Akhirnya, kegagalan perundingan ini bukan sekadar soal diplomasi yang macet. Ia adalah cermin dari benturan cara pandang, antara yang ingin mengatur dan yang menuntut dihargai.
Oleh: Massayik IR
KEMPALAN: Ruang perundingan di Islamabad yang semula dipenuhi harapan, kini menyisakan gema kekecewaan. Setelah lebih dari dua puluh jam pembicaraan yang melelahkan, upaya damai antara Amerika Serikat dan Iran berakhir tanpa kesepakatan.
Seperti rapat RT yang molor sampai larut malam tapi tak menghasilkan keputusan apapun, pertemuan ini justru menegaskan betapa lebarnya jurang di antara kedua pihak.
Sejak awal, arah pembicaraan tampak tidak seimbang. Iran datang dengan membawa niat merajut kembali kepercayaan yang telah lama koyak. Di sisi lain, Amerika terlihat lebih sibuk menyusun syarat-syarat, seolah sedang menawarkan paket kredit yang bunganya sepihak.
Pertanyaannya sederhana: mungkinkah kepercayaan tumbuh jika salah satu pihak merasa hanya diberi pilihan “terima atau tinggalkan”?
Pernyataan Wakil Presiden AS, JD Vance, yang mengakui kegagalan ini dengan nada pesimistis, justru mempertegas suasana buntu.
Tawaran yang disebut sebagai “yang terbaik dan terakhir” itu ternyata tidak lebih dari suatu ultimatum yang dibungkus rapi. Dalam logika diplomasi, ini seperti menyuruh orang berdamai sambil tetap menodongkan jari – apakah itu benar-benar ajakan, atau sekadar tekanan yang diberi nama baru?
Iran, yang telah lama hidup dengan pengalaman pahit janji-janji yang tak ditepati, tampaknya memilih untuk tidak lagi membeli harapan kosong.
Dalam kehidupan sehari-hari, ini mirip dengan warga yang sudah berkali-kali dijanjikan perbaikan jalan kampung, tapi yang datang hanya tambal sulam menjelang pemilu. Sampai kapan kesabaran itu bisa diuji?
Kegagalan ini juga berdampak lebih luas. Ketegangan di Selat Hormuz kembali memanas, harga minyak merangkak naik, dan pasar global bereaksi seperti pedagang di pasar tradisional saat stok cabai langka – panik, spekulatif, dan serba tidak pasti.
Situasi ini menunjukkan bahwa konflik geopolitik tidak pernah benar-benar jauh dari dapur masyarakat biasa.
Namun di balik itu semua, ada pertanyaan yang lebih besar: apakah dunia masih bisa dijalankan dengan pola pikir lama? Amerika tampaknya masih beroperasi dengan paradigma dominasi tunggal, sementara Iran membaca realitas yang sudah berubah menjadi lebih beragam dan setara.
Ibarat orang yang masih memakai peta lama di kota yang sudah penuh jalan tol baru, arah yang diambil tentu mudah tersesat.
Apakah kegagalan ini berarti kembali ke titik awal? Tidak sesederhana itu. Titik awal mungkin sudah lama berlalu. Yang tersisa adalah medan baru dengan aturan yang juga berubah.
Dalam konteks ini, yang perlu dipikirkan bukan hanya siapa yang menang atau kalah, melainkan siapa yang mampu beradaptasi.
Dan di sinilah ironi itu muncul. Kala dunia bergerak menuju keseimbangan baru, justru ada pihak yang masih bersikeras berdiri di masa lalu. Seperti orang yang tetap antre di loket manual padahal semua sudah beralih ke aplikasi digital – bukan hanya lambat, tapi juga berisiko tertinggal jauh.
Akhirnya, kegagalan perundingan ini bukan sekadar soal diplomasi yang macet. Ia adalah cermin dari benturan cara pandang, antara yang ingin mengatur dan yang menuntut dihargai.
Dan selama keduanya tidak bertemu di titik yang sama, meja perundingan hanya akan menjadi panggung panjang tanpa akhir.
*) Massayik IR, Pemerhati Politik Internasional

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi