Rabu, 13 Mei 2026, pukul : 21:07 WIB
Surabaya
--°C

Ancaman IRGC dan Tekanan Eropa Hentikan Langkah Agresif Washington

Indikasi lain dari meredanya eskalasi terlihat dari absennya penerbangan pembom United States Air Force di wilayah Iran pada malam terakhir operasi.

Oleh: Massayik IR

KEMPALAN: Operasi militer bertajuk “Operation Epic Fury” yang mendadak dihentikan pemerintah Donald Trump, meninggalkan tanda tanya besar tentang arah strategi Amerika Serikat di kawasan Teluk.

Keputusan ini muncul setelah sejumlah negara Eropa – termasuk Prancis, Jerman, Italia, dan Inggris – telah memberikan sinyal keras terkait potensi penutupan pangkalan di masing-masing negara mereka bagi pesawat militer AS.

Dalam konteks perang yang terus memanas dengan Iran, langkah itu ibarat rem mendadak di tengah jalan tol yang masih lengang.

Sumber yang beredar menyebutkan, rencana yang diinisiasi oleh Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth untuk menguasai pulau-pulau strategis di Teluk Persia dianggap terlalu berisiko.

Kekhawatiran utama datang dari potensi respons Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC), yang diyakini mampu melumpuhkan infrastruktur minyak negara-negara Teluk.

Jika itu terjadi, bukankah dampaknya bisa seperti mematikan listrik satu pulau besar – gelapnya bukan hanya lokal, tapi merambat ke mana-mana?

Tekanan diplomatik Eropa pun tak bisa diabaikan. Negara-negara sekutu AS tersebut mengingatkan bahwa memperpanjang konflik hanya akan memperluas kerusakan dan meningkatkan ketidakpastian global.

Pertanyaannya, dalam situasi seperti ini, apakah Washington benar-benar siap menanggung efek domino yang mungkin lebih besar dari tujuan awal operasinya?

Dua target utama operasi ini juga (jelas) disebut belum tercapai. Pertama, pengambilan ratusan kilogram uranium dengan tingkat pengayaan tinggi di Isfahan.

Kedua, yaitu pembukaan jalur Selat Hormuz melalui invasi darat. Keduanya adalah target strategis, tetapi juga akan berisiko tinggi – seperti mencoba mengambil bola di tengah lapangan yang penuh ranjau.

Meski demikian, narasi resmi dari Washington tetap menampilkan operasi ini sebagai keberhasilan. Trump dan Hegseth disebut mencoba mengemas hasil operasi, termasuk serangan terhadap infrastruktur sipil Iran, sebagai capaian militer.

Namun, di tengah klaim tersebut, muncul pertanyaan: jika ini kemenangan, mengapa operasinya dihentikan sebelum tujuan tercapai?

Indikasi lain dari meredanya eskalasi terlihat dari absennya penerbangan pembom United States Air Force di wilayah Iran pada malam terakhir operasi.

Ini menjadi kali pertama sejak konflik dimulai, langit Iran relatif “sunyi” dari aktivitas udara AS. Sunyi yang justru berbicara banyak – tentang perubahan strategi, atau mungkin tentang perhitungan ulang yang terlambat.

*) Massayik IR, Pemerhati Politik Internasional

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.