KEMPALAN: Dalam rangka mendukung upaya pemerintah untuk menjadi tuan rumah Olimpiade Musim Panas tahun 2032, PB Gabsi akan berupaya untuk bisa menggelar sebanyak-banyaknya turnamen bridge internasional di Indonesia.
Sebab menurut Ketua KOI Raja Sapta Oktohari yang disampaikan kepada Ketum PB Gabsi Miranda S Goeltom salah satu yang akan dinilai adalah kemampuan Indonesia menggelar turnamen bertaraf internasional.
Memang patut diakui cabang olahraga bridge akan sangat sulit untuk mendapat tempat di olympiade musim panas karena masih banyak cabor popular yang antri.
Namun karena perjuangan Indonesia yang diakui oleh dunia, bahwa Indonesia adalah pelopor cabor bridge dipertandingkan di multi event.
Indonesia berhasil memasukan cabor bridge dipertandingkan di SEA Games 2011 dan Asian Games 2018.Selanjutnya pada Asian Games 2022 di Hangzhou China, cabor bridge tetap dipertandingkan.
Sehubungan dengan hal tersebut, Indonesia juga akan memperjuangkan agar cabor bridge bisa menjadi cabor yang dipertandingkan secara rutin di SEA Games.Walaupun agak sulit, Indonesia akan mencoba lobi Vietnam agar cabor bridge dipertandingkan di SEA Games 2021 nanti mengingat cabor ini akan diperpandingkan di Hangzhou tahun berikutnya sehingga membantu persiapan Negara-negara Asean.
Nah untuk Olimpiade musim panas tahun 2032 seandainya Indonesia jadi tuan rumah mungkin saja bisa diusulkaan. Tentu saja jika bridge menunjukan prestasi baik di tingkat Asia maupun Dunia. Minimal bisa sebagai eksibisi seperti pada Olympiade Musim Dingin di Salt Lake City tahun 2002 yang lalu.
Kenapa memilih Asia Cup?
Asia Cup untuk cabor bridge adalah langkah awal menuju multi event Asian Games.
Selama ini memang tidak dikenal oraganisasi bridge tingkat Asia karena untuk kawasan Asia oleh World Bridge Federation dibagi dua zone. Zone VI Asia Pasifik dan Zone IV Asia & Asia Tengah.
Agar bisa dipertandingkan di Asian Games maka kedua Zone ini perlu dipersatukan. Jadilah Asia Pacific Bridge Federation, sehingga menjadi salah satu Olympic Ring (Ring Asia) bernaung dibawah Olympic Council of Asia (OCA).
Selanjutnya disusun rencana untuk mengoalkan cabor bridge dipertandingkan di Asian Games ke-17 (juga disebut XVII Asiad) dan diselenggarakan di Incheon, Korea Selatan. Sayang akhirnya belum terwujud.
Setelah jadi satu maka pada tahun 2010 diadakan Asia Cup pertama di Ning Bo, China.
Indonesia dengan para pemain Henky Lasut/Eddy Manoppo, Robert Tobing/Taufik G Asbi dan Belly Rumengan/Mahkota Ananda keluar sebagai juara.
Selanjutnya Indonesia mencatat prestasi yang membanggakan di event yang digelar 4 tahun sekali.Pada Asia Cup 2 di Wu Yi China, Indonesia bahkan meraih dua medali emas melalui tim senior yang bermaterikan Henky Lasut, Eddy Manoppo, Munawar Sawiruddin, Bambang Hartono, Bert Toar Polii dan Tanudjan Sugiarto.
Satu lagi diraih tim putri dengan para pemain : Lusje Bojoh/Joice Tueje, Kristina Wahyu Murniati/Suci Amita Dewi dan Conny Sumampouw/Rury Andhani.Karena event ini resmi maka pada saat penyerahan hadiah untuk pemenang, dinyanyikan lagu kebangsaan para juara.
Indonesia hanya gagal pada Asia Cup 3 tahun 2018 di GOA, India. Ini disebabkan karena atlet-atlet utama Indonesia tidak dikirim ke event ini.PB Gabsi lebih memilih mengirimkan atlet utama try-out ke Eropa dan Amerika. (Bert Toar Polii, penulis adalah pemerhati dan pemain bridge)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi