Minggu, 12 Juli 2026, pukul : 09:35 WIB
Surabaya
--°C

Tarif Asuransi Risiko Perang bagi Kapal di Selat Hormuz Meningkat di Tengah Ketegangan Baru

SURABAYA-KEMPALAN: Tarif asuransi risiko perang (war-risk insurance) bagi kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz kembali meningkat di tengah eskalasi militer terbaru di kawasan tersebut, demikian disampaikan seorang pakar terkemuka di bidang asuransi maritim kepada Xinhua pada Jumat (10/7).

“Tarif (asuransi) risiko perang naik seiring meningkatnya risiko,” ujar Neil Roberts, kepala bidang kelautan dan penerbangan di Lloyd’s Market Association, sebuah asosiasi perdagangan yang mewakili perusahaan-perusahaan penjamin risiko (underwriting business) yang beroperasi di pasar asuransi London.

“Tarif tersebut sempat melunak setelah nota kesepahaman (memorandum of understanding/MoU) antara Amerika Serikat (AS) dan Iran ditandatangani pada Juni, tetapi kembali meningkat setelah tiga kapal diserang pekan ini,” katanya.

Sejumlah estimasi pasar secara terpisah menunjukkan bahwa para pemilik kapal kini harus membayar premi asuransi risiko perang untuk lambung kapal (hull war-risk premium) sekitar 5 persen dari nilai kapal untuk pelayaran yang melintasi Selat Hormuz, dengan tingkat premi tersebut mulai menjadi norma baru di pasar.

BACA JUGA  Pemkot Surabaya Ajak Komunitas Ramaikan SUBEC Creative Hub

Premi asuransi risiko perang sebelumnya sempat turun menjadi sekitar 2 persen setelah penandatanganan MoU antara AS dan Iran, yang untuk sementara meredakan permusuhan. Namun, pada tahap awal konflik, premi itu sempat melonjak hingga sekitar 10 persen sebelum kemudian kembali menurun.

Roberts mengatakan bahwa jumlah permintaan informasi dari para pemilik kapal dan pialang asuransi meningkat setelah MoU diumumkan, yang mencerminkan ekspektasi terhadap membaiknya kondisi keamanan.

Namun, sumber-sumber pasar secara terpisah menyebutkan bahwa serangan terhadap tiga kapal komersial pada pekan ini telah membalikkan tren tersebut, sehingga kembali mendorong kenaikan biaya asuransi.

Mengenai prospek ke depan, Roberts mengatakan bahwa tingkat premi akan tetap sangat sulit diprediksi.

BACA JUGA  Singapura Puncaki Peringkat Pusat Maritim Global Selama 13 Tahun Berturut-turut

“Tingkat premi akan tetap sangat berfluktuasi, mengingat volatilitas yang masih terus terjadi,” tutur Roberts.

Kenaikan premi terbaru ini terjadi di tengah memanasnya kembali aksi saling serang antara AS dan Iran menyusul serangan terhadap kapal-kapal komersial di Selat Hormuz. Organisasi Maritim Internasional (International Maritime Organization/IMO) pada Rabu (8/7) menyarankan kapal-kapal untuk menghindari pelayaran melintasi jalur perairan strategis tersebut hingga keselamatan dan keamanan awak kapal dapat dipastikan.

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.