KEMPALAN: Di kalangan pengurus PWI Jatim dan para jurnalis yang sering kumpul di Balai Wartawan Taman Apsari ada tiga sosok yang digelari “Trio Macan”.
Ketiga sosok itu adalah Ferry ‘Fim’ Is Mirza (mantan Jawa Pos), Indro ‘Tomdut’ Sulistyo (mantan LKBN Antara) dan Abubakar ‘Aby’ Yarboo (mantan Memorandum). Dan kini Trio Macan itu tinggal dua. Sejak Jumat malam sepeninggal Aby yang wafat setelah dirawat seminggu di RSUA, Surabaya.
“Innaa lillahi wa inna ilaihi raji’un, telah wafat saudaraku H Abubakar Yarbo malam ini jam 19.10 di RSUA. Mohon dimaafkan kesalahannya,” tulis Fim disebar ke berbagai grup whatsapp setelah dikabari Nur Pontoh isteri almarhum Aby selepas sholat Isya, Jumat (19/2).
Fim memang terus memonitor sejak Aby masuk RSUA 12 Februari. Fim pula yang saban hari berkomunikasi dengan isteri dan Ais putra semata wayang Aby. Bahkan juga dengan keluarga (Ibu kandung) Aby di Bolmong, Sulut. “Ya waktu kondisi drop semalam, dan Ais diminta ke RSUA, saya juga kabarkan ke keluarganya di Bolmong,” tutur Fim kepada kempalan.com

“Kami semua disini berdoa agar Aby dapat mujizat dan sehat. Bila Allah berkehendak lain, kami ikhlas. Tolong Om Ferry bantu uruskan pemakamannya,” Jawab Ismail, adik almarhum Aby lewat HP yang speakerphone-nya dibuka sehingga terdengar suara doa dan tangis keluarga di Bolaang Mongondow itu.
Alhamdulillah tengah malam kemarin, jenazah Aby dimakamkan di makam Islam di belakang masjid Agung Sidoarjo. “Alhamdulillah pemakaman Abah sudah selesai. Lancar semua Oom,” kata Ais yang mengawal jenazah Abahnya dari RSUA sampai perkuburan.
Kembali ke sebutan Trio Macan. Kenapa dan apa pasalnya predikat itu dilekatkan kepada mereka bertiga ?
Menurut Taufiqurahman, ketiganya runtang runtung kemana dan dimana saja. “Ada kegiatan PWI, semisal acara HPN ketiganya selalu ikut hadir bersama dan tidurnya pun sekamar,” jelas wartawan yang akrab dipanggil dengan walikota Surabaya Barat itu.
Selain itu tambah Budi Hariyanto, ketiganya punya hoby sama. Suka makan, suka nyanyi, suka pijat refleksi. “Hobi mereka bertiga itu tetap tersalurkan meski di acara HPN,” ungkap Budi yang biasa dipanggil Bojes seraya merinci acara HPN mulai di Aceh, Riau, Bangka Belitung, Palembang. Sampai Maluku, Menado, Kalsel, Kaltim hingga NTB dan NTT.
Dalam setiap acara HPN atau Porwanas, Trio Macan itu punya tugas masing-masing. Fim jadi atlet futsal, Tomdut atlet Bowling merangkap pemain bridge dan almarhun Aby atlet bilyard dan pebowling. Selain itu, jelas Teguh, Fim selalu punya tugas khusus yaitu menyiapkan armada transport untuk kontingen PWI Jatim. “Setiap HPN dimanapun mobil selalu cukup. Yang dahsyat HPN di Aceh, kontingen 9 orang, mobil yang disiapkan ada 7,” jelas Teguh Bendum PWI Jatim.
Setelah Fim pensiun dari Jawa Pos 2004 mendirikan tabloid Sport Green Force. Dan pada 2015 almarhum Aby pensiun dari Memorandum membuat majalah Pro-M. Uniknya kantor redaksi Green Force di salahsatu ruangan di Balai Wartawan kini ditempati Pro-M. Sedangkan Fim sebagai Pemred, almarhum Aby jadi Pimpinan Umum. Sementara Tomdut sibuk di KONI Jatim.
Lalu bagaimana Trio Macan yang sekarang tinggal dua –Fim dan Tomdut– ? “Insyaa Allah kita jalani masa lansia ini dengan kebaikan dan menjaga silaturahmi dengan semua. Bagi saya dan Tomdut sahabat itu juga saudara,” pungkas Fim.
Pada 2009 saat pilgub DKI, saya dan almarhum dapat tugas KONI untuk monev atlit binaraga dan angkat berat. Kami menginap di Sahid Jaya Hotel. Tomdut tidak ikut.
Almarhum ada acara dan baru balik ke kamar di lantai 11 sekira pukul 21.00. Saya sudah berada dibalik selimut, tertidur nyenyak.
Tiba-tiba almarhum teriak sambil membangunkan saya. “Fim, gempa gempa….”, kata almarhum yang bercelana pendek berkaos singlet. Spontan saya bangun dan berdiri. “Mari jo, kita pi turun,” ajak almarhum ke saya dengan bahasa Manado. Memang saya dengan almarhum suka pakai bahasa daerah karena saya bisa dan paham.
Nah kisah konyol dan lucu saat hendak turun dari lantai 11. Lift hotel tidak berfungsi. Maka semua tamu hotel di lantai 11 berebut turun lewat tangga darurat.
Saya melihat beberapa tamu masih terlelap. Saya ajak almarhum untuk membangunkan tamu dikamar masing-masing dengan menggedor pintu kamar. Sambil teriak : Ada gempa buka pintu, bangun bangun.
Karena panik, banyak pasangan tamu yang berbusana apa adanya. Bahkan ada seorang perempuan yang memeluk guling dengan busana seadanya.
Yang lucu ketika semua tamu berhasil turun di lobby hotel, almarhum baru sadar kalau pakai kaos singlet celana pendek dan nyeker. Minta balik ke kamar mau ambil baju dan sandal. “Kalau ngana pi naik lagi, torang yanda mo ikut,” kata saya. Untunglah almarhum kembali ke kamar. (dad)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi