Penerimaan Teknologi Digital Experiences Tinggi, Indonesia Kalahkan Inggris dan Amerika Serikat

waktu baca 2 menit

KEMPALAN: Indonesia sebagai negara dengan jumlah penduduk hingga 267 juta penduduk, tentu memiliki tingkat konsumen digital yang tinggi. Bahkan, konsumen Indonesia menjadi klasmen terdepan dalam merengkuh digital experiences atau pengalaman digital. Hal ini diungkap oleh studi dan riset yang dilakukan oleh VMware dalam konteks Digital Frontiers 3.0 Study.

Dalam riset ini, ada delapan dari sepuluh kosumen Indonesia atau 84 persen, yang sudah bergeser kepada sistem digital yang terkoneksi dengan suatu brand. Hal ini membuat Indonesia sebagai negara di kawasan Asia Tenggara yang terdepan dalam konteks penerimaan pengalaman digital.

“Dari semua negara yang disurvei, konsumen Indonesia juga merasa paling nyaman memberikan kepercayaan ke perusahaan-perusahaan dalam mengakses data personal agar mereka sebagai pelanggan dapat menikmati pengalaman digital yang lebih baik,” ujar riset dan survei yang dierima oleh Medcom.id pada Sabtu (13/3).

Berdasarkan riset analitis ini, rata-rata tingkat penerimaan kosumen dalam pengalaman digital di kawasan Asia Tenggara adalah 78 persen. Tentu dalam survei ini Indonesia mendapatkan angka yang di atas rata-rata. Kemudian, tingkat penerimaan konsumen Indonesia terhadap konteks digital mengalahkan beberapa negara maju Eropa, seperti Inggris dengan 34 persen, Jerman dengan 44 persen, prancis dengan 41 persen, dan Amerika Serikat dengan 40 persen.

Dalam survei yang diadakan oleh VMware, ada sekitar 59 persen menyatakan bahwa kosumen Indonesia merasa nyaman dan tertarik untuk mempersilakan bank untuk mengakses segala kegiatan mereka. Kegiatannya tentu yang dekat dengan konsumen, seperti perilaku belanja, nutrisi dan program diet, serta kegiatan melancong dan pergerakan sehari-hari konsumen. Sehingga kosumen dapat memberikan masukan dan pengelolaan finansial yang lebih baik kepada nasabah.

Di sektor ritel, sebesar 61 persen konsumen Indonesia merasa nyaman dan tertarik untuk mempersilakan peritel memiliki akses data. Hal ini berfungsi untuk dapat menghadirkan pengalaman yang semakin relate bagi konsumen. Adapun sebanyak 80 persen responden dikategorikan diri sebagai digitally curious atau digital explorer. (Rafi Aufa Mawardi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *