KEMPALAN: Dunia penerbangan tak lagi dunia maskulin dan didominasi pria. Para pilot wanita saat ini tak kalah mampu dan sigap bekerja di moncong pesawat. Capt Isma Kania Dewi telah membuktikannya. Senin (8/3) lalu, Capt Isma memimpin penerbangan pesawat Boeing 787 Dreamliner dari Abu Dhabi, Uni Emirate Arab, menuju Kairo, Mesir.
Penerbangan all female flight crew itu adalah sebuah momen khusus yang digelar Etihad Airways memeringati International Women’s Day yang diperingati setiap 8 Maret.
Capt Isma memimpin seluruh kru penerbangan yang semua adalah wanita. Co-pilotnya adalah Shareefa Al Bloushi berkebangsaan UEA. Penerbangan dari Abu Dhabi ke Kairo memakan waktu sekitar 4 jam.

Dalam video yang dirilis Etihad dan sedang viral di berbagai linimasa ini, kedua pilot wanita itu begitu sigap, santai, dan percaya diri menjalankan tugasnya di kokpit.
Momen saat pesawat take off di Abu Dhabi International Airport, lalu terbang melintasi Yas Marina Circuit, yang menjadi tempat diselenggarakannya ajang balap tahunan F1 Etihad Airways Abu Dhabi Grand Prix dan Laut Merah. Pesawat canggih itu kemudian mendarat mulus di Cairo International Airport.
Pesawat Boeing 787 Dreamliner itu sendiri adalah pesawat berbadan lebar dengan dua mesin jet. Salah satu jenis pesawat termodern di dunia saat ini. Dreamliner dirancang untuk penerbangan jarak jauh dan mampu membawa 242 sampai 335 penumpang tergantung konfigurasi tempat duduk.
Hanya 5 Persen di Dunia

Capt Isma Kania Dewi, sang captain, adalah wanita kelahiran kelahiran Bogor 1975. Dia lulus sekolah Pendidikan dan Latihan Penerbangan (PLP) Curug, Tangerang dan memperoleh Commercial Pilot License dan Multi Engine Instructor Rating pada 1997.
Capt Isma lalu bergabung menjadi pilot di maskapai nasional Garuda Indonesia. Pesawat Boeing Classic 787-300 adalah pesawat komersial pertamanya. Selepas dari Garuda, dia kemudian berkarir di Qatar Airways. Dan saat ini, Capt Isma merupakan captain pilot di Etihad Airways dan telah menerbangkan pesawatnya dengan banyak tujuan ke berbagai negara.
Selain menjadi seorang pilot, Capt Isma adalah ibu dari dua anak. Suaminya juga seorang penerbang. Mimpinya menjadi seorang pilot tertanam sejak lama, saat Isma kecil sering bolak balik ke bandara untuk menjemput ibunya yang menempuh pendidikan ke luar negeri. Dia sangat kagum melihat banyak pesawat take off dan landing di sana.
“Waaaaah..I thought it was beautiful,” ujarnya dalam sebuah wawancara dengan media.

Isma kecil lantas berpikir untuk menjadi seorang pilot. Tidak peduli betapa keluarganya sama sekali tidak memiliki latar belakang di dunia penerbangan, ia tetap teguh ingin menjadi pilot.
Namun dia menambahkan, meski menjalani profesi yang sangat menantang dan menuntut konsentrasi dan kebugaran fisik yang tinggi, prioritas hidupnya tetaplah keluargaya.
”At the end of the day,hanya peran kita sebagai ibu dan istri yang baik yang nantinya akan menjadi tabungan dan investasi paling besar di masa depan kita,” kata Isma.
Saat ini, jumlah pilot wanita di dunia penerbangan masih sangat sedikit. International Air Transport Association (IATA) merilis, jumlah pilot wanita hanya sekitar 5 persen dari seluruh pilot di dunia. Pada 2019 lalu, IATA meluncurkan program yang dinamakan 25by2025, yang dibuat sebagai usaha untuk meningkatkan jumlah pilot wanita dunia menjadi 25 persen pada 2025.
IATA menyatakan, mendukung upaya dan memberikan kesempatan kepada para wanita seluas-luasnya untuk ambil bagian dari upaya memastikan jika dunia tetap terhubung. (masayu indriaty susanto–penulis adalah isteri pilot di penerbangan internasional)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi