menyangka suaminya tercinta pergi begitu cepat meninggalkan dunia. Sehari sebelum wafat mendiang menelepon Sunardi jurnalis Swaranews mengajak untuk makan lontong capgomeh di rumahnya, namun karena ada acara peliputan di klenteng penulis tak dapat memenuhi keinginan mendiang.

Lalu keesokan harinya penulis datang ke rumahnya dan mendapatkan kabar duka tersebut dari karyawan mendiang. Selama seminggu disemayamkan di Margo Langgeng, Jombang. Prosesi duawei saat malam kembang dipimpin suhu Djoko teman mendiang. Kemudian keesokannya (8/2) dimakamkan mengikuti tradisi Tionghoa.  Penghormatan  terakhir dilakukan oleh sahabat karibnya Gus Arya tokoh religi budaya pasuruan dan  Nyoman Antara tokoh spiritual Singaraja Bali. “Kami kehilangan pelestari budaya Jawa yang memiliki jiwa sosial tinggi sulit digantikan yang lainnya. Kami berdoa semoga mendiang hidup bahagia di akhirat” harap Gus Arya.

Sahabat karib lainnya, Nyoman Antara mengenang kebajikan mendiang Gondo Swandono yang memiliki jiwa sosial, tenggang rasa dan tepa selira terhadap sesama teman. Ia merasa kehilangan atas kepergian sahabat terkasih.

Kenangan para sahabat bersama mendiang saat acara lintas budaya di Taman Mini Jakarta, 2019 dan pertemuan budayawan Sunda Jawa di Jawa Narat, 2018.

Semasa hidupnya mendiang yang akrab disapa Go Bing Swan adalah tokoh Tionghoa dan  juga pengusaha yang mendalami filosofi Jawa. Ia merupakan kolektor benda pusaka kuno seperti keris, akik, kimsin, keramik dan lainnya.

Filosofi yang dipegang teguh semasa hidupnya yaitu “urip iku kudu nabur kebecikan marang leluhur, wong tuwo, keluarga, konco lan manungso. Agomo iku cekelane urip kanggo nyambung roso marang manungso lan sangune urip ngadep marang Gusti Allah”  (Hidup di dunia ini menaburkan benih kebajikan untuk leluhur, orang tua, keluarga, sahabat dan sesama manusia. Agama itu pegangan hidup untuk sambung rasa pada sesama manusia dan  bekal untuk menghadap tuhan sang pencipta).

Tokoh pewayangan yang jadi idola mendiang adalah Pendawa Lima yang selalu menjunjung tinggi kebenaran dan keadilan serta Semar Mesem yang selalu ceria meskipun menghadapi berbagai persoalan hidup yang rumit.

Harapan mendiang yang belum terealisasi adalah mendirikan museum peranakan Tionghoa. Mendiang   mengungkapkan keinginannya kepada penulis setahun yang lalu untuk merealisasikan konsep pusaka dan pustaka, yaitu membuka galeri pusaka barang antik dan perpustakaan untuk umum di rukonya jalan Kenjeran Surabaya. Selamat jalan Gondo Swandono, semoga amal kebajikan yang telah kau perbuat semasa hidup menjadi bekal di akhirat. (acong sunardi)

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.