SURABAYA-KEMPALAN: Yuyung Abdi, 52 tahun, jurnalis fotografi alumnus Jawa Pos hari ini pukul 09 00 meninggal dunia (16/2) setelah dirawat beberapa hari karena serangan virus Covid 19.
Kabar duka ini menyentak semua orang, bukan sekadar keluarga besar Jawa Pos, tapi hampir seluruh kalangan di Jawa Timur tersentak oleh kepergiannya. Adi Sutarwiyono, Ketua DPRD Surabaya yang juga Ketua DPC PDIP Surabaya menyatakan kesedihannya atas kepergian Yuyung. “Turut berduka atas kepergian mas Yuyung, almarhum jurnalis foto yang sangat profesional, saya sering bareng almarhum liputan di lapangan,” tulis Adi di sebuah grup whatsapp.
Sebelum terjun ke politik Adi menekuni profesi jurnalistik di Harian Surya dan lebih dikenal dengan inisial Awi yang menjadi panggilannya sampai sekarang. “Ketika meliput gerakan reformasi 1998 saya sering bertemu di lapangan dengan mas Yuyung,” kata Awi.
Yuyung selalu ringan tangan dan tak pernah menolak tugas. Ia profesional dan perfeksionis. Mantan koleganya di Jawa Pos Ony Firzan Syahrony mengenang Yuyung sebagai senior yang sangat menyenangkan dan suka membantu junior-juniornya.
“Mas Yuyung Abdi, fotografer yang gak mau bekerja tanggung. Rela blusukan masuk gorong-gorong yang penuh air. Suka menunggu berjam-jan di satu lokasi demi angle foto terbaik. Kalau liputan sama Mas Yuyung, wartawan tulis sering kesal karena sesi foto lebih lama dari wawancara,” tulis Ony di grup whatsapp wartawan-wartawan Surabaya.

Rambutnya kriwul dan cenderung acak-acakan dengan kacamata tebal dan kaos oblong plus jeans, Yuyung selalu tampil khas. Yang belum kenal mengiranya orang serius. Tapi orang-orang dekatnya tahu dia suka guyon dan doyan humor khas Arek Suroboyo asli. “Beliau juga sering usil. Tukang kentut di kantor. Tapi saya bersaksi beliau orang baik. Saya sering jadi makmum saat beliau jadi imam shalat berjamaah. Mudah-mudahan segala amal ibadah beliau diterima di sisi Allah swt,” tulis Ony.
Jauh sebelum musim hijrah seperti sekarang Yuyung sudah memulai gerakan hijrah. Dia rajin ikut kajian dan bacaan Alquran-nya tartil. Sekarang Yuyung hijrah menemui Rabb-nya. Tulis seorang wartawan senior.
Yuyung termasuk “Generasi Graha Pena” di Jawa Pos, generasi ketiga setelah generasi Kembang Jepun dan generasi Karah Agung. Dia gabung Jawa Pos pada 1995 ketika Jawa Pos sudah mulai memperkuat positioningnya sebagai market leader dan mengembangkan sayap perusahaan ke seluruh Indonesia.
Yuyung, lulusan kimia Unair menjadi bagian dari perkembangan Jawa Pos yang ketika itu sudah mulai menerapkan konsep “viewspaper” dengan memberi kekuatan pada narasi, fotografi, dan infografik. Jawa Pos menjadi pioner sebagai koran yang terbit full color seluruh halaman dengan foto-foto yang segar dan berukuran besar.
Pada 1999 Jawa Pos melakukan revolusi dengan mengubah format dari broadsheet 9 kolom menjadi young broadsheer 7 kolom. Perubahan revolusioner itu membawa perubahan juga pada tataletak dan tatawajah yang sangat ditentukan oleh kualitas grafis dan fotografi.
Yuyung memainkan peran penting dalam transformasi itu dan memberi Jawa Pos dimensi forografi yang modern yang kemudian banyak diikuti oleh koran-koran lain.
Yuyung adalah pembelajar yang tekun. Di tengah kesibukannya ia meneruskan S2 di Unair almamaternya. Lulus magister dia lanjut S3 di Fisip dan melakukan penelitian untuk disertasi mengenai fotografi. Tak banyak awak redaksi yang bisa menyelesaikan studi doktoral sampai mendapat gelar doktor. Di kalangan fotografer mungkin hanya Yuyung yang punya gelar doktor.
Setelah berhenti dari Jawa Pos pada 2019 Yuyung banyak menularkan ilmunya dengan membentuk komunitas fotografi dan mengajar di almamaternya serta di beberapa kampus di Surabaya. Selamat jalan, sahabat. (dad)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi